PERAWI ISLAM, ABU HURAIRAH

355
Perkiraan waktu baca: 4 menit
image_pdfUnduh PDF

Nama, Kuniyah, Nasab dan Nisbahnya

Beliau adalah Abu Hurairah ‘Abdurrahman bin Shakhr al-Dausy al-Yamany radiyallahu ‘anhu. Ada banyak pendapat lainnya yang disebutkan oleh  para ulama perihal nama beliau dan nama ayahnya. Di antaranya bahwa nama beliau sebelum memeluk agama Islam adalah ‘Abdusy Syams yang bermakna penyembah matahari, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengganti namanya menjadi ‘Abdullah. Sedangkan nama ayahnya disebutkan bernama ‘Amir, namun riwayat yang lebih masyhur dan paling rajih bahwa nama beliau adalah ‘Abdurrahman bin Shakhr sebagaimana disebutkan oleh al-Hafidz al-Dzahabi rahimahullah dalam Siyar A’lam An-Nubalaa.[i]

Beliau berasal dari negeri Yaman, suku Daus, sehingga nisbah beliau adalah al-Yamany al-Dausy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Abu Hurairah, “Engkau berasal dari mana?” Beliau menjawab, “Aku berasal dari suku Daus.” Rasulullah memberi kabar baik dengan sabdanya, “Aku tak pernah menyangka sebelumnya bahwa akan ada seseorang yang memiliki kebaikan sepertimu dari suku Daus.”

Abu Hurairah pernah berkata kepada para sahabat, “Mengapa kalian memanggilku dengan kuniyah Abu Hurairah, padahal Rasulullah telah memanggilku dengan sebutan Abu Hirr?” Para sahabat radiyallahu ‘anhum memang lebih sering memanggil beliau dengan julukan Abu Hurairah, sebab beliau punya kebiasaan bermain dengan beberapa anak kucing peliharaannya selagi ia menggembalakan kambing-kambing milik keluarganya. 

Keislamannya

Beliau telah memeluk agama Islam semenjak masih berada di negeri Yaman. Keislaman beliau terjadi setelah pulangnya pemimpin suku Daus, Thufail bin ‘Amr, dari kota Madinah dan menyebarkan Islam di negeri Yaman. Pada tahun ketujuh hijriyah, Abu Hurairah akhirnya melakukan hijrah ke kota Madinah untuk berbakti terhadap agama Allah subhanahu wata’ala.

Ketika beliau datang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat telah berangkat menuju peperangan di Khaibar. Kota Madinah yang saat itu sedang kosong dan diamanahkan kepada sahabat Siba’ bin ‘Urfuthah menjadi imam salat Rawatib di masjid Nabawi. Abu Hurairah tiba tepat ketika salat Subuh didirikan. Ketika itu, Siba’ membaca surah Maryam pada rakaat pertama dan surah al-Muthaffifin pada rakaat kedua. Usai melaksanakan salat, Abu Hurairah bergumam, “Celakalah ayahku, karena sangat sedikit dari pedagang di kampung melainkan mereka pasti memiliki dua timbangan penakar, satu untuk keuntungan dirinya, dan yang satu dipakai untuk menipu para pembeli.”

Bentuk Fisik, Akhlak, dan Kehidupannya

Beliau adalah seorang yang berperawakan baik dan lembut, tubuhnya bidang, rambutnya dikepang dua, janggutnya berwarna merah semir. Dilihat dari keadaannya, setiap orang akan tahu bahwa beliau adalah orang yang tidak memiliki harta. Beliau memang hijrah ke kota Madinah dengan membawa bekal seadanya saja sebab azam yang membulatkan tekadnya untuk hijrah adalah menuntut ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara bekal yang beliau bawa adalah seorang budak yang seyogyanya akan beliau jual, namun di tengah perjalanan budak itu melarikan diri darinya.

Rumah beliau adalah masjid Nabawi, ia tinggal bersama kurang lebih 70 orang ahlu al-suffah di dalamnya. Beberapa kali ia menggeliat bak orang gila atau kesurupan di antara mimbar Rasulullah dengan rumah ‘Aisyah atau yang dikenal dengan raudhah saat ini. Sahabat yang melihatnya kadang duduk di atas dadanya hendak membacakan ayat-ayat ruqyah kepadanya, lantas Abu Hurairah lekas mendongak dan berkata, “Aku seperti ini karena rasa laparku.”

Guru-gurunya

Tentu saja guru beliau yang paling mulia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Guru dari seluruh guru, penghulu para Nabi dan Rasul Allah subhanahu wata’ala.

Hidup di masjid Nabawi memiliki keutamaan yang sangat besar bagi beliau. Beliau dapat mengikuti majelis-majelis ilmu Rasulullah, mendengarkan arahan dan nasehatnya, serta bertanya kepada Rasulullah. Namun beliau tidak membatasi diri dengan hanya menimba ilmu dari Rasulullah, sebab telah lewat masa perjuangan yang panjang dalam sejarah Islam sedang Abu Hurairah tak berada di sana. Maka selama empat tahun hidup bersama Rasulullah, Abu Hurairah terus fokus mempelajari Al-Qur’an dan hadis, serta bertanya kepada para sahabat senior seperti Abu Bakar, Umar, Ubay bin Ka’ab, Usamah bin Zaid, ‘Aisyah, al-Fadhl bin ‘Abbas, Bashrah bin Abi Bashrah, dan Ka’ab al-Habr. Hingga beliau mendulang ilmu yang lebih banyak dibandingkan sahabat lainnya bahkan tak seorangpun melebihi ilmu beliau.

Murid-muridnya

Dengan membawa ilmu yang sangat banyak tersebut maka bukan sebuah hal yang mengherankan apabila beliau menjadi menara ilmu yang dituju oleh para sahabat sendiri dan tabiin yang datang setelah mereka. Berkata Imam Bukhari rahimahullah, “Jumlah murid beliau melebihi 800 orang.”

Menuntut Ilmu dan Khidmat Kepada Hadis

Abu Hurairah juga digelar sebagai “Rawiyatul Islam” atau perawi agama Islam karena beliau meriwayatkan hadis yang sangat banyak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan terbanyak dari seluruh sahabat dengan jumlah 5.374 hadis. Menjadi tongkat estafet pertama yang menukilkan secara langsung syariat Islam dan secara khusus hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para ulama yang datang setelahnya. Tentu saja hal ini adalah khidmat dan kontribusi terbesar yang pernah dilakukan oleh seorang ulama hadis.

Para sahabat sendiri merasa keheranan dengan hafalan hadis yang dimiliki oleh Abu Hurairah. Beliau menjelaskan, “Bahwa ketika orang-orang Muhajirin sibuk dengan ladang mereka, dan orang-orang Anshar sibuk dengan perniagaan mereka, di waktu yang sama aku justru sibuk dengan hadis Rasulullah, aku hadir dalam majelis beliau di saat mereka tak ada.” Memang semangat beliau dalam menuntut ilmu tidak ada duanya, hingga Rasulullah mempersaksikan hal tersebut ketika Abu Hurairah bertanya kepada beliau tentang orang yang paling berbahagia dengan syafaatnya, maka Rasulullah bersabda, “Sungguh Aku telah mengira wahai Abu Hurairah bahwa tidak akan ada seorangpun yang mendahuluimu untuk bertanya tentang hal tersebut karena semangatmu dalam mempelajari ilmu Hadis. Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku kelak pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan kalimat tauhid, tulus ikhlas dari dirinya.”[ii]

Abu Hurairah yang miskin dan memfokuskan dirinya pada ilmu dengan menghafal serta murajaah di masjid Nabawi juga mendapatkan karunia doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mustajab. Seperti permintaan Abu Hurairah kepada Rasulullah untuk diajarkan ilmu yang diberikan Allah kepadanya, lalu Rasulullah menyobek sedikit kain pakaian Abu Hurairah dan membentangkannya, kemudian Rasulullah menyampaikan sebuah kalimat untuk dihapalkan Abu Hurairah, keesokan harinya Abu Hurairah dapat menghapal semua hadis Rasulullah tanpa kesalahan sedikitpun.

Berdasarkan doa Rasulullah tersebut, para ulama menjadikan ajaibnya kekuatan hafalan Abu Hurairah sebagai salah satu bukti kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wafatnya

Di akhir hidupnya, setelah mengorbankan begitu banyak pengorbanan dan khidmat terhadap agama Islam, Abu Hurairah jatuh sakit dan meninggal pada tahun 57 H di kota Madinah, dan dikuburkan di pekuburan Baqi’.

[i] Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Al-Dzahabi, Siyar A’lam Al-Nubala, jilid 5 (Cet. III; Beirut: Muassasah Al-Risalah, 1405 H), h. 578.

[ii] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Sahih Al-Bukhari, jilid 1 (Cet. I; Dar Thauq Al-Najah, 1422 H), h. 31.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments