BAB MENGHADAP KIBLAT: HUKUM SALAT DI ATAS KENDARAANPerkiraan waktu baca: 2 menit

65
pic compressed

SYARAH KITAB ‘UMDAH AL-AHKĀM(1)            

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما، أَنَّ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُسَبِّحُ عَلَى ظَهْرِ رَاحِلَتِهِ، حَيْثُ كَانَ وَجْهُهُ، يُومِئُ بِرَأْسِهِ، وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَفْعَلُهُ.

وَفِي رِوَايَةٍ: كَانَ يُوتِرُ عَلَى بَعِيرِه.

وَلِمُسْلِمٍ: غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يُصَلِّي عَلَيْهَا الْمَكْتُوبَةَ.

وَلِلْبُخَارِيِّ: إِلاَّ الْفَرَائِضَ

Artinya:

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah radhiyallahu ‘anhuma biasa melaksanakan salat sunah di atas punggung tunggangannya, ke mana pun arah wajahnya, dan beliau memberi isyarat dengan kepalanya. Ibnu Umar juga melakukan hal yang sama.

Dalam riwayat lain, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga melakukan salat witir di atas untanya.”

Dalam riwayat Muslim, “Namun beliau tidak mengerjakan salat fardu di atas kendaraan.”

Dalam riwayat Bukhari, “Kecuali salat fardu.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dalam Ṣaḥīḥ-nya, Kitābu Taqshīr ash-Shalāh (Mqngqasar Salat), Bāb Man Tathawwa’a fī as-Safari fī Ghairi Duburi ash-Shalawāt wa Qablahā (Bab Seseorang yang Melaksanakan Salat Sunah pada saat Safar, bukan Salat Setelah dan Sebelum Salat Wajib), no. 1054, dan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya, Kitābu Shalāti al-Musāfirīn wa Qashrihā, Bāb Jawāz Shalāti an-Nāfilah ‘ala ad-Dābbati fī as-Safari Haytsu Tawajjahat (Bab Bolehnya Melaksanakan Salat Sunah di Atas Kendaraan Saat Safar, ke Arah Mana pun Kendaraan itu Menghadap, no. 700. Lafaz hadis yang disebutkan sesuai periwatan Imam al-Bukhari.

Riwayat kedua diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dalam Ṣaḥīḥ-nya, Kitābu al-Witr, Bāb al-Witr ‘ala ad-Dābbah (Bab Salat Witir di Atas Kendaraan), no. 954, dan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya, Kitābu Shalāti al-Musāfirīn wa Qashrihā, Bāb Jawāz Shalāti an-Nāfilah ‘ala ad-Dābbati fī as-Safari Haytsu Tawajjahat (Bab Bolehnya Melaksanakan Salat Sunah di Atas Kendaraan Saat Safar, ke Arah Mana pun Kendaraan itu Menghadap, no. 700.

Baca juga:  AIR MUSTAKMAL

Riwayat ketiga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya, Kitābu Shalāti al-Musāfirīn wa Qashrihā, Bāb Jawāz Shalāti an-Nāfilah ‘ala ad-Dābbati fī as-Safari Haytsu Tawajjahat (Bab Bolehnya Melaksanakan Salat Sunah di Atas Kendaraan Saat Safar, ke Arah Mana pun Kendaraan itu Menghadap, no. 700.

Riwayat keempat diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dalam Ṣaḥīḥ-nya, Kitābu al-Witr, Bāb al-Witr fī as-Safar (Bab Salat Witir Pada Saat Safar), no. 955.

Syarah dan Faedah Yang Terkandung Dalam Hadis Ini:

  1. Hadis ini menunjukkan bahwa diperbolehkan bagi musafir untuk melaksanakan salat sunah di atas kendaraannya
  2. Musafir yang melaksanakan salat sunah di atas kendaraannya tidak diwajibkan menghadap kiblat saat itu. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
  3. Bolehnya salat di atas kendaraan ini hanya berlaku dalam keadaan safar bukan saat bermukim, dan khusus untuk salat sunah, bukan salat wajib.
  4. Adapun salat fardu tidak boleh dilakukan di atas kendaraan kecuali jika tetap bisa memenuhi seluruh syarat dan rukunnya, atau tidak memungkinkan turun hingga waktu salat tersebut dan salat yang dijamak dengannya berakhir, maka diperbolehkan karena keadaan darurat.

Footnote:

(1) Diterjemahkan dan disadur dari kitab “Mūjaz al-Kalām ‘ala ‘Umdah al-Ahkām” karya Dr. Manṣūr bin Muhammad Al-Ṣaq’ūb hafizhahullāh.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted