SILATURAHMI KEPADA SAUDARA YANG MUSYRIK

421
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

عن ابْن عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قال: رَأَى عُمَرُ رضي الله عنه حُلَّةَ سِيَرَاءَ تُبَاعُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْتَعْ هَذِهِ وَالْبَسْهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَإِذَا جَاءَكَ الْوُفُودُ. قَالَ: إِنَّمَا يَلْبَسُ هَذِهِ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ، فَأُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا بِحُلَلٍ فَأَرْسَلَ إِلَى عُمَرَ بِحُلَّةٍ فَقَالَ: كَيْفَ أَلْبَسُهَا وَقَدْ قُلْتَ فِيهَا مَا قُلْتَ قَالَ: إِنِّي لَمْ أُعْطِكَهَا لِتَلْبَسَهَا وَلَكِنْ تَبِيعُهَا أَوْ تَكْسُوهَا، فَأَرْسَلَ بِهَا عُمَرُ إِلَى أَخٍ لَهُ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ قَبْلَ أَنْ يُسْلِمَ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata, “Umar radhiyallahu anhu pernah melihat baju sutra yang bercorak dijual, lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, alangkah bagusnya seandainya anda membelinya untuk anda pakai berkhotbah pada Hari Jumat dan di saat menerima para utusan.’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, ‘Orang yang memakai pakaian sutra ini hanyalah yang tidak mendapat bagian (di akhirat).’ Tidak berapa lama setelah itu Nabi shallallahu alaihi wasallam diberi seseorang beberapa helai pakaian di antaranya kain sutra. Lalu beliau kirimkan sehelai kain sutra kepada Umar. Maka Umar bertanya, ‘Ya Rasulullah! Bagaimana anda menyuruhku untuk memakai baju sutra ini? Bukankah  anda telah berkata kepadaku tentang (hukum mengenakan) baju ini?’ Beliau menjawab, ‘Aku tidak mengirimkannya kepadamu untuk kamu pakai, namun untuk kamu jual atau kamu pakaikan kepada orang lain’. Umar lalu memberikan kain itu kepada saudaranya yang masih musyrik di kota Makkah.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya, kitab al-Adab, bab Bersilaturahmi kepada Saudara yang Musyrik, no. 5981, juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, kitab al-Libas wa al-Zinah, bab Haramnya Menggunakan Bejana Emas dan Perak, no. 2068.

Biografi Sahabat Perawi Hadis:

Lihat: https://markazsunnah.com/abdullah-bin-umar-teladan-para-pencinta-sunah/

Faedah dan Kesimpulan:

  1. Perhatian dan penghormatan yang begitu besar dari Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
  2. Bolehnya murid atau bawahan memberikan usulan kepada guru atau atasannya terhadap sesuatu yang dipandangnya baik dan maslahat.
  3. Anjuran mengenakan pakaian yang terbaik pada salat Jumat.(1)
  4. Anjuran menyambut tamu dan utusan dengan penampilan yang terbaik.
  5. Maksud dan tujuan yang baik tidak boleh menghalalkan cara dan perbuatan.
  6. Haramnya mengenakan pakaian yang terbuat dari sutra bagi kaum lelaki.
  7. Ada beberapa hal yang diharamkan bagi laki-laki namun dihalalkan bagi kaum wanita demikian pula sebaliknya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

حُرِّمَ لِبَاسُ الحَرِيرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ

“Pakaian sutra dan emas diharamkan bagi umatku yang laki-laki dan dihalalkan bagi yang perempuan.”(2)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُورًا فَلَا تَشْهَدْ مَعَنَا الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ

“Siapa pun wanita yang memakai parfum, maka janganlah dia hadir salat berjemaah bersama kami pada saat Salat Isya.”(3)

  1. Kehidupan yang bahagia di akhirat hanya diperuntukkan bagi hamba Allah azza wajalla yang senantiasa taat dalam menjalankan hukum-hukum syariat. Barang siapa yang bersabar dalam ketaatan dan meninggalkan larangan di dunia maka dia akan mendapatkan balasan yang lebih baik di akhirat dan demikian pula sebaliknya. Allah subhanahu wataala berfirman,

وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا

Allah azza wajalla memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (di dunia) berupa surga dan (pakaian) sutra.” [Q.S. Al-Insan: 12]

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ لَبِسَ الْحَرِيرَ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِي الْآخِرَةِ

Barang siapa (laki-laki) yang memakai kain sutra ketika di dunia, maka dia tidak akan memakainya di akhirat kelak.”(4)

  1. Anjuran saling hadiah menghadiahkan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

تَهادُوا تَحابُوا

“Saling hadiah menghadiahkanlah niscaya kalian saling mencintai”(5)

  1. Disunahkan menerima hadiah dari seseorang walaupun bukan kita yang akan memanfaatkannya secara langsung.
  2. Suatu hadiah yang kita dapatkan dari seseorang boleh kita hadiahkan kepada orang lain.
  3. Bolehnya bertanya atau minta penjelasan kepada seorang alim jika ada perbuatannya yang seakan-akan bertentangan dengan pernyataannya.
  4. Sesuatu yang haram digunakan oleh sebagian orang maka boleh dijual atau dihadiahkan kepada yang halal menggunakannya.
  5. Bolehnya memberi hadiah kepada keluarga yang kafir atau musyrik sebagai bentuk silaturahmi kepadanya dan juga sebagai wasilah dakwah untuk menjadikannya tertarik pada agama ini.
  6. Menurut Ibnu Hajar rahimahullah nama dari saudara Umar bin Khattab radhiyallahu anhu ini adalah Usman bin Hakim, saudara seibu dari Umar.(6) Teks hadis ini mengisyaratkan bahwa Usman bin Hakim akhirnya masuk Islam.(7)
  7. Hadis ini menjadi dalil bagi sebagian ulama kita bahwa orang kafir hanya terbebani dengan perintah pokok yaitu perintah untuk bertauhid. Adapun hukum-hukum syariat lainnya mereka tidak terbebani dan tidak akan dipertanyakan tentangnya di hari kiamat. Namun ulama lain menjelaskan bahwa ketika Umar radhiyallahu anhu menghadiahkan kepada saudaranya yang masih musyrik pakaian sutra bukan berarti sutra halal bagi orang kafir atau musyrik karena boleh jadi tujuannya untuk diberikan juga kepada yang boleh menggunakannya dari kalangan wanita. Wallahu a’lam.

Footnote:

(1) Lihat: https://markazsunnah.com/beberapa-persiapan-menghadiri-salat-jumat/

(2) H.R. Tirmidzi (no. 1720), Nasai (no. 5148) dan Ahmad (no. 19502) dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu anhu. Hadis ini menurut al-Tirimidzi hadis hasan sahih, lihat Sunan al-Tirmidzi (4/217) dan disahihkan oleh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil (1/ 305).

(3) H.R. Muslim (no. 444) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu.

(4) H.R. Bukhari (no. 5832) dan Muslim (no. 2073) dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu.

(5) H.R. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 594) dan dinilai hasan oleh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil (6/ 44)  dan Shahih al-Adab al-Mufrad (hal. 221).

(6) Lihat: Fath al-Bari (1/ 286).

(7) Lihat: al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj (14/ 39)

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments