BESARNYA KASIH SAYANG SEORANG IBU KEPADA ANAKNYA

785
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال: قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنْ السَّبْيِ قَدْ تَحْلُبُ ثَدْيَهَا تَسْقِي إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتُرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟. قُلْنَا: لَا، وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ. فَقَالَ: لَلّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

Dari Umar bin al-Khatthab radhiyallahu anhu berkata, “Datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beberapa orang tawanan perang. Ternyata dari tawanan tersebut ada seorang perempuan yang mencari bayi yang disusuinya. Ketika dia mendapatkan anak kecil dalam tawanan tersebut, ia  mengambilnya lalu mendekapnya ke perutnya dan menyusuinya, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada kami, ‘Menurut kalian, apakah perempuan itu tega melemparkan bayinya ke dalam api?’ Kami menjawab, ‘Tidak, ia tidak akan tega melemparkan anaknya ke dalam api selama ia masih sanggup menghindarkannya dari api tersebut’. Lalu beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Sungguh, kasih sayang Allah terhadap para hamba-Nya melebihi kasih sayang perempuan itu terhadap anaknya’.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, Bab “Menyayangi Anak, Mencium, dan Merangkulnya“, nomor 5999, dan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim, Kitab al-Taubah, Bab “Luasnya Rahmat Allah Taala, nomor 2754.

Biografi Sahabat Rawi Hadis(1)

Umar bin al-Khaththab bin Nufail al-Qurasyi al-Adawi, kuniyah-nya adalah Abu Hafsh dan digelari sebagai al-Faruq, juga Amirulmukminin. Ibu beliau bernama Hantamah binti Hasyim binti al-Mughirah al-Makhzumiyah. Umar dilahirkan 13 tahun setelah tahun Gajah. Keislaman beliau menjadi awal kemuliaan bagi kaum muslimin dan kelonggaran bagi mereka dari kesempitan. Beliau menjadi khalifah sepeninggal Abu Bakar radhiyallahu anhu lalu beliau menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Gelar amirulmukminin pertama kali disematkan kepada beliau. Allah azza wa jalla memenangkan kaum muslimin di zaman pemerintahannya sehingga mampu menaklukkan banyak negeri seperti Syam, Irak dan Mesir. Beberapa ayat Al-Qur’an turun membenarkan ijtihad beliau, seperti penyikapan terhadap tawanan perang Badar, pensyariatan hijab, pengharaman khamar, dan menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat salat. Umar adalah salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga secara khusus.  Keutamaan beliau sangat banyak dan tidak cukup disebutkan dalam biografi singkat seperti ini. Beliau ditikam pada hari Rabu tanggal 26 Zulhijah tahun 23 H pada saat memimpin salat Subuh dan wafat tiga hari setelahnya. Masa pemerintahan beliau berlangsung selama 10 tahun 5 bulan dan 21 hari. Beliau dikuburkan pada hari Ahad, awal bulan Muharram tahun 23 H bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar radhiyallahu anhu di bilik Aisyah radhiyallahu anha.

Faedah dan Kesimpulan:

1.   Disyariatkannya tawanan perang.

2.   Tawanan yang dimaksud dalam hadis ini adalah dari kabilah Hawazin, hasil dari perang Hunain.

3  Ibnu Hajar menukil dari Abu Muhammad Ibn Abu Jamrah bahwa hadis ini menunjukkan bolehnya memandang wanita tawanan.(2)

4.  Fitrah seorang ibu untuk menyusui anaknya bahkan terkadang anak orang lain.

5. Disyariatkannya membuat permisalan dengan sesuatu yang ditangkap oleh pancaindra untuk lebih memahami suatu permasalahan.

6. Di antara metode pengajaran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah melontarkan pertanyaan kepada para muridnya, dalam hal ini sahabat, untuk mengundang perhatian mereka dan mengajak untuk lebih memahami permasalahan yang dibahas.

7.  Respon yang baik dari murid terhadap pertanyaan sang guru.

8.  Besarnya rasa kasih sayang ibu kepada anaknya dan upayanya yang maksimal dalam menjauhkan anaknya dari segala mara bahaya.

9.  Hadis ini merupakan salah satu dalil dibolehkannya “Qiyas al-Awlaa” (analogi kepada yang lebih pantas bagi Allah azza wa jalla),(3) di mana jika seorang ibu saja tidak akan melemparkan anaknya ke api kebinasaan maka apatah lagi Allah subhanahu wa ta’ala yang Maha Pengasih lagi Penyayang kepada para hamba-Nya.

10.  Ibnu Abi Jamrah juga menyatakan bahwa lafaz hamba pada hakikatnya bersifat umum namun yang dimaksud dalam hadis ini adalah khusus bagi mereka yang beriman(4) sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-A’raaf ayat 156 (artinya), “…dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka Aku akan tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa.…”

 


Footnote:

(1) Lihat: Al-Isti’ab fi Ma’rifah al-Ashab (3/ 1144), Usdu al-Ghabah (4/ 137) dan al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah (4/ 484).

(2) Fathu al-Bari (10/ 431).

(3) Lihat firman Allah azza wajalla dalam Q.S. al-Nahl ayat 60 dan Q.S. al-Rum ayat 27.

(4) Lihat: Fathu al-Bari (10/ 431).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments