BEBERAPA HADIS LEMAH DAN PALSU BERKAITAN DENGAN KEUTAMAAN ZULHIJAH DAN BERKURBANPerkiraan waktu baca: 8 menit

77
BEBERAPA HADIS LEMAH DAN PALSU BERKAITAN DENGAN KEUTAMAAN ZULHIJAH DAN BERKURBAN

HADIS PERTAMA:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الحِجَّةِ، يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ، وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ القَدْرِ

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallaahu alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah melebihi sepuluh hari pertama bulan Zulhijah, satu hari berpuasa di dalamnya setara dengan setahun berpuasa dan satu malam mendirikan salat malam setara dengan salat pada malam lailatulqadar.

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dalam Jāmi’ al-Tirmidzi; Abwāb al-Shaum ‘an Rasulillah shallallahu alaihi wasallam, Bab Hadis Amalan di Sepuluh Hari Pertama Zulhijah, no. 758 dan Ibnu Majah dalam Sunan Ibn Majah; Kitab al-Shiyām, Bab Puasa Sepuluh Hari Pertama Zulhijah,  no. 1728. Keduanya dari jalur Mas’ūd bin Wāshil dari Nahhās bin Qahm dari Qatādah dari Said bin Musayyib dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu.

Keterangan:

Sanad hadis ini lemah karena salah seorang perawinya bernama Nahhās bin Qahm telah dinilai lemah oleh beberapa ulama, di antaranya: Yahya bin Saīd al-Qaththān, al-‘Uqaili dan al-Nasāi. Di sanadnya juga ada  perawi yang memiliki kelemahan yaitu Mas’ūd bin Wāshil sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Daud al-Sijistāni, Abu Daud al-Thayālisi, Ibnu Hajar al-Asqālani dan lainnya. Hadis ini tidak memiliki jalur periwayatan yang lain sebagaimana dinukil oleh al-Tirmidzi dari Imam Bukhari. Al-Albani telah menyimpulkan hadis ini sebagai hadis lemah dalam kitabnya Silsilah al-Ahādits al-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah (11/ 242).

 

HADIS KEDUA:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: من صَامَ الْعَشْرَ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَوْمُ شَهْرٍ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ سَنَةٌ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ سَنَتَانِ

Artinya: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang berpuasa di sepuluh hari pertama Zulhijah maka baginya di setiap hari pahala puasa sebulan dan ketika dia puasa di hari tarwiyah baginya pahala setahun dan ketika dia puasa di hari Arafah baginya pahala puasa dua tahun

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya al-Maudhu’at (no. 1137).

Keterangan:

Hadis ini tidak sahih sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu al-Jauzi, pada sanadnya terdapat al-Kalbi yang dikenal sebagai pendusta sebagaimana yang dikatakan oleh Sulaiman al-Taimi dan ditegaskan oleh Ibnu Hibban. Lihat: Al-Maudhu’āt (2/ 566), Tanzīh al- Syarī’ah (2/ 156) dan Al-Fawāid Al-Majmū’ah  (no. 30).

HADIS KETIGA:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صِيَامُ أَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْعَشْرِ يَعْدِلُ مِائَةَ سَنَةٍ وَالْيَوْمِ الثَّانِي يَعْدِلُ مِائَتَيْ سَنَةٍ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ يَعْدِلُ أَلْفَ عَامٍ وَصِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ يَعْدِلُ أَلْفَيْ عَامٍ

Artinya: Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berpuasa di hari pertama Zulhijah setara dengan puasa setahun dan pada hari kedua setara dengan dua ratuis tahun, apabila berpuasa pada hari tarwiyah maka setara dengan puasa seribu tahun dan puasa Arafah setara dengan dua ribu tahun”.

Takhrij Hadis:

Diriwayatkan oleh al-Dailami dalam Musnad al-Firdaus (no. 3755), lihat: Zahru al-Firdaus (5/412).

Keterangan:

Hadis ini palsu, di sanadnya ada Muhammad Al-Muhrim seorang pendusta, lihat: Dzail Al-Laāli al-Mashnū’ah (1/ 468) dan Tadzkirah al-Maudhū’āt (hal. 119).

 

HADIS KEEMPAT:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ كَفَّارَةُ سَنَةٍ، وَصَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ

Baca juga:  PERKATAAN YANG SERING DIANGGAP HADIS

Artinya: “Puasa hari tarwiyah menghapuskan dosa setahun dan puasa hari Arafah menghapus dosa dua tahun”

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu al-Qasim al-Ashbahani dalam al-Targhib wa al-Tarhib (no. 370), Abu Syekh dalam Al-Tsawāb ‘ala al-A’māl(1) dan Ibnu An-Najjār dalam Tarikhnya(2) dari jalur Ali bin Ali al-Himyari dari al-Kalbi dari Abu Saleh dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma secara marfuk

Keterangan:

Syekh al-Albani mengatakan,  “Hadis ini maudhu’ (palsu). Cacatnya berasal dari al-Kalbi, yaitu Muhammad bin as-Sā’ib. Al-Hafizh berkata: ‘Ia dituduh berdusta.’ Aku (al-Albani) berkata: Bahkan dia sendiri pernah berkata kepada Sufyān ats-Tsaurī: ‘Setiap hadis yang aku ceritakan kepadamu dari Abu Shalih, maka itu adalah dusta!’ Sedangkan ‘Ali bin ‘Ali al-Himyari, Ibnu Abi Hatim menyebut biografinya dalam kitabnya al-Jarh wa al-Ta’dil, namun beliau tidak menyebutkan celaan maupun pujian terhadapnya.”(3)

HADIS KELIMA:

عَنْ بَعْضِ، أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ، وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ

Artinya: Dari sebagian isteri Nabi shallallahu alaihi wasallam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada sembilan hari bulan Zulhijah, serta pada hari Asyura, tiga hari dari setiap bulan, dan hari Senin pertama serta Kamis pada setiap bulan.

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya, kitab ash-Shaum, bab Fii Shaum al-‘Asyr, no. 2437 dan Ahmad dalam Musnadnya; Musnad al-Anshar, Hadits Ba’dhi Azwaji an-Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, no. 22334 dan juga dalam Musnad an-Nisa’, Hadits Hafshah Ummi al-Mu’minin, no. 26468, kesemuanya dari jalur al-Hurr bin al-Shayyah dari Hunaidah bin Khalid dari istrinya dari sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Keterangan:

Al-Mundziri mengatakan, “Terjadi perbedaan riwayat dari Hunaydah bin Khalid dalam sanadnya. Ada yang meriwayatkannya darinya sebagaimana yang kami bawakan, ada pula yang meriwayatkannya darinya dari Hafshah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ada juga yang meriwayatkannya darinya dari ibunya, dari Ummu Salamah, istri Nabi shallahu ‘alaihi wasallam, dalam bentuk yang lebih ringkas.”(4).

Al-Hafizh al-Zaila’i menyatakan hadis ini lemah lalu beliau menukil perkataan al-Mundziri di atas(5)

Syekh Syuaib al-Arnauth juga menerangkan bahwa hadis ini lemah karena adanya idhthirab (kegoncangan) dalam sanadnya. Hadis ini telah diriwayatkan dari Hunaydah dari istrinya dan diriwayatkan pula darinya dari ibunya, dari Ummu Salamah. Juga diriwayatkan darinya dari Hafshah binti Umar. Ada pula riwayat darinya dari Ummul Mukminin tanpa perantara, namun tidak disebutkan namanya. Selain itu, diriwayatkan pula dari al-Hurr bin ash-Shayyah, dari Ibnu Umar. Kedua jalur ini hanya menyebutkan kisah puasa saja.(6)

Syekh Al-Albani juga menyatakan hadis ini lemah dalam kitabnya Dha’īf Al-Jāmi’ al-Shaghir (no. 4570).

Walaupun hadis ini dilemahkan sebagian ulama namun bukan berarti tidak dianjurkan melaksanakan puasa sunah sejak awal Zulhijah karena telah sahih beberapa riwayat yang menunjukkan keutamaan memperbanyak amal saleh di sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dan tidak diragukan lagi bahwa puasa adalah salah satu amalan saleh yang sangat utama.

HADIS KEENAM:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ أَيَّامٍ أَفْضَلُ عِنْدَ اللَّهِ، وَلَا الْعَمَلُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ، فَإِنَّهَا أَيَّامُ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَذِكْرِ اللَّهِ، وَإِنَّ صِيَامَ يَوْمٍ مِنْهَا يَعْدِلُ بِصِيَامِ سَنَةٍ، وَالْعَمَلُ فِيهِنَّ يُضَاعَفُ سَبْعَمِائَةَ ضِعْفٍ

Artinya: Tidaklah ada hari yang lebih afdal di sisi Allah dan amalan saleh pada hari-hari itu lebih dicintai oleh Allah melebihi hari-hari ini (sepuluh hari pertama Zulhijah), maka perbanyaklah padanya tahlil, takbir dan zikir. Berpuasa di salah hari darinya senilai dengan puasa setahun dan amal saleh pada hari-hari itu dilipatgandakan tujuh ratus kali”

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra (no. 3481)

Keterangan:

Dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Muhammad bin Wahab ad-Dainuri (w. 358 H), beliau seorang perawi yang dilemahkan oleh sebagian ulama.(7)

Baca juga:  HADIS-HADIS LEMAH DAN PALSU DALAM KITAB DURRATUN NASIHIN (BAGIAN KETIGA)

Ibnu ‘Uqdah berkata: “Ibnu Wahb pernah mengirim kepadaku dua juz berisi riwayat-riwayat ganjilnya dari ats-Tsauri. Aku tidak mengenal dari riwayat-riwayat itu kecuali dua hadis saja, dan aku dahulu menuduhnya (berdusta).” Ibnu ‘Adi berkata: “Ia memiliki hafalan dan pengetahuan, namun Umar bin Sahl bin Kadar menuduhnya berdusta.” Ad-Daraquthni berkata: “Ia matruk (ditinggalkan hadisnya)”, pada kesempatan lain beliau (ad-Daraquthni) berkata: “Ia memalsukan hadis.”

Syekh al-Albani dalam Dha’if al-Targhib wa al-Tarhib (1/364) menyatakan hadis ini daif.


HADIS KETUJUH:

عَنْ حَفْصَةَ  رضي الله عنها، قَالَتْ: أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صِيَامَ عَاشُورَاءَ، وَالْعَشْرَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ

Artinya: Dari Hafshah radhiyallahu ‘anha dia berkata, “Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam; puasa Asyura, puasa sepuluh hari (di awal Zulhijah), puasa tiga hari dalam setiap bulan dan dua rakaat sebelum Subuh.“

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh an-Nasai dalam Sunannya; kitab ash-Shiyam, bab Bagaimana Berpuasa Tiga Hari dalam Setiap Bulan, no. 2416  dan Ahmad dalam Musnadnya; musnad an-Nisa’, Hadits Hafshah Ummil Mukminin, no. 26459.

Keterangan:

Syekh Syu’aib al-Arnauth menilai hadis ini lemah dalam tahkiknya terhadap Musnad Imam Ahmad (44/59-60), ia berkata, “Dalam sanad ini terdapat Abu Ishaq al-Asyja‘i, dan dia adalah seorang yang majhul (tidak dikenal keadaannya). Sebab, yang meriwayatkan darinya hanya Hasyim bin al-Qasim secara sendirian, dan tidak ada seorang pun yang diketahui memberikan penilaian tsiqah (terpercaya) kepadanya.”

Hadis ini juga dinilai lemah oleh Al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalīl (4/ 111).

HADIS KEDELAPAN:

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

Artinya: Dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada amalan yang dilakukan oleh anak Adam pada hari kurban yang lebih dicintai oleh Allah selain dari pada mengucurkan darah (hewan kurban). Karena sesungguhnya ia (hewan kurban) akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (rida) Allah sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban.“

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi dalam Sunannya; Abwab al-Adhahi ‘an Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam, bab Dalil Keutaman Berkurban, no. (1493) dan juga Ibnu Majah dalam Sunannya; kitab al-Adhahy, bab Pahala Berkurban, no. (3126).

Keterangan:

Hadis ini sanadnya lemah; ada perawi yang kuniahnya Abu Mutsanna dan namanya Sulaimān bin Yazīd al-Khuza’i al-Ka’bi al-Madani. Perawi ini telah dilemahkan oleh banyak ulama Al-Jarh wa At-Ta’dīl, di antaranya: Abu Hātim Ar-Rāzi, Ad Dāraquthni, Ibnu Hibbān, Ibnu Hajar dll.

Hadis ini telah dinilai lemah oleh Al Albani di Silsilah al-Ahādits Adh-Dha’īfah (2/ 14).

Al-Arnauth juga berkata dalam tahkik Sunan al-Tirmidzi (3/315), “Sanadnya lemah karena lemahnya Abu al-Mutsanna, yang bernama Sulaiman bin Yazid al-Khuza‘i. Selain itu, dalam sanad tersebut juga terdapat inqitha’ (keterputusan sanad), karena Abu al-Mutsanna tidak pernah mendengar riwayat dari Hisyam bin ‘Urwah, sebagaimana dinukil oleh Imam Tirmidzi sendiri dalam kitabnya al-‘Ilal al-Kabir 2/638 dari gurunya, al-Bukhari.”

HADIS KESEMBILAN:

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الْأَضَاحِيُّ؟ قَال: سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ، قَالُوا: فَمَا لَنَا فِيهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: بِكُلِّ شَعَرَةٍ، حَسَنَةٌ، قَالُوا: فَالصُّوفُ؟ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: بِكُلِّ شَعَرَةٍ مِنَ الصُّوفِ، حَسَنَةٌ

Artinya: Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah maksud dari hewan-hewan kurban seperti ini?” Beliau bersabda, “Ini merupakan sunah (ajaran) bapak kalian, Ibrahim.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas apa yang akan kami dapatkan dengannya?” Beliau menjawab, “Setiap rambut terdapat kebaikan.” Mereka bertanya (lagi), “Bagaimana dengan bulu-bulunya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dari setiap rambut pada bulu-bulunya terdapat suatu kebaikan.“

Baca juga:  HADIS-HADIS LEMAH DAN PALSU DALAM KITAB DURRATUN NASIHIN (BAGIAN KEDUA)

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Mājah dalam Sunannya; kitab al-Adhahy, bab Pahala Udhiyah, no. (3127) dan Ahmad dalam Musnadnya; Awwalu Musnad al-Kufiyyin, Hadis Zaid bin Arqam, no. (19283).

Keterangan:

Pada sanad hadis ini ada perawi yang kuniahnya Abu Daud al-A’ma Ad Dārimi dan namanya  Nufai’ bin Hārits, perawi ini dilemahkan oleh para ulama bahkan sebagian menghukuminya sebagai matruk (ditinggalkan) sebagaimana dikatakan oleh Amru bin Ali al-Fallas, Nasai, Daraquthni, Ibnu Hibban dll. Perawi kedua yang juga sangat lemah adalah A’idzullah bin Abdullah  al-Bashri sebagaimana dikatakan oleh Imam Bukhari, Abu Hatim , Ibnu Hibban  dll. Hadis ini dinilai palsu oleh Al Albani dalam Silsilah al-Ahadits Adh Dha’ifah wa Al-Madhu’ah (2/14) dan Al Arnauth dalam tahkik Sunan Ibn Majah (4/305) mengatakan sangat lemah.

 

HADIS KESEPULUH:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِفَاطِمَةَ عَلَيْهَا الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: قَوْمِي إِلَى أُضْحِيَّتِكَ فَاشْهَدِيهَا فَإِنَّ لَكِ بِأَوَّلِ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْ دَمِهَا يُغْفَرُ لَكِ مَا سَلَفَ مِنْ ذُنُوبُكَ، قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا لَنَا أَهْلَ الْبَيْتِ خَاصَّةً أَوْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً؟ قَالَ: بَلْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً

Artinya: Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Fatimah radhiyallahu anha, “Bangkitlah menuju ke kurbanmu dan saksikanlah, karena sesuangguhnya tetesan pertama dari darahnya dossmu uang telah lampau kana diampunkan, Fatmah bertanya, Wahai Rasulullah apakah ini khusus untuk kami ahlul bait atau seluruh kaum muslimin? Beliau menjawab, “Bahkan untuk kita dan untuk seluruh kaum muslimin”.

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Hakim dalam al-Mustadrak; kitab al-Adhahy, (no. 7525)

Keterangan:

Pada sanad hadis ini ada ‘Athiyyah bin Saad Al-Aufi yang sangat lemah sebagaimana dikatakan oleh Adz Dzahabi dalam Talkhis al-Mustadrak(8). Al-Albani menilai hadis ini sebagai mungkar sebagaimana dalam Dha’if at Targhib wa At Tarhib  (1/337).

 

HADIS KESEBELAS:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa memiliki keluasaan (untuk berkurban) namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat Id kami.“

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya; kitab al-Adhahy, bab Udhiyah Apakah Wajib atau Tidak?, no. (3123) dan Ahmad dalam Musnadnya; Musnad Abi Hurairah radhiyallahu anhu, no. (8273).

Keterangan:

Dalam sanadnya ada perawi Abdullah bin Ayyasy, perawi ini dilemahkan oleh sebagian ulama di antaranya Abu Daud, Nasai dan Ibnu Yunus(9). Hadis ini dilemahkan oleh Ahmad, Bushiri dan Al Arnauth(10). Kebanyakan ulama mengatakan hadis ini mauquf, di antaranya: al-Tirmidzi, al-Thahawi, al-Daraquthni, al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr dan Ibnu Abdil Hadi(11).

 

 

 


Footnote:

(1) Lihat: Al-Fathu al-Kabir (2/184) dan Faidh al-Qadir (4/211).

(2) Lihat: Faidh al-Qadir (4/211).

(3) Irwa’ al-Ghalīl (4/ 112), lihat juga: Dha’if al-Jami’ (no. 3501).

(4) Mukhtashar Sunan Abi Daud (2/125).

(5) Nashbu al-Rāyah ( 2/ 157).

(6) Tahkik Musnad Imam Ahmad (37/24).

(7) Lihat: al-Kamil karya Ibnu ‘Adi (4/862), ad-Dhu‘afa karya ad-Daraquthni (hlm. 611), Tadzkirah al-Huffazh karya adz-Dzahabi (2/457) dan Lisan al-Mizan karya Ibn Hajar al-‘Asqalani (4/375).

(8) Lihat: Al-Mustadrak (4/247) dan Mukhtashar Talkhish al-Mustadrak karya Ibn al-Mulaqqin (6/2801).

(9) Lihat: Tahdzib al-Tahdzib (7/142).

(10) Lihat: Mishbah al-Zujajah fi Zawaid Ibn Majah (3/222) dan tahkik al-Arnauth terhadap Musnad Imam Ahmad (14/24) dan Sunan Ibn Majah (4/302).

(11) Lihat: Ikhtilaf al-‘Ulama karya al-Thahawi (3/221), Al-Tamhid karya Ibnu Abdil Barr (15/125) dan Al-Muharrar karya Ibnu Abdil Hadi (1/419).

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted