HADIS-HADIS TENTANG MANDI JUMAT

390
Perkiraan waktu baca: 7 menit
image_pdfUnduh PDF

Hari Jumat adalah hari raya umat Islam yang datang setiap pekannya. Oleh karena itu, kedatangannya patut disambut dengan suka cita dengan melaksanakan beberapa hal dalam menyambut dan memuliakannya. Dalam edisi Jumat kali ini dan juga Jumat depan, insyaAllah kami akan menyebutkan dan sedikit menjelaskan hadis-hadis yang berkaitan dengan persiapan menyambut dan memuliakan hari Jumat yang dimulai dengan beberapa poin penting terkait mandi di hari Jumat.

Pertama, Mandi Jumat adalah mandi ibadah dalam sepekan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: حَقٌّ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَغْتَسِلَ فِي كُلِّ سَبْعَةِ أَيَّامٍ يَغْسِلُ رَأْسَهُ وَجَسَدَهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, “Merupakan hak Allah atas setiap muslim untuk mandi di setiap tujuh hari, dengan mencuci kepala dan seluruh badannya.” [H.R. Bukhari (no. 897, 3487) dan Muslim (no. 849)]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ‏:‏ إِنَّ لِلَّهِ حَقًّا عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَغْتَسِلَ كُلَّ سَبْعَةِ أَيَّامٍ يَوْمًا، فَإِنْ كَانَ لَهُ طِيبٌ مَسَّهُ‏.‏

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya hak Allah atas setiap muslim adalah mandi satu hari pada setiap pekan, lalu jika ia memiliki wewangian, hendaklah ia memakainya.” [H.R. Ibnu Hibban (no. 1232) dan dinyatakan sahih oleh Syuaib al-Arnauth dalam tahkik Shahih Ibn Hibban (4/ 33)]

عَنْ جَابِر بن عبد الله رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ غُسْلٌ فِي سَبْعَةِ أَيَّامٍ كُلَّ جُمُعَةٍ

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Hendaknya bagi setiap muslim mandi sekali dalam tujuh hari yaitu setiap Jumat’.” [H.R. Ahmad (14266) dan dinyatakan sahih oleh Syuaib al-Arnauth dalam tahkik Musnad Imam Ahmad (22/ 167)]

Fikih dan Faedah Hadis:

  1. Mandi hari Jumat di antara hak Allah azza wajalla yang sepatutnya ditunaikan oleh setiap muslim.
  2. Mandi hari Jumat adalah mandi ibadah yang disyariatkan dalam setiap pekan.
  3. Mandi Jumat disertai dengan mencuci kepala.
  4. Anjuran memakai wewangian bagi yang melaksanakan salat Jumat.
  5. Ibnu Hazm berdalilkan dengan hadis ini dan beberapa hadis lain, berpandangan bahwa pensyariatan mandi Jumat terkait dengan harinya sebagai hari raya dan bukan karena pelaksanaan salat Jumat. Oleh karena itu, beliau berpendapat bolehnya menunda mandi setelah salat Jumat bahkan setelah salat Asar dan juga mandi Jumat diharuskan kepada wanita bahkan termasuk yang sedang haid dan nifas(1). Namun demikian jumhur ulama berpendapat bahwa mandi Jumat hanya disyariatkan bagi yang melaksanakan salat Jumat berdasarkan beberapa hadis lain yang akan disebutkan dalam pembahasan ini.

Kedua, Mandi Jumat disyariatkan bagi yang telah balig.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi orang yang sudah mimpi basah (balig).” [H.R. Bukhari (no. 858) dan Muslim (no. 846)]

عَنْ حَفْصَةَ رضي الله عنها عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ رَوَاحٌ إِلَى الْجُمُعَةِ وَعَلَى كُلِّ مَنْ رَاحَ إِلَى الْجُمُعَةِ الْغُسْلُ

Dari Hafshah radhiyallahu anha, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, “Atas setiap orang yang sudah bermimpi basah (balig), maka wajib pergi melaksanakan salat Jumat, dan atas yang berangkat salat Jumat hendaknya mandi.” [H.R. Abu Daud (no. 342) dan Nasai (no. 1371) serta dinyatakan sahih oleh Albani dalam Shahih al-Jami’ al-Shaghir (2/ 746)]

Fikih dan Faedah Hadis:

  1. Mandi Jumat wajib bagi yang sudah balig.
  2. Salah satu tanda balig adalah ihtilam (keluarnya mani; baik dalam keadaan mimpi atau sadar).
  3. Mandi Jumat adalah salah satu jenis ibadah, sehingga hanya disyariatkan bagi yang sudah balig.
  4. Salat Jumat wajib bagi laki-laki yang sudah balig.
  5. Mani Jumat diperintahkan bagi yang balig jika ingin menghadiri salat Jumat baik laki-laki maupun wanita. Adapun jika tidak hadir salat Jumat maka tidak diharuskan mandi walaupun sudah balig.

Ketiga, waktu Mandi Jumat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ كَغُسْلِ الْجَنَابَةِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, “Mandi hari Jumat hukumnya adalah wajib bagi setiap orang yang telah mimpi basah (balig) sebagaimana mandi janabah.” [H.R. Malik (no. 267) dengan sanad yang sahih, lihat: Ahadits al-Jumu’ah oleh Abdul Quddus Muhammad Nadzir (hal. 202)]

Fikih dan Faedah Hadis:

  1. Hadis ini maukuf dari perkataan Abu Hurairah radhiyallahu anhu namun memiliki hukum marfuk sampai kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.(2)
  2. Mandi Jumat berlaku bagi seorang yang balig yang akan melaksanakan salat.
  3. Ibnu Abdilbarr rahimahullah menjelaskan, “Maksud perkataan Abu Hurairah bahwa mandi Jumat sebagaimana mandi janabah yaitu kesamaan dalam bentuk dan kaifiatnya bukan dalam kewajibannya, sebagaimana telah kami sebutkan dalil-dalil tentang masalah ini.”(3)
  4. Pada hadis ini, mandi disandarkan pada hari Hal ini memberikan isyarat bahwa waktu mandi Jumat dimulai setelah salat Subuh, bukan sebelumnya. Oleh karena itu, barang siapa yang mandi sebelum Subuh maka jumhur ulama memandang hal ini tidak cukup dan belum dikatakan mandi Jumat.  

Keempat,  mandi ditekankan bagi yang menghadiri salat Jumat.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian mendatangi salat Jumat hendaklah ia mandi.” [H.R. Bukhari (no. 877) dan Muslim (no. 844)]

Fikih dan Faedah Hadis:

  1. Siapa saja yang akan hadir salat Jumat maka hendaknya dia mandi sebelumnya walaupun hukum asalnya dia tidak wajib melaksanakan salat Jumat seperti kaum wanita, anak kecil dan budak.
  2. Hadis ini dijadikan dalil oleh jumhur ulama bahwa mandi Jumat tidak dituntut bagi yang tidak hadir salat Jumat, berbeda dengan pandangan Ibnu Hazm rahimahullah yang telah disebutkan sebelumnya.
  3. Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa dari hadis ini seharusnya mandi dilakukan menjelang berangkat salat Jumat bukan sejak paginya(4). Namun jumhur ulama sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, tidak mengharuskan yang seperti itu apatah lagi dalam sebagian lafaz hadis ada yang menyebutkan, “Man ightasala yaumal jumu’ah tsumma..” (barang siapa yang mandi hari Jumat kemudian pergi…). Kata “kemudian” menunjukkan bolehnya ada jarak waktu cukup lama antara mandi dan berangkat salat Jumat(5).

Kelima, di antara dalil ulama yang memandang mandi Jumat wajib adalah:

عن طَاوُسٌ قال: قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ ذَكَرُوا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اغْتَسِلُوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْسِلُوا رُءُوسَكُمْ وَإِنْ لَمْ تَكُونُوا جُنُبًا وَأَصِيبُوا مِنْ الطِّيبِ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: أَمَّا الْغُسْلُ فَنَعَمْ وَأَمَّا الطِّيبُ فَلَا أَدْرِي

Dari Thawus berkata, “Aku berkata kepada Ibnu Abbas, ‘Orang-orang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Mandilah pada hari Jumat dan basuhlah kepala kalian sekalipun tidak sedang junub, dan pakailah wewangian’. Ibnu Abbas berkata, ‘Adapun mandi, memang benar (beliau sabdakan), sedangkan memakai wewangian aku tidak tahu’.” [H.R. Bukhari (no. 884)]

Fikih dan Faedah Hadis:

  1. Mandi Jumat disyariatkan bagi yang akan hadir salat Jumat walaupun dia tidak dalam keadaan junub.
  2. Perintah mencuci kepala pada saat mandi Jumat.
  3. Para ulama telah berbeda pendapat tentang hukum mandi Jumat walaupun semuanya sepakat bahwa salat Jumat tetap sah tanpa mandi.
  4. Hadis ini adalah salah satu dalil yang digunakan oleh ulama yang mewajibkan mandi Jumat, karena dalam hadis ini ada lafaz perintah yang jelas untuk mandi dan hukum asal dari suatu perintah adalah wajib. Sebagian sahabat memilih pendapat ini seperti Umar bin Khaththab, Abu Hurairah, Abu Said al-Khudri dan Ammar bin Yasir radhiyallahu anhum ajma’in, juga pendapat ulama Zhahiriyyah, salah satu riwayat dari imam Malik dan Ahmad serta pendapat yang dipilih oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ibnu Hajar al-Asqalani dan Ibnu Utsaimin rahimahumullahu jami’an.

Keenam, di antara dalil ulama yang tidak mewajibkan mandi Jumat adalah:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنْ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ

Dari Samurah bin Jundab radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Barang siapa yang berwudu pada hari Jumat maka hal itu sudah mencukupinya dan baik, akan tetapi barang siapa yang mandi, maka mandi itu lebih utama’.” [H.R. Abu Daud (no. 354), Tirmidzi (no. 497), Nasai (no. 1380) dan Ahmad (no. 20089). Hadis ini dinilai hasan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ Ash-Shaghir (2/ 1063) dan Syuaib al-Arnauth dalam tahkik Musnad Ahmad (33/ 280) sebagai hasan lighairihi]

Fikih dan Faedah Hadis:

  1. Anjuran mandi Jumat bagi yang akan melaksanakan salat Jumat.
  2. Barang siapa yang beruzur mandi atau tidak beruzur, namun mencukupkan dirinya dengan wudu untuk salat Jumat maka itu sudah cukup baginya.
  3. Hadis ini adalah satu dalil terkuat yang dipegangi oleh jumhur ulama yang memandang bahwa mandi Jumat hukumnya tidak wajib.

Ketujuh, sebab disyariatkannya Mandi Jumat.

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: كَانَ النَّاسُ يَنْتَابُونَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مِنْ مَنَازِلِهِمْ وَالْعَوَالِيِّ فَيَأْتُونَ فِي الْغُبَارِ يُصِيبُهُمْ الْغُبَارُ وَالْعَرَقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُمْ الْعَرَقُ فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْسَانٌ مِنْهُمْ وَهُوَ عِنْدِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ أَنَّكُمْ تَطَهَّرْتُمْ لِيَوْمِكُمْ هَذَا

Dari Aisyah, isteri Nabi shallallahu alaihi wasallam, ia berkata, “Orang-orang datang berbondong-bondong pada hari Jumat dari tempat tinggal mereka dan pinggiran kota yang jauh, mereka datang melewati padang pasir yang berdebu sehingga mereka pun berdebu dan berkeringat. Lalu seorang dari mereka mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang saat itu beliau sedang bersamaku, beliau lantas bersabda, ‘Seandainya kalian mandi dahulu untuk hari Jumat ini’.” [H.R. Bukhari (no. 902) dan Muslim (no. 847)]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَسَأَلَهُ رَجُلٌ عَنْ الْغُسْلِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَاجِبٌ هُوَ؟ قَالَ: لَا وَمَنْ شَاءَ اغْتَسَلَ وَسَأُحَدِّثُكُمْ عَنْ بَدْءِ الْغُسْلِ كَانَ النَّاسُ مُحْتَاجِينَ وَكَانُوا يَلْبَسُونَ الصُّوفَ وَكَانُوا يَسْقُونَ النَّخْلَ عَلَى ظُهُورِهِمْ وَكَانَ مَسْجِدُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَيِّقًا مُتَقَارِبَ السَّقْفِ فَرَاحَ النَّاسُ فِي الصُّوفِ فَعَرِقُوا وَكَانَ مِنْبَرُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَصِيرًا إِنَّمَا هُوَ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ فَعَرِقَ النَّاسُ فِي الصُّوفِ فَثَارَتْ أَرْوَاحُهُمْ أَرْوَاحُ الصُّوفِ فَتَأَذَّى بَعْضُهُمْ بِبَعْضٍ حَتَّى بَلَغَتْ أَرْوَاحُهُمْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِذَا جِئْتُمْ الْجُمُعَةَ فَاغْتَسِلُوا وَلْيَمَسَّ أَحَدُكُمْ مِنْ أَطْيَبِ طِيبٍ إِنْ كَانَ عِنْدَهُ

Dari Ibnu Abbas, ada seorang laki-laki bertanya kepadanya tentang mandi pada hari Jumat, apakah itu wajib? Ibnu Abbas menjawab, “Tidak, barangsiapa yang mau silakan mandi, aku akan menyampaikan kepada kalian tentang permulaan disyariatkannya mandi (Jumat). Dahulu orang-orang membutuhkan, dan mereka biasa mengenakan (baju) wol. Mereka bekerja menyirami kebun kurma (dengan memanggul beban) di punggung mereka, sementara masjid Nabi shallallahu alaihi wasallam sempit dan atapnya rendah, lalu orang-orang datang ke masjid dengan memakai pakaian terbuat dari wol sehingga mereka berkeringat, sementara itu mimbar Nabi shallallahu alaihi wasallam pendek hanya tiga anak tangga, maka orang-orang pun berkeringat di dalam wol, sehingga merebaklah aroma mereka dan aroma wol, akibatnya, hal ini saling mengganggu satu sama lain, sehingga aroma mereka pun sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang di atas mimbar, lalu beliau bersabda, ‘Wahai manusia, apabila kalian (hendak) mendatangi (salat) Jumat, maka mandilah kalian dan hendaklah seseorang dari kalian mengenakan pewangi terbaik bila ia memilikinya’.” [H.R. Ahmad (no. 2419), sanadnya baik sebagaimana dinyatakan oleh Syuaib al-Arnauth dalam tahkik Musnad Ahmad (4/ 242)]

Fikih dan Faedah Hadis:

  1. Semangat dan kesungguhan para sahabat radhiyallahu anhum untuk menghadiri salat Jumat dengan menempuh perjalanan yang jauh dan cuaca yang panas serta padang pasir yang berdebu.
  2. Perintah untuk mandi ketika menghadiri salat Jumat utamanya bagi yang mengalami keadaan seperti disebutkan dalam hadis.
  3. Perhatian dan nasehat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada umatnya untuk senantiasa melakukan hal yang terbaik dalam peribadatan kepada Allah azza wajalla.
  4. Perhatian Salaf Saleh dan kesungguhan mereka untuk mengetahui hukum-hukum dalam syariat dengan cara bertanya kepada para ulama.
  5. Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma adalah di antara sahabat yang berpendapat bahwa mandi Jumat adalah tidak wajib.
  6. Pentingnya mengetahui sabab wurud hadis agar dapat memahami hukum dengan baik dan lebih tepat.
  7. Kehidupan para sahabat radhiyallahu anhum yang penuh dengan kesederhanaan dan fasilitas atau sarana hidup yang sangat terbatas.
  8. Bolehnya tetap bekerja dan beraktifitas di hari Jumat dan tidak harus diliburkan sebagaimana yang kita dapatkan dari generasi sahabat, tentu saja selama tidak melalaikan dari pelaksanaan salat Jumat.
  9. Keterbatasan fasilitas yang ada di masjid Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada awal Islam tidak menghalangi mereka untuk menghadiri salat berjemaah dan meramaikannya.
  10. Mimbar Nabi shallallahu alaihi wasallam memiliki tiga anak tangga.
  11. Aroma badan dan keringat termasuk hal yang mengganggu kekhusyukan salat berjemaah.
  12. Seruan kepada jemaah pada saat khotbah dengan, “Yaa ayyuhan naas” (Wahai sekalian manusia).
  13. Di antara fungsi dan peran khotbah adalah mengingatkan kesalahan atau hal yang terlalaikan pada sebagian jemaah secara umum tanpa harus menyebutkan nama-nama mereka secara khusus.
  14. Disyariatkannya mandi bagi yang akan menghadiri salat Jumat.
  15. Anjuran memakai wewangian yang terbaik pada saat menghadiri salat Jumat.
  16. Berdasarkan hadis ini sebagian ulama di antaranya Syekh Islam Ibnu Taimiah(6) memandang kewajiban mandi Jumat hanyalah bagi mereka yang memiliki aroma badan atau keringat yang bisa mengganggu jemaah, adapun yang tidak demikian maka hukum mandi sangat dianjurkan namun tidak wajib serta bisa dicukupkan dengan wudu.

Wallahu a’lam.

Footnote:

(1) Lihat: al-Muhalla bi al-Aatsar (1/ 266)

(2) Lihat: al-Mushannaf (3/ 198, no. 5305) oleh Abdurrazzaq al-Shan’ani dan Ahadits al-Jumu’ah oleh Abdul Quddus Muhammad Nadzir (hal. 202)

(3) Al-Istidzkar (2/ 12)

(4) Lihat: al-Muwaththa’ (hal. 102) dan al-Mudawwanah (1/ 227-228)

(5) Lihat: Fathu al-Baari (2/ 357)

(6) Lihat: al-Fatawa al-Kubra (5/ 307)

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments