PERISAI BAGI ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU ‘ANHU

659
Perkiraan waktu baca: 11 menit
image_pdfUnduh PDF

Salah satu cacat manhaj yang di miliki oleh para pengusung pemikiran yang menyimpang adalah “alergi” terhadap hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Aneka ragam dalih yang disampaikan, namun muaranya adalah satu yaitu menolak keabsahan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai referensi hukum, baik penolakan kepada hadis secara mutlak, seperti kelompok yang disematkan julukan “Qura’niyun” atau “Inkarus Sunnah“, yang mentahbiskan Al-Quran sebagai satu-satunya referensi hukum, maupun penolakan kepada hadis secara parsial, seperti kelompok yang menolak hadis ahad sebagai hujah, ataupun penolakan terhadap hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tertentu.

Di antara sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang kerap didiskreditkan dan “digugat” keabsahannya sebagai salah satu periwayat hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu[1]. Alasannya sederhana, sebab beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal masa persahabatan beliau dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam relatif singkat jika dibandingkan dengan masa persahabatan sebagian sahabat Rasulullah yang lain. Oleh karena itu timbul kecurigaan bahwa Abu Hurairah memalsukan hadis Nabi shalallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam artikel ini, akan dipaparkan biografi singkat Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu dan membantah syubhat yang ditebarkan oleh kelompok yang menyimpang seputar keabsahan beliau sebagai sang periwayat hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

NAMA DAN NASAB ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU ANHU

Abu Hurairah, adalah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin, terkhusus lagi di tengah para peneliti hadis Rasulullah –shallahu ‘alaihi wasallam-. Bagaimana tidak, nama beliau terulang sebanyak 5374[2] kali di tiap lembar kitab hadis para ulama, jumlah yang sangat fantastis untuk seorang periwayat hadis, bahkan beliau ditahbiskan sebagai sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun sekali lagi sungguh amat disayangkan, mayoritas kaum muslimin tidak mengetahui nama asli dari sahabat yang mulia ini.

Para ulama hadis berbeda pendapat seputar nama sahabat yang mulia ini, hal ini dipicu karena sahabat ini lebih tersohor dengan kunyah-nya yaitu Abu Hurairah atau Abu Hir, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil beliau dengan kedua kunyah tersebut.[3] Dan di antara sekian banyak nama yang diperselisihkan, muncul dua nama yang ditarjihkan oleh para ulama kita, yaitu Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausi dan ‘Amr bin ‘Amir.

Ibnu Hajar (wafat tahun 852 H) berkata rahimahulla, “Abu Hurairah Ad-Dausi, seorang sahabat yang mulia dan penghafal hadis di kalangan para Sahabat, diperselisihkan namanya dan nasabnya, sebagian ulama berpendapat bahwa namanya adalah Abdurrahman bin Shakhr, sebagian yang lain mengatakan bin Ghanm, sebagian yang lain mengatakan Abdullah bin ‘A-idz… Para ulama berselisih pendapat seputar nama Abu Hurairah, mayoritas ulama me-rajih-kan nama yang pertama (Abdurrahman bin Shakhr), dan sebagian ulama ahli nasab me-rajih-kan ‘Amr bin ‘Amir.[4]

Imam Adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) mengatakan, “Diperselisihkan namanya dengan banyak pendapat, dan yang paling kuat adalah Abdurrahman bin Shakhr.”[5]

PROSES KEISLAMAN DAN HIJRAH ABU HURAIRAH RADHIYALLAHUANHU

Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu adalah seorang pemuda dari Suku Daus, suku ini berasal dari negeri Yaman, tentunya beliau adalah seorang pemeluk agama nenek moyangnya sebelum masuk ke dalam agama Islam. Adapun tentang keIslaman Abu Hurairah, maka ada beberapa riwayat yang dapat dikaji untuk dipetik kesimpulan, di antaranya hadis yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari rahimahullah,

أَنَّهُ لَمَّا أَقْبَلَ يُرِيدُ الإِسْلاَمَ وَمَعَهُ غُلاَمُه

Artinya: dan ketika Abu Hurairah datang (kepada Nabi) bersama budaknya menginginkan Islam.[6]

Di dalam riwayat yang lain, Qais bin Abi Hazim mengatakan,

لَمَّا أَقْبَلَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَمَعَهُ غُلَامُهُ وَهُوَ يَطْلُبُ الْإِسْلَامَ

Artinya: ketika Abu Hurairah datang bersama budaknya kepada Nabi untuk masuk Islam.[7]

Ibnu Hajar mengatakan, “(dipetik) dari zahir hadis bahwa ketika berhijrah (ke Madinah), Abu Hurairah belum masuk Islam.”[8]

Jika ditelaah kedua riwayat di atas, niscaya akan terbetik sebuah kesimpulan bahwa Abu Hurairah belum masuk Islam ketika berhijrah dari Yaman ke Madinah, namun jika diteliti dan dikomparasikan dengan riwayat-riwayat yang lain, maka ada kemungkinan bahwa beliau telah memeluk Islam sebelum berhijrah kepada Madinah. Mari menyimak dan mengkaji beberapa riwayat di bawah ini.

Ibnu Hajar Al-’Asqalani ketika menjelaskan tentang At-Thufail bin ‘Amr Ad-Dausi mengatakan:

كَانَ يُقَال لَهُ ذُو النُّور آخِره رَاء ؛ لِأَنَّهُ لَمَّا أَتَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَسْلَمَ بَعَثَهُ إِلَى قَوْمه فَقَالَ : اِجْعَلْ لِي آيَة، فَقَالَ : اللَّهُمَّ نَوِّرْ لَهُ، فَسَطَعَ نُور بَيْن عَيْنَيْهِ، فَقَالَ : يَا رَبّ أَخَاف أَنْ يَقُولُوا إِنَّهُ مُثْلَة، فَتَحَوَّلَ إِلَى طَرَف سَوْطه، وَكَانَ يُضِيء فِي اللَّيْلَة الْمُظْلِمَة ؛ ذَكَرَهُ هِشَام بْن الْكَلْبِيّ فِي قِصَّة طَوِيلَة ، وَفِيهَا أَنَّهُ دَعَا قَوْمه إِلَى الْإِسْلَام فَأَسْلَمَ أَبُوهُ وَلَمْ تُسْلِم أُمّه، وَأَجَابَهُ أَبُو هُرَيْرَة وَحْده

“(At-Thufail bin ‘Amr Ad-Dausi) dahulu dijuluki Zun Nur (yang memiliki cahaya), sebab ketika beliau menghadap Nabi shallahualaihi wasallam dan kemudian masuk Islam, maka beliau diutus kepada kaumnya, beliau mengatakan kepada Rasulullah, “Berilah aku bukti (bagi kebenaran),” maka Nabipun berdoa untuknya, “Ya Allah berilah dia cahaya, maka muncullah cahaya di antara kedua matanya,” maka Nabi kembali berdoa, “Wahai Rabb-ku, saya khawatir kaumnya mengatakan bahwa cahaya tersebut adalah azab,” maka berpindahlahlah cahaya tersebut di ujung cemetinya, dan cahaya tersebut senantiasa bersinar pada setiap malam yang gelap. Diceritakan oleh Hisyam bin Kalbi dalam sebuah kisah yang panjang, dan di dalam kisah itu diinformasikan bahwa At-Thufail bin Amr menyeru kaumnya kepada Islam, maka masuklah bapaknya ke dalam Islam sedangkan ibunya masih enggan untuk masuk ke dalam Islam, dan seruannya (dakwahnya) diterima oleh Abu Hurairah.”[9]

Berkaca pada riwayat ini, dapat disimpulkan bahwa proses masuk Islamnya Abu Hurairah telah lama, namun prosesnya hijrahnya ke Madinah agak lambat, yaitu pada peristiwa Perang Khaibar.

Ibnu Hajar menyimpulkan, “Riwayat ini menunjukkan bahwa masuknya Abu Hurairah ke dalam agama Islam telah lama.”[10]

Kesimpulan ini dipertegas oleh Syekh Musthafa As-Siba’i (wafat tahun 1385 H), beliau mengatakan setelah menyebutkan kisah masuknya At-Thufail bin Amr ke dalam Islam, “Riwayat ini dengan gamblang menjelaskan bahwa Abu Hurairah masuk ke dalam agama Islam beberapa tahun sebelum hijrahnya beliau kepada Rasulullah pada saat perang Khaibar.”[11]

Dan diperkuat juga oleh Syekh Abdurrahman Al-Mu’allimi (wafat tahun 1386 H), beliau mengatakan, “Berdasarkan riwayat ini, maka proses masuknya Abu Hurairah ke dalam Islam adalah sejak sebelum hijrahnya Nabi, namun beliau terlambat untuk berhijrah hingga perang Khaibar.”[12]

Maka bisa disimpulkan bahwa Abu Hurairah telah memeluk agama Islam sejak diutusnya sahabat yang mulia At-Thufail bin Amr ke Suku Daus, maka sejatinya proses masuk Islam Abu Hurairah sejak sebelum hijrahnya ke negeri Madinah, sebelum akhirnya menghadap kepada Nabi pada saat perang Khaibar, yaitu pada tahun tujuh hijriah, wallahu a’lam.

FAKTOR YANG MENJADIKAN BELIAU BANYAK MERIWAYATKAN HADIS

Kepakaran Abu Hurairah dalam meriwayatkan hadis dari Rasulullah digugat oleh sebagian kelompok menyimpang yang kemudian dijajakan oleh para orentalis, dan dimasifkan oleh sebagian tokoh Islam yang terkontaminasi oleh pemikiran orang-orang orentalis dengan alasan yang sederhana, singkatnya masa interaksi Abu Hurairah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun dalih di atas sejatinya bukan dalil yang kokoh, sebab kajian yang intensif dapat menyingkap faktor-faktor yang menjustifikasi validnya kepakaran Abu Hurairah terkait dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, di antara faktor-faktor tersebut:

1. KEDEKATANNYA DENGAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIH WA SALLAM

inilah salah satu unsur yang menjadi pondasi kuat bangunan keilmuan Abu Hurairah, dan tidak bisa dipungkiri bahwa kedekatan seorang penuntut ilmu dengan sang guru merupakan salah satu pilar tegaknya bangunan ilmu. Imam Syafi’i mewariskan kepada kita salah satu kiat untuk memperoleh ilmu, beliau mengatakan,

وصحبة أستاذ

Artinya: (di antara kiat untuk mendapatkan ilmu adalah) dekat (mulazamah) dengan sang guru.

Inilah salah satu kunci Abu Hurairah untuk membuka khazanah ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka bukanlah suatu hal yang aneh apabila beliau meriwayatkan kurang lebih 5374 hadis dari Rasulullah, hal ini tentunya membuktikan “kemujaraban” kiat di atas. Perlu kita ketahui bahwa kedekatan Abu Hurairah dengan Nabi kita yang mulia bukanlah isapan jempol belaka, namun hal ini adalah sebuah fakta yang ditulis dengan tinta emas oleh sejarah. Beberapa riwayat yang valid mengabarkan kepada kita tentang hakikat yang satu ini, olehnya alangkah baiknya jika kita menelaah riwayat demi mengukuhkan hal ini. Abu Hurairah mengatakan,

إِنَّ النَّاسَ يَقُولُونَ أَكْثَرَ أَبُو هُرَيْرَةَ ، وَلَوْلاَ آيَتَانِ فِى كِتَابِ اللَّهِ مَا حَدَّثْتُ حَدِيثًا ، ثُمَّ يَتْلُو): إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ ) إِلَى قَوْلِهِ ( الرَّحِيمُ ) إِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الصَّفْقُ بِالأَسْوَاقِ، وِإِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الْعَمَلُ فِى أَمْوَالِهِمْ ، وَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ يَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِشِبَعِ بَطْنِهِ وَيَحْضُرُ مَا لاَ يَحْضُرُونَ ، وَيَحْفَظُ مَا لاَ يَحْفَظُونَ

Artinya: Sesungguhnya manusia mengatakan, “sungguh Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadis, dan sesungguhnya jika bukan karena dua ayat dalam Al-Qur’an niscaya aku tidak akan meriwayatkan sebuah hadis-pun. Kemudian beliau membaca firman Allah, (artinya), “Sungguh, orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan dan petunjuk, setelah Kami tunjukkan kepada manusia dalam kitab, mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh orang yang melaknat. Kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskannya, mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan Akulah maha penerima tobat.”[13] Sesungguhnya saudara-saudara kami dari kalangan Muhajirin disibukan dengan perniagaan di pasar, sedangkan saudara kami dari kalangan Anshar disibukan dengan pekerjaan-pekerjaan mereka, sedangkan Abu Hurairah senantiasa melazimi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan keadaan “merasa” kenyangnya perutnya, dan dia menghadiri “kajian-kajian” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak dihadiri para sahabat yang lain, dan menghafal hadis-hadis yang tidak dihafal oleh para sahabat yang lainnya.[14]

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim rahimahullah, Abu Hurairah mengatakan:

إِنَّكُمْ تَزْعُمُونَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يُكْثِرُ الْحَدِيثَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، -وَاللَّهُ الْمَوْعِدُ- كُنْتُ رَجُلاً مِسْكِينًا أَخْدُمُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى مِلْءِ بَطْنِى وَكَانَ الْمُهَاجِرُونَ يَشْغَلُهُمُ الصَّفْقُ بِالأَسْوَاقِ وَكَانَتِ الأَنْصَارُ يَشْغَلُهُمُ الْقِيَامُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ

Artinya: sesungguhnya kalian menduga bahwa Abu Hurairah terlampau banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan sesungguhnya Allahlah yang menghisab, sesungguhnya aku adalah seorang yang miskin, saya melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengganjal perutku (menunjukkan semangat yang luar biasa dari Abu Hurairah untuk senantiasa mendampingi Rasulullah), dan sesungguhnya kaum Muhajirin disibukan dengan perniagaan di pasar, sedangkan kaum Anshar disibukkan dengan pekerjaan mereka.[15]

Al-Imam An-Nawawi (wafat tahun 676 H) rahimahullah mengatakan mengomentari perkataan Abu Hurairah, ”Saya berkhidmat (melayani/mengabdi) kepada Rasulullah untuk mengganjal perutku.”

Beliau mengomentari:

أَيْ أُلَازِمُهُ وَأَقْنَعُ بِقُوتِي ، وَلَا أَجْمَعُ مَالًا لِذَخِيرَةٍ وَلَا غَيْرهَا ، وَلَا أَزِيدُ عَلَى قُوتِي . وَالْمُرَاد مِنْ حَيْثُ حَصَلَ الْقُوت مِنْ الْوُجُوه الْمُبَاحَة ، وَلَيْسَ هُوَ مِنْ الْخِدْمَة بِالْأُجْرَةِ

“Maksudnya, saya senantiasa mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan merasa cukup dengan makanan saya, dan saya tidak mengumpulkan harta untuk menabung, dan tidak untuk menambah makanan saya. Maksudnya adalah mendapatkan rejeki dari pekerjaan yang mubah, dan bukan mengambil upah dari membantu dan melayani Nabi.”[16]

Dan yang lebih mengagumkan lagi, kedekatan Abu Hurairah dengan Nabi Muhammad merupakan rahasia umum para sahabat Nabi, oleh sebab itu bukanlah suatu hal yang aneh jika lisan para sahabat mentakrir bahwa beliau adalah sosok yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad. Perhatikanlah lisan mulia Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahuanhu menepis “syubhat” yang datang dari seseorang, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Katsir (wafat tahun 774 H) dengan sanadnya,

عن أبي اليسر بن أبي عامرقال: كنت عند طلحة بن عبيد الله إذ دخل رجل فقال: يا أبا محمد والله ما ندري هذا اليماني أعلم برسول الله صلى الله عليه وسلم منكم، أم يقول على رسول الله صلى الله عليه وسلم ما لم يسمع، أو ما لم يقل ؟, فقال طلحة : والله ما نشك أنه قد سمع من رسول الله صلى الله عليه وسلم ما لم نسمع، وعلم ما لم نعلم، إنا كنا قوما أغنياء، لنا بيوتات وأهلون، وكنا نأتي رسول الله صلى الله عليه وسلم طرفي النهار ثم نرجع، وكان هو مسكينا لا مال له ولا أهل، وإنما كانت يده مع رسول الله صلى الله عليه وسلم، وكان يدور معه حيث ما دار، فما شك أنه قد علم ما لم نعلم وسمع ما لم نسمع.

“Dari Abu Yusr bin Abi ‘Amir, beliau berkata, ‘Saya bersama Thalhah bin ‘Ubaidillah tiba-tiba muncul seorang seraya bertanya, ‘Wahai Abu Muhammad, kami merasa heran dengan orang Yaman ini (maksudnya Abu Hurairah), bagaimana bisa dia lebih banyak meriwayatkan hadis daripada Anda? Apakah dia meriwayatkan hadis yang tidak dia dengarkan dari Nabi?’ Maka Thalhah pun mengatakan, ‘Demi Allah, kami tidak meragukan bahwa beliau (Abu Hurairah) telah mendengarkan dari Rasulullah hal-hal yang tidak kami dengarkan, dan mengetahui sesuatu yang kami tidak mengetahuinya, sesungguhnya kami dahulu kaum yang kaya, kami memiliki rumah-rumah dan keluarga, dahulu kami mendatangi Nabi tiap pagi dan petang kemudian pulang ke rumah, sedangkan Abu Hurairah orang miskin, beliau tidak memiliki harta maupun keluarga, sesungguhnya tangannya dahulu senantiasa bersama tangan Nabi dan selalu mendampingi Nabi di manapun beliau berada, maka tidak bisa dipungkiri jika kemudian beliau mengetahui hal-hal yang tidak kami ketahui, dan mendengarkan hadis-hadis yang tidak kami dengarkan.’’”[17]

Bahkan dengan hati terbuka, lisan bijak Abdullah bin Umar (wafat tahun 73 H) mengatakan kepada Abu Hurairah,

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْتَ كُنْتَ أَلْزَمَنَا لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَأَحْفَظَنَا لِحَدِيثِهِ

Artinya: Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya engkau dahulu adalah yang paling dekat dengan Rasulullah di antara kami, dan juga yang paling banyak menghafal hadis-hadis Nabi Muhammad di antara kami.[18]

Dan yang lebih menakjubkan lagi, seorang Abu Ayub Al-Anshari radhiyallahuanhu (wafat tahun 50 H atau setelahnya) tidak merasa keberatan meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah. Ketika ditanya tentang hal tersebut beliau mengatakan,

إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَدْ سَمِعَ مَا لَمْ نَسْمَعْ

Artinya: Sesungguhnya Abu Hurairah telah mendengarkan dari Rasulullah hal-hal yang kami tidak mendengarkannya.[19]

Bukanlah hal yang aneh jika Abu Hurairah senantiasa bersama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mendampingi beliau dalam banyak keadaan, karena beliau adalah salah seorang Ahlus Shuffah.[20]

2. KETEKUNAN DAN KERAJINAN ABU HURAIRAH DALAM MEMPELAJARI HADIS

Adalah rahasia umum bahwa ketekunan, kerajinan, dan keuletan dalam menuntut ilmu adalah kunci sukses untuk memperoleh khazanah ilmiah yang luas. Salah satu buktinya adalah sahabat yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau dengan penuh sukarela berlapar ria, tekun, ulet, dan tentunya dibarengi juga dengan kesabaran untuk menuntut ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau dengan ikhlas meninggalkan perniagaan dan pekerjaan, berhias dengan sifat qanaah dalam perkara dunia demi memperoleh warisan hadis Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam, tidak memelihara mata iri dan hati dengki terhadap sahabat-sahabat yang lainnya yang sibuk dengan pekerjaan mereka. Intinya adalah beliau mendedikasikan waktu, tubuh, semangat, fokus, dan konsentrasi untuk menimba ilmu dari Rasulullah. Maka tidak heran bila lisan mulia Nabi kita sempat memuji beliau ketika bertanya tentang sesuatu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari,[21]

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم «لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لاَ يَسْأَلَنِى عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

“Wahai Rasulullah, siapakah yang paling bahagia untuk mendapatkan syafaatmu pada hari kiamat kelak?” Maka Rasulullah berkata, “Sungguh aku telah mengira wahai Abu Hurairah bahwa tidak akan ada seorang pun mendahului engkau untuk bertanya kepadaku tentang hadis ini, karena aku telah melihat semangatmu yang besar untuk mempelajari hadis. Sesungguhnya orang yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat kelak adalah semua yang mengucapkan kalimat “Laa Ilaha Illallah” dengan penuh keikhlasan.”

Ini salah satu tazkiyah yang keluar dari lisan maksum Nabi kita yang tercinta kepada Abu Hurairah, sehingga dengan penuh keyakinan kita katakan bahwa Abu Hurairah adalah salah seorang sahabat yang paling semangat untuk mempelajari hadis-hadis Nabi.

3. DO’A NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM UNTUK ABU HURAIRAH RADHIYALLAHU ‘ANHU.

Ini merupakan puncak keutamaan Abu Hurairah, dan salah satu kunci terpenting dari kemampuan ilmiah beliau yaitu kemampuan hafalan Abu Hurairah yang luar biasa, yang merupakan buah dari mukjizat kenabian. Beliau adalah penghulu para penghafal, sang periwayat Islam, olehnya jangan heran bila Imam Bukhari (wafat tahun 256 H) mengatakan bahwa jumlah perawi dari kalangan tabi’in yang meriwayatkan hadits dari beliau mencapai 800 orang. Kemukjizatan hafalan Abu Hurairah bukanlah kabar burung belaka, akan tetapi sebuah fakta sejarah yang terpahat di dinding-dinding waktu. Perhatikanlah dengan seksama hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari[22] di bawah ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنِّى أَسْمَعُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا أَنْسَاهُ . قَالَ:((ابْسُطْ رِدَاءَك)) فَبَسَطْتُهُ . قَالَ فَغَرَفَ بِيَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ:((ضُمُّهُ)) فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيتُ شَيْئًا بَعْدَهُ.

“Dari Abu Hurairah, beliau berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengarkan hadits yang banyak darimu, namun aku melupakannya.’ Maka Rasulullah mengatakan,  ‘Hamparkanlah selendangmu!’ Maka aku hamparkan selendangku. Maka Nabi mengambilnya dengan tangannya, kemudian beliau bersabda, ‘Dekaplah selendangmu!’ Maka akupun mendekapnya, dan aku tidak lupa sedikitpun setelah itu.”

Dan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim[23] (wafat tahun 261 H) dari sahabat Abu Hurairah,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ((مَنْ يَبْسُطُ ثَوْبَهُ فَلَنْ يَنْسَى شَيْئًا سَمِعَهُ مِنِّى)). فَبَسَطْتُ ثَوْبِى حَتَّى قَضَى حَدِيثَهُ ثُمَّ ضَمَمْتُهُ إِلَىَّ فَمَا نَسِيتُ شَيْئًا سَمِعْتُهُ مِنْهُ

“Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa yang menghamparkan pakaiannya maka tidak akan melupakan apa yang dia dengarkan dariku.’ Maka aku hamparkan pakaianku hingga selesai perkataan beliau kemudian saya mendekapnya maka saya pun tidak melupakan hadis yang saya dengarkan darinya.”

Ini adalah informasi tentang doa Nabi untuk Abu Hurairah, olehnya bukanlah hal yang aneh jika para ulama memuji Abu Hurairah terkhusus dalam masalah kekuatan hafalan, berikut ini beberapa contoh dari pujian para ulama kepada Abu Hurairah,

Syafi’i (wafat tahun 204 H) mengatakan, “Abu Hurairah adalah perawi yang paling hafal hadits pada masanya.”[24]

Adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) mengatakan, (Abu Hurairah) adalah penghulu para penghafal.”[25]

Beliau juga mengatakan, “Hafalan Abu Hurairah yang luar biasa adalah buah dari mukjizat kenabian.”[26]

Setelah pemaparan ini, maka bukanlah perkara yang nyeleneh jika Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (wafat tahun 852 H) mengutip konsensus ulama bahwa Abu Hurairah adalah sahabat yang terbanyak menghafal hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau mengatakan, “Sungguh ahli hadis telah bersepakat bahwa Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak menghafal hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. [27]

Dan demi menentramkan hati para pembaca sekalian terkait hal ini (kekuatan hafalan Abu Hurairah), maka kami tegaskan bahwa kemampuan hafalan Abu Hurairah telah teruji. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Hakim (wafat tahun 405 H) dalam al-Mustadrak[28] dengan sanadnya kepada Abu Zu’aizi’ah – sekretaris Marwan bin Hakam-, “Khalifah Marwan bin Hakam memanggil Abu Hurairah, dan khalifah memerintahkan aku duduk di belakang singgasana, maka kemudian khalifah mulai bertanya tentang hadi-hadis dan akupun mulai menulisnya ke dalam catatanku. Kemudian setelah satu tahun berselang dari kejadian tersebut, khalifah memanggil Abu Hurairah kembali, dan beliau memerintahkan agar aku (Abu Zu’aizi’ah) duduk di belakang tirai, maka khalifah pun mulai bertanya tentang hadis yang ditanyakan tahun lalu, dan aku mulai memeriksa catatanku, ternyata Abu Hurairah tidak meleset meskipun satu huruf.”

[1] Ada beberapa buku yang membahas dan mendiskreditkan Abu Hurairah, di antaranya: Abu Hurairah, penulisnya adalah seseorang yang yang berakidah Rafidhah, Sayyid Abdulhusain Syarafuddin Al-Musawi; Buku Adhwa’ ‘Alas Sunnah Al-Muhammadiyah dan Abu Hurairah Syekhul Mudhirah buah karya Mahmud Abu Rayyah; Buku Al-Hadisun Nabawi wa Makanatuhu fil Fikril Islamil Hadis karya Muhammad Hamzah.

[2] Sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Hazm, Ibnul Jauzi, dan Adz-Dzahabi rahimahumullah jami’an, jumlah tersebut berdasarkan Kitab Musnad Baqii bin Makhlad, lihat Majmu’ah Rasail Hadisiyah jilid 2 hal. 710-711.

[3] Lihat Sahih Al-Bukhari’ no hadis: 285 dalam hadis ini beliau dipanggil dengan kunyah Abu Hir, dan lihat juga no hadis: 5375, dalam hadis ini beliau dipanggil Abu Hurairah.

[4] Lihat Taqribut Tahzib (2/483).

[5] Siyar A’lamin Nubala (2/578).

[6] Sahih Al-Bukhari, no hadis : 2530.

[7] idem, no hadis: 2532.

[8] Fathul Bari (7/491).

[9] Idem (8/102).

[10] Idem.

[11] As-Sunnah Wa Makanatuha Fit Tasyri’ a -Islami, hal. 359.

[12] Al-Anwar Al-Kasyifah, hal. 145.

[13]Al-Baqarah 159-160.

[14] Shahih Al-Bukhari 1/213.

[15] Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Hajjaj, karya an-Nawawi 8/261.

[16] Syarhun Nawawi ‘Ala Shahih Muslim (16/53).

[17] Al-Bidayah wan Nihayah (8/117).

[18] Jami’ Tirmidzi (3836), dan dinyatakan hasan oleh Imam Tirmidzi.

[19] Al-Bidayah wan-Nihayah (8/117).

[20] Orang yang tinggal di bagian belakang dari masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihat Fathul Bari (1/145).

[21] Shahih Al-Bukhari (6570).

[22] Shahih Al-Bukhari (119).

[23] Shahih Muslim (2492).

[24] Al-Ishabah karya Ibnu Hajar (7/433).

[25] Siyar A’lamun Nubala (2/578).

[26] Idem (2/594).

[27] Al-Ishabah (7/431).

[28] Al-Mustadrak ‘Alas Shahihain, no. 6164. Imam Hakim mengatakan, “Sanadnya sahih dan disepakati oleh Adz-Dzhabi (Al-Mustadrak, 3/583).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments