HADIS KE-21 AL-ARBAIN: BERI AKU SATU UCAPAN

272
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

Para sahabat adalah generasi yang terbaik dari umat ini. Salah satu karakteristik mereka adalah antusiasme yang menggebu-gebu dalam hal kebaikan. Tak terkecuali seorang sahabat yang satu ini. Beliau berasal dari kota Thā`if.  Sufyan nama beliau. Suatu ketika, beliau bertemu dengan Rasul dan meminta sebuah nasihat.

عَنِ أَبيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ،أَبيْ عمْرَةَ سُفْيَانَ بنِ عَبْدِ اللهِ رضي الله عنه قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ (رواه مسلم)

Dari Abu ‘Amr (ada yang menyebutnya Abu ‘Amrah), Sufyan bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai utusan Allah, beritahukanlah kepadaku satu ucapan dalam Islam yang mana aku tidak akan bertanya lagi kepada kepada seorang pun selain engkau’. Beliau menjawab, ‘Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istikamahlah’.” (H.R. Muslim)

Jika kita merenungi pertanyaan Sufyan, kita akan mendapati kecerdasan yang tersembunyi di balik pertanyaan itu. Beliau tahu benar bahwa orang yang ada di hadapannya ini adalah utusan Allah, orang yang tidak berbicara dengan nafsunya belaka. Semua yang keluar dari lisannya adalah wahyu yang akan menjadi penerang kehidupan. Sufyan hanya minta satu ucapan. Hanya satu, namun begitu penting. Bahkan cukuplah itu didengarkan sekali saja lantas diamalkan dan dihayati seumur hidup. Pelajaran yang terselip di sini adalah fokus pada hal yang paling penting dan asasi dalam hidup serta memanfaatkan momentum pertemuan dengan orang alim nan saleh guna meminta nasihatnya.

Rasul shallallahu alaihi wasallam menjawab dengan sebuah jawaban singkat dan lugas. Ini menunjukkan bahwa ucapan dari lisan beliau diberkahi Allah. Jawāmi’ al-Kalim sebutannya. Yakni untaian kata-kata singkat namun memiliki makna yang dalam dan menyentuh. Mendengarkannya bak energi yang memancar. Demikianlah keberkahan dari ucapan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Nabi memesankan dua hal:

  1. Iman kepada Allah, termasuk segala percabangannya. Mulai dari iman kepada malaikat, nabi-nabi, kitab-kitab, hari kiamat dan takdir. Meyakini semua hal tersebut di dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota tubuh. Iman bukanlah pengakuan semata. Iman butuh diejawantahkan dalam tindak tanduk dan perilaku. Iman itu nampak dalam gerak-gerik, ucapan dan sikap.
  2. Isikamah menjalankan konsekuensi keimanan tersebut hingga hayat tak lagi dikandung badan. Apa itu istikamah? Umar bin al-Khattāb berkata, “Istikamah adalah engkau terus berada mengikuti perintah dan larangan. Engkau tidak ke kanan dan ke kiri bak rubah.”[1] Bagaimana cara meraih istikamah dalam hidup? Di antara sarana yang dapat menguatkan seseorang di atas jalan istikamah[2] ialah sebagai berikut:

 

  1. Hidup bersama Al-Qur’an.

Membaca, menghafal, memahami, tadabbur, dan mengamalkan Al-Qur’an adalah sarana terbesar untuk terus istikamah. Allah berfirman,

كَذٰلِكَ ۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا

“Demikianlah agar Kami memperteguh hatimu (Nabi Muhammad) dengannya (Al-Qur’an) dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar). (Q.S. al-Furqān:32)

Perlu diingat bahwa berinteraksi dengan Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membaca dan menghafalkan tanpa memahami dan mengamalkannya. Tidakkah aneh orang yang mendapat surat dari presiden untuk menuntaskan satu tugas lantas ia hanya membaca surat itu dan menghafalkannya namun tidak menjalankan mandat yang terdapat di dalamnya?

  1. Doa.

‘Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” Setelah itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdoa, “Wahai zat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan padaMu!”[3] Di antara doa yang hendaknya dipanjatkan adalah sebagai berikut:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (Q.S. Āli ‘Imrān/3:8)

  1. Mengambil Peran dalam Dakwah walaupun Kecil.

Kontribusi seseorang dalam dakwah akan membuatnya semakin istikamah. Siapa yang menolong agama Allah, maka Allah menolongnya. Allah berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Q.S. Muhammad/47:7)

Di sisi lain, jiwa seorang hamba tidak akan pernah absen dari sesuatu, entah keburukan atau kebaikan. Jika jiwa seseorang tidak digerakkan dan disibukkan dengan kebaikan maka ia akan sibuk dengan kemaksiatan dan keburukan.

  1. Mengingat Mati.

Mati itu pasti. Segala yang pasti itu dekat. Dengan mengingat mati, segala yang sedikit akan terasa banyak dan segala yang banyak akan jadi sedikit.  Rasulullah pun memerintahkan untuk banyak mengingat kematian. Beliau bersabda, “Banyak-banyaklah mengingat pemutus kenikmatan yaitu kematian.”[4]

Ada janji manis bagi mereka yang istikamah. Simaklah firman Allah,

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian tetap istikamah, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih.” (Q.S. Al-Ahqāf/46:13)

“Tidak ada rasa takut terhadap apa yang ada di depan mereka dan juga tak merasa bersedih terhadap apa yang ada di belakang mereka,” Demikian tafsiran as-Sa’di terkait ayat ini5.

Orang yang istikamah pun dijanjikan surga. Allah berfirman,

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu’.” (Q.S. Fussilat/41:30)


Footnote:

[1] Lihat: Madārij as-Sālikīn karangan Ibnu al-Qayyim (2/102).

[2] Judul artikel: Wasā`il al-Tsabāt ‘alā Dīnillah. https://ar.islamway.net/article/15999/%D9%88%D8%B3%D8%A7%D8%A6%D9%84-%D8%A7%D9%84%D8%AB%D8%A8%D8%A7%D8%AA-%D8%B9%D9%84%D9%89-%D8%AF%D9%8A%D9%86-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87

[3] H.R. Muslim (4798).

[4] H.R. Tirmizi (2229), Nasa’i (1801) dan Ibnu Majah (4248).

5 Lihat: Tafsir as-Sa’di.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments