BEBERAPA PERSIAPAN MENGHADIRI SALAT JUMAT

327
Perkiraan waktu baca: 4 menit
image_pdfUnduh PDF

Hari Jumat adalah hari raya umat Islam yang datang setiap pekannya. Oleh karena itu, kedatangannya patut disambut dengan suka cita dan melaksanakan beberapa hal dalam menyambut serta memuliakannya. Dalam edisi Jumat lalu kami telah menyebutkan dan menjelaskan hadis-hadis yang berkaitan dengan persiapan menyambut serta memuliakan Hari Jumat dengan cara mandi. Pada edisi kali ini kami akan sebutkan beberapa hadis yang menerangkan tentang adab dan persiapan lain yang seharusnya kita lakukan sebelum menghadiri salat Jumat.

Pertama: Menunda makan dan tidur siang

عَنْ سَهْلٍ بن سعد رضي الله عنه قَالَ: مَا كُنَّا نَقِيلُ، وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَة

Dari Sahl bin Saad radhiyallahu anhuma ia berkata, “Kami dahulu (pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) tidak tidur siang dan tidak pula makan siang kecuali setelah menunaikan Salat Jumat.” [H.R. Bukhari (no. 939) dan Muslim (no. 859)]

Fikih dan Faedah Hadis:

  1. Perhatian dan pengagungan para sahabat ridhwanullahi alaihim jamian terhadap Salat Jumat.
  2. Qailulah (istirahat siang) dan ghada (makan siang) adalah dua hal yang dikenal dan dicontohkan oleh para sahabat sejak zaman Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.
  3. Ibnu Al-Atsir berkata, “Qailulah adalah beristirahat di pertengahan siang walaupun tidak disertai dengan tidur.”(1)
  4. Para sahabat ridhwanullahi alaihim jamian mengundur waktu istirahat dan makan siang setelah Salat Jumat agar dapat menghadirinya di awal-awal waktu dan tidak terlambat.
  5. Kebiasaan para sahabat istirahat dan makan siang umumnya sebelum salat Zuhur selain hari Jumat.(2)

Kedua: Bersiwak atau menggosok gigi

عن أَبِي سَعِيدٍ الخدري رضي الله عنه قَالَ: أَشْهَدُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الغُسْلُ يَوْمَ الجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ، وَأَنْ يَسْتَنَّ، وَأَنْ يَمَسَّ طِيبًا إِنْ وَجَدَ»

Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu berkata, “Aku bersaksi atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda, ‘Mandi pada Hari Jumat merupakan kewajiban bagi orang yang sudah bermimpi basah (balig), dan menggosok gigi serta memakai wewangian bila ada.’” [H.R. Bukhari (no. 880) dan Muslim (no. 846)]

Fikih dan Faedah Hadis:

  1. Hadis ini merupakan salah satu dalil bagi ulama yang mewajibkan Salat Jumat. Rincian masalah ini telah dibahas pada edisi sebelumnya.
  2. Perintah mandi bagi yang telah balig dan akan melaksanakan Salat Jumat.
  3. Perintah mandi bagi yang balig menunjukkan mandi Jumat adalah bagian dari ibadah.
  4. Dianjurkannya menggosok gigi pada Hari Jumat dan hal ini telah disepakati oleh para ulama dari seluruh mazhab.(3)
  5. Anjuran memakai parfum.

Ketiga: Memakai parfum

عَنْ رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَسَوَّكُ وَيَمَسُّ مِنْ طِيبٍ إِنْ كَانَ لِأَهْلِهِ

Dari seorang laki-laki dari kalangan Ansar, salah seorang sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Kewajiban bagi setiap muslim adalah mandi pada hari Jumat, bersiwak dan memakai wangi-wangian jika keluarganya memilikinya.” [H.R. Ahmad (no. 16398) dan dinyatakan sahih oleh Syuaib Al-Arnauth dalam tahkik Musnad Ahmad (26/ 323)]

Fikih dan Faedah Hadis:

  1. Hadis ini juga salah satu dalil kewajiban mandi Jumat dan telah dirinci pembahasan hukumnya pada edisi Jumat lalu.
  2. Anjuran bersiwak.
  3. Anjuran memakai wewangian untuk Salat Jumat sejak dari rumah.
  4. Ibnu Abdilbarr berkata, “Dari Nafi’ dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma bahwa beliau tidak berangkat Salat Jumat kecuali telah memakai wewangian di kepala dan badannya kecuali apabila sedang ihram. Hal ini adalah sunah yang diamalkan oleh para ulama.”(4)

Keempat: Mengkhususkan pakaian untuk Salat Jumat

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما: أَنَّ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ رضي الله عنه، رَأَى حُلَّةً سِيَرَاءَ عِنْدَ بَابِ المَسْجِدِ، فَقَالَ: يَا   رَسُولَ اللَّهِ لَوِ اشْتَرَيْتَ هَذِهِ، فَلَبِسْتَهَا يَوْمَ الجُمُعَةِ وَلِلْوَفْدِ إِذَا قَدِمُوا عَلَيْكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا يَلْبَسُ هَذِهِ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ فِي الآخِرَةِ، ثُمَّ جَاءَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا حُلَلٌ، فَأَعْطَى عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، مِنْهَا حُلَّةً، فَقَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَسَوْتَنِيهَا وَقَدْ قُلْتَ فِي حُلَّةِ عُطَارِدٍ مَا قُلْتَ؟ قَالَ   رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي لَمْ أَكْسُكَهَا لِتَلْبَسَهَا، فَكَسَاهَا عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَخًا لَهُ بِمَكَّةَ مُشْرِكًا

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma bahwa Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu melihat pakaian sutra di dekat pintu masjid, maka dia pun berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya tuan beli pakaian ini lalu tuan kenakan pada Hari Jumat dan saat menyambut utusan (delegasi) bila datang menghadap tuan.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu menjawab, “Sesungguhnya orang yang memakai pakaian seperti ini hanyalah yang tidak mendapat bagian di akhirat.” Kemudian datang hadiah untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang di antaranya ada pakaian sutra. Beliau lalu memberikan pakaian sutra tersebut kepada Umar bin Al-Khaththab radhiallahu anhu, maka berkatalah Umar, “Wahai Rasulullah, tuan telah memberikan pakaian ini untukku, padahal tuan telah menjelaskan konsekuensi orang yang memakainya?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Aku memberikannya kepadamu bukan untuk kamu pakai.” Maka Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu memberikan pakaian sutra tersebut kepada saudaranya yang musyrik di Kota Makkah.” [H.R. Bukhari (no. 886) dan Muslim (no. 2068)]

Fikih dan Faedah Hadis:

  1. Bolehnya berjualan di dekat masjid.
  2. Bolehnya murid atau bawahan memberikan usulan kepada guru atau atasannya terhadap sesuatu yang dipandangnya baik dan maslahat.
  3. Keutamaan Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu.
  4. Anjuran memakai pakaian terbaik untuk Salat Jumat dan pada saat menerima tamu dan delegasi terhormat.
  5. Pakaian sutra haram bagi laki-laki.
  6. Maksud dan tujuan yang baik tidak boleh menghalalkan cara.
  7. Siapa yang memakai pakaian sutra di dunia dari kalangan laki-laki maka terancam tidak akan mendapatkan bagian tersebut di akhirat.
  8. Disyariatkannya menerima hadiah walaupun tidak dimanfaatkan sendiri.
  9. Bolehnya seseorang menghadiahkan apa yang diterimanya dari hadiah.
  10. Disyariatkan saling hadiah menghadiahkan.
  11. Bolehnya menghadiahkan kepada seseorang sesuatu yang mungkin penerima tidak memanfaatkaannya sendiri.
  12. Bolehnya bertanya kepada guru atau pimpinan tentang sesuatu yang kelihatannya bertentangan dengan penyampaiannya sebelumnya.
  13. Sepatutnya seorang guru atau pimpinan dapat menjelaskan dengan baik apa yang dipertanyakan oleh murid atau bawahannya.
  14. Bolehnya memberikan hadiah kepada orang kafir atau musyrik dengan tujuan dakwah dan mendekatkan dirinya kepada Islam atau maslahat lainnya.
  15. Perbedaan agama tidak menghalangi untuk bersilaturahmi antara keluarga dengan batasan-batasannya.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ رضي الله عنه، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ: مَا عَلَى أَحَدِكُمْ لَوِ اشْتَرَى ثَوْبَيْنِ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ، سِوَى ثَوْبِ مِهْنَتِهِ

Dari Abdullah bin Salam radhiyallahu anhu bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda di atas mimbar pada hari Jumat, “Apa susahnya jika seseorang dari kalian membeli pakaian sepasang untuk Hari Jumat selain baju kerjanya.” [H.R. Abu Daud (no. 1078) dan Ibnu Majah (no. 1095) serta lafaz hadis ini sesuai periwayatannya. Hadis ini dinyatakan sahih oleh Albani dalam Shahih wa Dhaif Ibn Majah (3/ 95)]

Fikih dan Faedah Hadis:

  1. Perhatian dan kesungguhan para sahabat di antaranya Abdullah bin Salam radhiyallahu anhu dalam menukil dan menyebarkan materi khotbah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
  2. Disyariatkannya berkhotbah di atas mimbar.
  3. Di antara materi khotbah yang pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah adab-adab dalam menghadiri Salat Jumat khususnya dalam berpakaian.
  4. Sepantasnya seorang muslim siap membelanjakan hartanya untuk peningkatan kualitas ibadahnya,
  5. Dianjurkan ada pakaian khusus terbaik yang dikenakan di Hari Jumat.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَرَأَى عَلَيْهِمْ ثِيَابَ النِّمَارِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا عَلَى أَحَدِكُمْ إِنْ وَجَدَ سَعَةً أَنْ يَتَّخِذَ ثَوْبَيْنِ لِجُمُعَتِهِ سِوَى ثَوْبَيْ مِهْنَتِهِ

Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Pada hari Jumat Nabi shallallahu alaihi wasallam berkhotbah di hadapan para sahabat, beliau melihat mereka mengenakan baju wol yang bergaris-garis (pakaian bekerja), maka beliau bersabda, ‘Apa susahnya jika salah seorang kalian mendapatkan kemudahan mengambil (membeli) dua baju untuk Jumatnya selain baju kerja.’” [H.R. Ibnu Majah (no. 1096)  dan dinyatakan sahih oleh Albani dalam At-Ta’liqat Al-Hisan ‘ala Shahih Ibn Hibban (4/ 373)]

Fikih dan Faedah Hadis:

  1. Sepatutnya bagi khatib memberikan perhatian kepada jemaahnya untuk memberikan pengarahan kepada mereka sesuai dengan keadaannya.
  2. Sebagian sahabat dahulu menghadiri Salat Jumat dengan pakaian kerja mereka.
  3. Barang siapa memiliki kelapangan harta seharusnya mengalokasikan sebagiannya untuk peningkatan kualitas ibadahnya.

Footnote:

(1) An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits (4/ 133).

(2) Lihat: Ahadits Al-Jumu’ah (hal. 190).

(3) Lihat: Hasyiah Ibn Abidin (2/ 168), Mawahib Al-Jalil (2/ 535), Al-Majmu’ (4/ 537) dan Al-Mughni (2/ 259)

(4) Al-Istidzkar (2/ 48)

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments