HADIS ZIKIR PENGUSIR AMARAH

202
HADIS ZIKIR PENGUSIR AMARAH
Perkiraan waktu baca: 2 menit

Daftar Isi:

REDAKSI HADIS:

عن سُلَيْمَانَ بْن صُرَدٍ رضي الله عنه قَالَ: اسْتَبَّ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَغَضِبَ أَحَدُهُمَا، فَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى انْتَفَخَ وَجْهُهُ وَتَغَيَّرَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ الَّذِي يَجِدُ. فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ الرَّجُلُ، فَأَخْبَرَهُ بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَالَ: تَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ الشَّيْطَانِ. فَقَالَ: أَتُرَى بِي بَأْسٌ، أَمَجْنُونٌ أَنَا؟ اذْهَبْ

Dari Sulaimān bin Ṣurad raḍiyallāhu ‘anhu berkata, “Dua orang laki-laki saling mencaci-maki di sisi Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Salah seorang di antara keduanya sangat marah hingga berubah raut wajahnya. Lalu Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh aku mengetahui satu kalimat yang seandainya dia ucapkan, maka marahnya akan hilang’. Lalu orang yang mendengar ucapan beliau bergegas menuju orang yang marah lalu mengabarkan kepadanya sabda Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata, ‘Berlindunglah kepada Allah dari setan’. Laki-laki yang marah tersebut berkata, ‘Apakah kamu menyangka saya ada masalah, sudah gilakah saya? Pergilah kamu’!”

TAKHRIJ HADIS                                                                                                        

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dalam kitabnya, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī; kitab al-Adab, Bab “Mencela dan Melaknat yang Dilarang”, nomor 6048, dan Imam Muslim dalam kitabnya, Ṣaḥīḥ Muslim; kitab al-Bir wa al-Ṣilah wa al-Ādāb, Bab “Keutamaan Orang yang Mengendalikan Dirinya pada Saat Marah”, nomor 2610.

Baca juga:  HARAMNYA KEZALIMAN SESAMA HAMBA

BIOGRAFI SAHABAT PERAWI HADIS

Sulaimān bin Ṣurad bin al-Jaun bin Abi al-Jaun bin Munqiż al-Khuza-‘ī al-Kūfī raḍiyallāhu ‘anhu adalah sahabat Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang berkuniah Abu al-Muṭarrif. Sebagian mengatakan dahulu nama beliau adalah Yasār lalu diubah oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Beliau salah seorang sahabat yang dikenal sebagai sahabat yang iltizam dan ahli ibadah. Beliau ikut dalam perang Ṣiffīn bergabung bersama pasukan ‘Ālī bin Abī Ṭālib raḍiyallāhu ‘anhu dan beliau wafat dalam perang fitnah di bulan Rabiulakhir tahun 65 H dalam usia 93 tahun(1).

FAEDAH DAN KESIMPULAN

  1. Tercelanya saling mencaci dan mencela sesama muslim.
  2. Saling mencela akan memancing dan menyulut amarah yang lebih besar.
  3. Tidak ada riwayat yang tegas dan jelas yang menyebutkan siapa kedua orang yang bertengkar itu namun sebagian ulama mengatakan bahwa orang yang sangat marah itu adalah seorang Arab Badui yang terkenal dengan perangainya yang keras dan kasar(2).
  4. Di antara dampak buruk marah adalah merubah raut wajah seseorang.
  5. Kemarahan dapat dihilangkan dengan beberapa amalan dan perkataan yang diajarkan dalam sunah Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.
  6. Di antara cara menghilangkan dan meredam kemarahan adalah mengucapkan isti’āżah (perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla dari godaan setan yang terkutuk).
  7. Marah yang dilampiaskan dan ditumpahkan datang dari godaan se
  8. Pertengkaran sesama mukmin dan retaknya ukhuwah di antara mereka adalah bagian dari tipu daya dan godaan setan.
  9. Disyariatkannya menyampaikan nasihat kepada saudara kita baik secara langsung maupun tidak langsung.
  10. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa yang mendatangi orang yang marah itu untuk menyampaikan pesan dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah sahabat yang mulia Mu’āż bin Jabal raḍiyallāhu ‘anhu(3).
  11. Di antara dampak negatif dari marah adalah sulit menerima nasihat.
Baca juga:  URGENSI DAKWAH KEPADA AKHLAK KARIMAH

 

 


Footnote:

(1) Lihat: Ma’rifah al-aḥābah karya Ibnu Mandah (h. 731), Ma’rifah al-aḥābah karya Abu Nu’aim (3/1334), al-Isti’āb fī Ma’rifah al-Asḥāb (2/649), Usdu al-Gābah (2/548), Siyār A’lam al-Nubalā’ (3/394) dan al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣaḥābah (3/144).

(2) Lihat: Fatḥu al-Bāri karya Ibnu Hajar al-‘Asqalānī (10/467).

(3) H.R. Abu Daud, no. 4780, lihat: al-Baḥru al-Muhīṭ al-ajjāj karya Muhammad bin ‘Ālī al-Ityubī (41/48).

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments