AISYAH, AHLI HADIS UMAT ISLAM DARI KALANGAN WANITA

729
Ahli Hadis Dari Kalangan Wanita
Perkiraan waktu baca: 4 menit
image_pdfUnduh PDF

Nama, Nasab dan Kuniyah

Nama lengkapnya adalah Aisyah binti Abu Bakar Abdullah bin Abu Quhafah Usman bin Amir bin Amr bin Kaab bin Saad bin Taim bin Murrah bin Kaab bin Luai al-Qurasyiah al-Taimiah. Ibunya bernama Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Abd Syams al-Kinaniyah. Kuniyah-nya adalah Ummu Abdullah yang diberi langsung oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan bahwa Aisyah lahir di Mekah, sekitar empat atau lima tahun setelah nubuat Nabi Muhammad (1). Beliau tumbuh dan berkembang dalam rumah imani.

Pernikahan dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Beliau dinikahi oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika berusia 6 tahun. Pernikahannya berlangsung pada dua tahun sebelum hijrah, namun Nabi shallallahu alaihi wasallam baru berkumpul dan menggauli Aisyah radiyallahu anha di usia 9 tahun.  Data dan informasi ini diceritakan langsung oleh Aisyah radiyallahu anha(2).

Kecerdasan Aisyah dan Perhatiannya Terhadap Hadis

Aisyah radiyallahu anha adalah wanita yang sangat cerdas, beliau langsung mengambil ilmu dari sumbernya yaitu Nabi shallallahu alaihi wasallam. Oleh karenanya, banyak dari para sahabat ataupun tabiin yang bertanya dan meminta fatwa dari beliau. Penuturan Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu anhu yang menggambarkan kecerdasan Aisyah radiyallahu anha, beliau berkata, “Tidaklah ada suatu permasalahan yang kami para sahabat hadapi dalam memahami hadis, lalu kami tanyakan kepada Aisyah, kecuali kami mendapatkan ilmu tentang hadis tersebut.”(3)

Keberadaan Aisyah radiyallahu anha di rumah nubuwah menjadikan beliau termasuk di antara sahabat yang banyak meriwayatkan hadis.  Beliau meriwayatkan 2210 hadis(4) dan berada pada urutan keempat dari kalangan sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadis dan Aisyah radiyallahu anha satu-satunya wanita dari kalangan sahabat yang meriwayatkan lebih dari seribu hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Aisyah radiyallahu anha memiliki kelebihan dibandingkan para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lainnya. Sebagian besar hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah adalah apa yang beliau dengarkan langsung dari mulut Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Selain mendengarkan hadis, beliau juga sangat bersemangat dalam menyampaikan apa yang beliau dengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, di mana sekiranya beliau tidak menyampaikannya, tentu ada bagian yang cukup besar dari hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam yang tidak sampai kepada kita, khususnya hadis-hadis yang berkaitan dengan kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di rumah ketika bersama dengan keluarganya.

Guru dan Murid Aisyah radhiyallahu anha

Tentu saja guru beliau yang paling utama adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau juga mengambil ilmu dari beberapa sahabat senior seperti bapaknya sendiri yaitu Abu Bakar al-Shiddiq radhiyallahu anhu dan Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu.

Adapun murid beliau dan yang meriwayatkan dari Aisyah radiyallahu anha adalah Abdullah bin Zubair, Urwah bin Zubair, Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Masruq bin al-Ajda’, Amrah binti Abdurrahman, Hafsah binti Sirin, Aisyah binti Thalhah, Muadzah al-Adawiyah dan masih banyak lagi.

Kecintaan Rasulullah kepadanya

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memiliki banyak istri, namun di antara istri yang paling beliau cintai adalah Aisyah radhiyallahu anha.

Amr bin al-‘Ash radhiyallahu anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Siapa orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” Ditanya lagi, “Kalau dari laki-laki?” Beliau menjawab, “Ayahnya (yaitu Abu Bakar al-Shiddiq).”(5)

Kedermawanan Aisyah radhiyallahu anha

Beliau pernah memberikan makanan satu-satunya yang beliau miliki, hanya untuk seseorang yang datang ke rumahnya untuk meminta makanan. Aisyah radiyallahu anha lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Potret kedermawanan beliau dikisahkan dalam hadis yang diriwayatkan al-Bukhari, “Ada seorang wanita datang kerumahku dengan membawa dua putrinya lalu dia meminta makan kepadaku, sedangkan aku tidak memiliki sesuatu kecuali kurma, lalu aku berikan kepadanya, maka wanita itu membagi kurma untuk kedua putrinya, kemudian dia pulang. Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam masuk ke dalam rumah dan aku bercerita tentang kejadian tersebut, lalu beliau bersabda,

مَنْ يَلِي مِنْ هَذِهِ البَنَاتِ شَيْئًا، فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ، كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

‘Barang siapa yang diserahi anak perempuan, lalu ia mendidiknya dengan baik, anak-anak mereka itu menjadi penghalang dirinya dari api neraka’.”(6)

Sifat Malu dan Menjaga Hijab

Aisyah radiyallahu anha sangat memperhatikan masalah hijab walau di depan seorang yang buta sekalipun. Bahkan di depan orang yang sudah meninggal (di dalam kuburan), Aisyah tetap menjaga komitmen tersebut. Seorang tabiin buta pernah masuk ke rumahnya, kemudian beliau mengenakan hijabnya, lalu dia ditanya mengapa mengenakan hijab di hadapannya padahal ia buta? Aisyah menjawab, “Meskipun engkau tidak melihatku, aku bisa melihatmu.”(7)

Di kesempatan lain, Aisyah menceritakan, “Dulu saya masuk ke rumahku yang di dalamnya Rasulullah shallaallahu alaihi wa sallam beserta ayahku dikuburkan. Saya menaruh kainku dan berkata, ‘Sesungguhnya, dia adalah suamiku dan ayahku. Ketika Umar dikubur bersama mereka, demi Allah aku tidak memasukinya (rumah) melainkan aku tebalkan kainku karena malu kepada Umar’.”(8)

Wafatnya

Aisyah radiyallahu anha mengalami sakit di akhir hayatnya, yang membuat beliau menghabiskan sisa umurnya di atas pembaringan. Beliau wafat di pada malam Selasa tanggal 17 Ramadan di tahun 57 H dalam usia 67 tahun dan dikuburkan pada malam hari di pekuburan Baqi’, sesuai wasiat beliau.

Sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu anhu,  bertindak sebagai imam pada saat salat jenazah beliau. Sedangkan yang turun ke liang lahat saat penguburan ada lima orang, semuanya keponakan beliau yaitu Abdullah bin Zubair, Urwah bin Zubair, Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar dan Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Bakar(9).

Wallahu a’lam.

Referensi:

  1. Al-Bidayah wa al-Nihayah, karya Imam Ibnu Katsir, Daar Hajr, Cetakan I tahun 1418 H, Tahqiq: Abdullah bin Abdul Muhsin al-Turki.
  2. Al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, Cetakan I tahun 1415 H, Tahqiq: Ali Muhammad Al-Muawwadh dan Ali Ahmad Abdul Maujud.
  3. Tahdzib al-Tahdzib, karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, Mathba’ah Dairah Al-Ma’arif al-Nizhamiyah, India, Cetakan I tahun 1326 H.
  4. Al-Thabaqat al-Kubra, karya Muhammad bin Saad, Daar Shadir, Beirut.
  5. Ihkam al-Nazhar fi Ahkam al-Nazhar, karya Abul Hasan Ibn Al-Qaththan, Daar al-Qalam, Damaskus, Cetakan I tahun 1433 H, Tahqiq: Idris al-Shamadi.
  6. Siyar A’lam An-Nubala, karya Imam al-Dzahabi, Muassah al-Risalah, Beirut, Cetakan III tahun 1405 H, Tahqiq: Syuaib al-Arnauth dll.

Footnote:

(1) Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah (8/ 231)

(2) Lihat: Shahih Al-Bukhari, kitab Manaqib Al-Anshar, bab Tazwij An-Nabi Aisyah, no. 3894 dan Shahih Muslim, kitab An-Nikah, bab Tazwij Al-Ab al-Bikr Ash-Shaghirah, no. 1422

(3) H.R. Tirmidzi, Abwab Al-Manaqib ‘an Rasulillah shallallahu alaihi wasallam, bab Min Fadhli Aisyah radhiyallahu anha, no. 3883

(4) Lihat: Siyar A’lam An-Nubala (2/ 139)

(4) Lihat: Tahdzib At-Tahdzib (12/ 435)

(5) HR. Bukhari, no. 3662 dan Muslim, no. 2384

(6) H.R. Bukhari, no. 5995 dan Muslim, no. 2629

(7) Diriwayatkan oleh Ibn Saad dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra (8/ 69), lihat juga: Ihkam An-Nazhar fi Ahkam An-Nazhar (hal. 428)

(8) Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (no. 25660)

(9) Al-Bidayah wa An-Nihayah (11/ 343)

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments