JABIR BIN ABDULLAH, TELADAN DALAM RIHLAH MENCARI HADIS

477
Perkiraan waktu baca: 4 menit
image_pdfUnduh PDF

Nama, Nasab dan Kuniyah

Nama beliau adalah Jabir bin Abdullah bin Amru bin Haram bin Tsa’labah(1) bin Haram bin Ka’ab(2) al-Anshari al-Khazraji al-Salami, berasal dari suku Khazraj. Kuniyah Jabir adalah Abu Abdillah.(3)

Kontribusi Jabir dalam Jihad dan Perjuangan

Jabir radhiyallahu anhu termasuk orang yang ikut melakukan baiat pada Baiat Aqabah kedua bersama ayahnya. Beliau adalah orang termuda dari kalangan suku Aus dan Khazraj yang berbaiat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.(4)

Setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hijrah dari Makkah ke Madinah, Jabir termasuk salah seorang yang ikut serta dalam peperangan dan ekspedisi (sariyyah). Beliau hanya tidak ikut dalam Perang Badar dan Uhud saja. Alasan ketidakhadiran Jabir dalam dua perang ini karena menaati ayahnya untuk mengganti posisinya dalam keluarga.(5)

Perang Hamra’ al-Asad, yang terjadi setelah Perang Uhud pada tahun 4 H, merupakan pengalaman perang pertama Jabir. Hanya orang-orang yang pernah ikut Perang Uhud saja yang diizinkan ikut serta dalam delegasi militer ini. Namun demikian, Jabir adalah satu-satunya orang yang ikut serta dalam perang ini meskipun tidak hadir dalam Perang Uhud. Hal ini karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menerima alasan ketidakhadirannya pada Perang Uhud.(6)

Pernikahannya

Pada tahun ke-3 H, sebelum perang Dzat ar-Riqa’, Jabir menikah dengan seorang janda bernama Suhaimah binti Mas’ud bin Aus setelah ayahnya gugur, agar ia dapat mengayomi sembilan saudara perempuannya dengan lebih baik.(7)

Jabir radiyallahu anhu menceritakan ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepadanya,

تَزَوَّجْتَ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. قَالَ: بِكْرًا أَمْ ثَيِّبًا؟ قُلْتُ: بَلْ ثَيِّبًا. قَالَ: أَفَلَا جَارِيَةً تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ؟ قُلْتُ: إِنَّ لِي أَخَوَاتٍ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَتَزَوَّجَ امْرَأَةً تَجْمَعُهُنَّ وَتَمْشُطُهُنَّ وَتَقُومُ عَلَيْهِنّ…

“Apakah engkau sudah menikah?” Aku (Jabir) menjawab, ‘Iya’. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kembali bertanya, ‘Perawan ataukah janda?’ Saya menjawab, ‘Janda’. Nabi shallallahu alaihi wasallam bertanya lagi, ‘Kenapa tidak menikahi perawan saja? Engkau bisa bercanda dengannya dan ia bisa bercanda pula denganmu’.  Saya menjawab, ‘Aku ini memiliki saudari perempuan yang banyak. Aku menikahi janda agar ada wanita yang merawat, mengurusi dan menyisiri rambut mereka’.” (H.R. Bukhari, No. 2097)

Gurunya dan Muridnya(8)

Selain beliau banyak mengambil dan belajar langsung dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau juga mengambil hadis dan ilmu dari sahabat-sahabat yang lain seperti Abu Bakar, Umar, Ali, Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal, Zubair bin Awwam dan beberapa sahabat yang lainnya.

Dari beliau lahir murid-murid dari kalangan tabiin yang begitu banyak. Di antara murid Jabir radiyallahu anhu yang mengambil hadis dari beliau adalah Said bin Musayyib, Atha bin Abi Rabah, Salim, Hasan al-Basri, Muhammad bin Munkadir, Mujahid, al-Sya’bi dan masih banyak yang lainnya.

Jabir dan Khidmah Terhadap Hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam

Jabir radhiyallahu anhu termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau berada di urutan yang keenam dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis. Beliau meriwayatkan 1540 hadis dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam; 58 hadis diriwayatkan secara bersama oleh Bukhari dan Muslim, 26 hadis hanya diriwayatkan oleh Bukhari tanpa Muslim dan 126 hadis hanya diriwayatkan oleh Muslim tanpa Bukhari.(9)

Salah satu kisah yang menakjubkan yang ditulis dengan tinta emas adalah kisah yang menggambarkan bagaimana Jabir radiyallahu anhu melakukan perjalanan untuk mendengarkan satu hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam. Perjalanan panjang yang sangat menakjubkan. Satu bulan perjalanan ditempuh hanya untuk sebuah hadis. Demi mendengarkan hadis ini secara lengkap melalui sumber yang langsung mendengar dari lisan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Jabir mengencangkan ikat pinggang, menembus panas sahara, meninggalkan kota Madinah menuju negeri Syam. Ia menjumpai Abdullah bin Unais radhiallahu anhu, sang pemilik hadis. Beliau mengisahkan,

بَلَغَنِي حَدِيثٌ عَنْ رَجُلٍ سَمِعَهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ فَاشْتَرَيْتُ بَعِيرًا ثُمَّ شَدَدْتُ عليه رَحْلِي فَسِرْتُ إِلَيْهِ شَهْرًا حَتَّى قَدِمْتُ عَلَيْهِ الشَّامَ، فَإِذَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أُنَيْسٍ فَقُلْتُ لِلْبَوَّابِ: قُلْ لَهُ جَابِرٌ عَلَى الْبَابِ. فَقَالَ: ابْنُ عَبْدِ اللهِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. فَخَرَجَ يَطَأُ ثَوْبَهُ فَاعْتَنَقَنِي وَاعْتَنَقْتُهُ فَقُلْتُ: حَدِيثًا بَلَغَنِي عَنْكَ أَنَّكَ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ فِي الْقِصَاصِ فَخَشِيتُ أَنْ تَمُوتَ أَوْ أَمُوتَ قَبْلَ أَنْ أَسْمَعَهُ

“Telah sampai kepadaku sebuah hadis dari seseorang yang langsung mendengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (sedangkan aku tidak mendengarnya dari Rasul shallallahu alaihi wa sallam). Aku pun bersegera membeli seekor unta. Aku persiapkan bekal perjalananku dan aku tempuh perjalanan satu bulan untuk menemuinya, hingga sampailah aku ke Syam. Ternyata orang tersebut adalah Abdullah bin Unais. Aku berkata kepada penjaga pintu rumahnya, ‘Sampaikan kepada tuanmu bahwa Jabir sedang menunggu di depan pintu’. Penjaga itu masuk dan menyampaikan pesan itu kepada Abdullah bin Unais. Abdullah bertanya, ‘Jabir bin Abdullah?’ Aku menjawab, ‘Ya, benar!’ (Begitu tahu kedatanganku), Abdullah bin Unais bergegas keluar hingga menginjak pakaiannya, lalu dia merangkulku dan aku pun merangkulnya. Aku berkata kepadanya, ‘Telah sampai kepadaku sebuah hadis, dikabarkan bahwa engkau mendengarnya langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang kisas. Saya khawatir engkau meninggal terlebih dahulu atau aku yang lebih dahulu meninggal sementara aku belum sempat mendengarnya’.” (H.R. Ahmad, No. 16042 dan Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, No. 970)

Semangat beliau dalam menuntut ilmu dan mencari hadis serta meriwayatkannya menjadikan Jabir sebagai salah seorang ulama di kalangan para sahabat. Bahkan sepeninggal Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, Jabir memiliki satu halakah ilmu di masjid Nabawi.(10)

Wafatnya

Di masa akhir hayatnya, Jabir radiyallahu anhu sempat menghabiskan setahun di samping Baitullah di Makkah. Selama itu, para pemuka dari tabiin, seperti Atha’ bin Abi Rabah, Amru bin Dinar dan Abu Zubair bertemu dengannya untuk mengambil ilmu darinya.(10) Jabir mengalami kebutaan pada masa akhir hayatnya.(11)   Jabir radiyallahu anhu menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 77 Hijriyah, di usia 94 tahun di Madinah. Beliau adalah sahabat yang terakhir wafat di Madinah, di antara mereka yang ikut dalam baiat Ridwan(12). Yang menjadi imam ketika beliau disalatkan adalah Gubernur Madinah, Aban bin Utsman.(13)


Footnote:

(1) Lihat: al-Isti’ab fi Ma’rifah al-Ashab (1/ 219), Tahdzib al-Kamal (4/ 443) dan Siyar A’lām al-Nubalā (3/ 190); mayoritas ulama yang menulis biografi beliau tidak mencantumkan nama Tsa’labah.

(2) Ibnu al-Atsir dan Ibn Hajar menyebut nama lengkap beliau: Jabir bin Abdullah bin Amru bin Haram bin Ka’ab bin Ghanm bin Ka’ab bin Salamah, lihat: Usdu al-Ghabah (1/ 492), dan al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah (1/ 546).

(3) Lihat: al-Isti’ab fi Ma’rifah al-Ashab (1/ 220).

(4) Lihat: Siyar A’lām al-Nubalā (3/190).

(5) Lihat: Siyar A’lām al-Nubalā (3/191).

(6) Lihat: al-Thabaqāt al-Kubrā (1/34).

(7) Lihat: al-Bidāyah wa al-Nihāyah (4/99-100).

(8) Lihat: Tahdzib al-Kamal (4/ 443) dan Tahdzib al-Tahdzib (2/ 42).

(9) Lihat: Siyar A’lam al-Nubala (3/ 194).

(10) Lihat: al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah (1/ 546).

(10) Lihat: Mu’jam al-Shahabah karya Al-Baghawi (1/ 445).

(11) Lihat: Siyar A’lām al-Nubalā (3/192).

(12) Lihat: Ma’rifah al-Shahabah karya Abu Nuaim (2/ 529) dan Siyar A’lām al-Nubalā (3/ 189).

(13) Lihat: Ma’rifah al-Shahabah karya Abu Nuaim (2/ 529) dan Siyar A’lām al-Nubalā (3/ 192).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments