
HADIS-HADIS LEMAH DAN PALSU DALAM KITAB DURRATUN NASIHIN[1]
(BAGIAN KETIGA)
Daftar isi:
Hadis Keenam
الْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ إِلَى أَرْبَعَةِ نَفَرٍ: تَالِي الْقُرْآنِ، وَحَافِظِ اللِّسَانِ، وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ، وَالصَّائِمِينَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ.
Artinya: “Surga merindukan empat golongan orang: orang yang membaca Al-Qur’an, orang yang menjaga lisannya, orang yang memberi makan kepada orang-orang lapar, dan orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadan.”
Takhrij Hadis:
Hadis ini belum dapat ditemukan perawinya, al-Khubāwi mengutipnya dari kitab Rawnāq al-Majālis.
Hukum Hadis: Maudhu’/Palsu
Kitab Rawnāq al-Majālis adalah kitab cerita atau hikayat. Karena itu, hadis ini besar kemungkinan merupakan imajinasi tukang cerita. Keempat golongan yang dikatakan dalam hadis ini sebagai kelompok yang dirindukan oleh surga adalah benar-benar termasuk ahli surga. Tetapi apakah surga itu merinduikannya atau tidak, belum dapat ditemukan hadis yang mengisyaratkan hal itu. Hadis seperti itu lebih mendekati palsu
Hadis Ketujuh:
Artinya: “Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya di bulan Ramadan, lalu bergerak di tempat tidurnya dan berbalik dari satu sisi ke sisi yang lain, maka satu malaikat berkata kepadanya: ‘Bangunlah, semoga Allah memberkahimu dan merahmatimu.’ Jika ia bangun dengan niat salat, maka tempat tidurnya mendoakannya dan berkata: ‘Ya Allah, berilah dia kasur-kasur yang tinggi (mulia) di surga.’ Jika ia mengenakan pakaiannya, pakaiannya mendoakannya dan berkata: ‘Ya Allah, berilah dia pakaian-pakaian indah dari surga.’ Jika ia memakai kedua sandalnya, keduanya mendoakannya dan berkata: ‘Ya Allah, teguhkanlah kedua kakinya di atas shirath.’ Jika ia mengambil bejana (air/minum), bejana itu mendoakannya dan berkata: ‘Ya Allah, berilah dia minuman dari gelas-gelas surga.’ Jika ia berwudu, air mendoakannya dan berkata: ‘Ya Allah, bersihkanlah dia dari dosa-dosa dan kesalahan.’ Jika ia berdiri untuk salat, rumahnya mendoakannya dan berkata: ‘Ya Allah, lapangkanlah kuburnya, terangilah liang kuburnya, dan tambahkan rahmat untuknya.’ Allah Ta‘ala memandangnya dengan penuh rahmat, lalu berfirman ketika ia berdoa: ‘Wahai hamba-Ku, darimu doa dan dari Kami pengabulan. Darimu permintaan dan dari Kami pemberian. Darimu istighfar dan dari Kami ampunan.’”
Takhrij Hadis:
Hadis ini belum dapat ditemukan perawinya, al-Khubāwi mengutipnya dari kitab Zubdah al-Wāizīn.
Hukum Hadis: Maudhu’/Palsu
Meskipun belum ditemukan sanad dan perawinya, namun karena hadis ini dikutip dari kitab yang tidak muktabar dan tidak diketahui pengarangnya maka hadis ini dapat dikategorikan sebagai hadis yang tidak dikenali dalam kitab yang muktamad. Hadis dengan kategori semacam ini lebih mendekati kepalsuan.
Footnote:
[1] Tulisan ini merupakan ringkasan dan saduran dari kitab Takhrīj Aḥādīṡ Durrat al-Nāṣiḥīn karya Dr. K.H. Ahmad Lutfi Fathullah rahimahullah. Karya tersebut pada asalnya merupakan disertasi penulis yang diajukan di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pada tahun 1998.





![HADIS-HADIS LEMAH DAN PALSU DALAM KITAB DURRATUN NASIHIN (BAGIAN KEENAM) Markaz Sunnah []](https://markazsunnah.com/wp-content/uploads/2026/07/Markaz_Sunnah_20260706_083707_00001-218x150.png)










