SUNAH BERKHITAN

244
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَن النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اخْتَتَنَ إِبْرَاهِيمُ خَلِيلُ الرَّحْمَنِ بَعْدَمَا أَتَتْ عَلَيْهِ ثَمَانُونَ سَنَةً، وَاخْتَتَنَ بالقَدُومِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَهَذَا لَفْظُ البُخَارِيِّ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Ibrahim khalil al-Rahman berkhitan pada usia delapan puluh tahun, beliau berkhitan dengan al-Qaduum.”[1]

Kosa kata hadis:

  1. Al-Qaduum (القَدُوم), dapat bermakna besi tajam yang digunakan sebagai alat pertukangan jika huruf “dal” dibaca tanpa tasydid (huruf rangkap). Atau bermakna nama tempat (lokasi) jika huruf “dal” dibaca dengan tasydid. Kedua makna tersebut memungkinkan untuk digunakan.[2]

Al-Mawardiy menyatakan bahwa makna al- Qaduum adalah kapak.

Al-Bukhari lebih cenderung bahwa ia adalah nama tempat.

  1. Al-Khitaan (الْخِتَانُ), secara bahasa bermakna memotong. Sedangkan makna khitansecara istilah adalah memotong kulup (kulit pada ujung kemaluan laki-laki); bersunat.[3]

Atau khitan adalah memotong kulup; bersunat, atau jika pada perempuan adalah memotong sebagian kulit pada bagian paling atas kemaluannya.[4]

Makna hadis:

Nabi Ibrahim khalilulllah r berkhitan pada usia 80 tahun, namun hal ini tidak bermakna bahwa orang yang berkhitan harus menunggu usia 80 tahun sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam karena pada umumnya manusia sekarang wafat sebelum mencapai usia delapan puluh tahun.

Nabi Ibrahim r berkhitan pada usia itu karena wahyu perintah untuk berkhitan turun pada waktu tersebut.[5]

Faedah dan istinbat dari hadis:

  1. Khitan adalah amalan yang disunahkan sejak para Nabi terdahulu.
  2. Khitan memberikan manfaat kebersihan bagi orang yang melakukannya karena dengan berkhitan kotoran yang terkumpul pada kulup kemaluan laki-laki dapat dibersihkan.[6]
  3. Waktu berkhitan yang disunahkan oleh sahabat Nabi Muhammad r adalah sesudah tamyiz dan sebelum balig, berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma ketika ditanya oleh Rasulullah r tentang usianya, beliau menjawab, “Saya saat itu sudah berkhitan dan para sahabat tidak berkhitan kecuali telah mencapai usia baligh.”[7]

Ibnu Abbas lahir tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah dan usia beliau ketika Nabi Muhammad r wafat adalah tiga belas tahun, dan terkadang anak kecil sudah balig (bermimpi basah) pada usia dua belas tahun.[8]

Sebagian ulama mengunakan frasa terkait waktu ideal berkhitan adalah ketika anak telah mulai diperintahkan melaksanakan ibadah salat.

  1. Khitan pada masa kecil lebih meringankan rasa sakit karena organ tubuh tersebut masih lemah dan masa pertumbuhan, juga karena pemahaman anak kecil belum sempurna.[9]
  2. Hadis tersebut juga dapat bermakna bahwa Nabi Ibrahim berkhitan dengan alat dan tempat yang memiliki nama yang serupa.[10]
  3. Nabi Ibrahim alaihissalam memiliki usia 120 tahun. Artinya, setelah berkhitan pada usia 80 tahun, beliau hidup setelahnya selama 40 tahun.[11]

 


Footnote:

[1] H.R. al-Bukhari (3356), Muslim (2370).

[2] Ibnu Batthal. Op. Cit. Jilid 9, hlm. 68.

[3] Ibid.

[4] Abul Fadhl Zainuddin al-Iraaqi. Op. Cit. Jilid 2, hlm. 75.

[5] Ibnu Batthal. Op. Cit. Jilid 9, hlm. 69.

[6] Ibid.

[7] H.R. al-Bukhari (6299).

[8] Ibnul Jauzi. Kasyful Musykil Min Hadits al-Shahihaini. Jilid 2, hlm. 414.

[9] Ibnu Batthal. Op. Cit. Jilid 9, hlm 69.

[10] Syihabuddin al-Qasthalaniy (w.923 H). Irsyadus Saari li Syarhil Shahihil Bukhari . Jilid 9, hlm. 170.

[11] Ibid.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments