![Markaz Sunnah [] Markaz Sunnah []](https://markazsunnah.com/wp-content/uploads/2026/07/Markaz_Sunnah_20260706_083707_00001-696x435.png)
HADIS-HADIS LEMAH DAN PALSU DALAM KITAB DURRATUN NASIHIN[1]
(BAGIAN KEENAM)
Daftar isi:
Hadis Kedua Belas
جَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، لَا يُصَلِّي عَلَيْكَ أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِكَ إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، وَمَنْ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
Artinya: “Jibril ‘alaihissalām datang kepadaku, lalu berkata, “Wahai Muhammad, tidaklah seorang pun dari umatmu berselawat kepadamu, melainkan tujuh puluh ribu malaikat akan berselawat (memohonkan rahmat) untuknya. Dan barang siapa yang didoakan (memohonkan rahmat) oleh para malaikat, maka ia termasuk penghuni surga..”
Takhrij Hadis:
Hadis ini belum diketahui asal periwayatannya. Penulis (Dr. Ahmad Lutfi rahimahullah) mengatakan bahwa beliau hanya menemukan perkataan ini dalam kitab Dalā’il al-Khayrāt karya al-Jazūlī, serta dalam dua kitab Syiah, yaitu Jāmi’ al-Akhbār dan Biḥār al-Anwār, yang mengutipnya dari Jāmi’ al-Akbar. Seluruh sumber tersebut menyebutkan hadis ini tanpa sanad dan tanpa menjelaskan siapa perawinya. Adapun al-Khūbāwī menukil hadis ini dari kitab Zubdah al-Wā’iẓīn.
Hukum Hadis: Maudhu’/Palsu
Hadis ini dinilai palsu karena hanya disebutkan dalam kitab-kitab yang tidak muktabar dan tanpa adanya sanad.
Hadis Ketiga Belas
إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ، يَجِيءُ قَوْمٌ لَهُمْ أَجْنِحَةٌ كَأَجْنِحَةِ الطَّيْرِ، فَيَطِيرُونَ بِهَا عَلَى حِيطَانِ الْجَنَّةِ. فَيَقُولُ لَهُمْ خَازِنُ الْجَنَّةِ: مَنْ أَنْتُمْ؟ فَيَقُولُونَ: نَحْنُ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ﷺ. فَيَقُولُ: هَلْ رَأَيْتُمُ الْحِسَابَ؟ فَيَقُولُونَ: لَا. ثُمَّ يَقُولُ ثَانِيًا: هَلْ رَأَيْتُمُ الصِّرَاطَ؟ فَيَقُولُونَ: لَا. ثُمَّ يَقُولُ: بِمَ وَجَدْتُمْ هَذِهِ الدَّرَجَاتِ؟ فَيَقُولُونَ: عَبَدْنَا اللَّهَ تَعَالَى سِرًّا فِي دَارِ الدُّنْيَا، وَدَخَلْنَا الْجَنَّةَ سِرًّا فِي دَارِ الْآخِرَةِ
Artinya: “Apabila Hari Kiamat tiba, akan datang suatu kaum yang memiliki sayap seperti sayap burung. Dengan sayap itu mereka terbang di atas dinding-dinding surga. Lalu penjaga surga berkata kepada mereka, ‘Siapakah kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah bagian dari umat Muhammad ﷺ.’ Penjaga surga bertanya, ‘Apakah kalian telah melalui hisab?’ Mereka menjawab, ‘Belum.’ Kemudian ia bertanya lagi, ‘Apakah kalian telah melewati shirath?’ Mereka menjawab, ‘Belum.’ Lalu ia bertanya, ‘Karena amalan apa kalian memperoleh kedudukan-kedudukan yang tinggi ini?’ Mereka menjawab, ‘Kami beribadah kepada Allah Ta’ala secara sembunyi-sembunyi ketika di dunia, maka Allah memasukkan kami ke dalam surga secara sembunyi-sembunyi pada kehidupan akhirat.'”
Takhrij Hadis:
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam al-Majrūḥīn (1/322) dan al-Sulamī dalam al-Arba‘īn fī al-Taṣawwuf (hlm. 10), keduanya melalui jalur Humaid bin ‘Alī al-Qaysī dari Anas bin Malik. Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Daylamī dalam Musnad al-Firdaus (1/255) melalui jalur al-Sulamī.
Hukum Hadis: Maudhu’/Palsu
Hadis ini juga disebutkan oleh adz-Dzahabi dalam Mīzān al-I‘tidāl dan Ibnu Hajar dalam Lisān al-Mīzān pada biografi Humaid al-Qaysī. Keduanya mengutip penilaian Ibnu Hibban tentang Humaid, “Jika ia tidak sengaja berdusta, berarti ia tidak mengetahui apa yang diucapkannya.” Sementara itu, al-Hakim menilai Humaid sebagai seorang pendusta. Oleh karena itu, hadis ini dihukumi sebagai hadis palsu.2
Footnote:
[1] Tulisan ini merupakan ringkasan dan saduran dari kitab Takhrīj Aḥādīṡ Durrat al-Nāṣiḥīn karya Dr. K.H. Ahmad Lutfi Fathullah rahimahullah. Karya tersebut pada asalnya merupakan disertasi penulis yang diajukan di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pada tahun 1998.
2 Lihat: Mizan al-I’tidal (1/614) dan Lisan al-Mizan (3/300).
















