HASAN AL-BASRI (21-110 H) TELADAN DALAM ILMU DAN AMAL

217
Perkiraan waktu baca: 9 menit
image_pdfUnduh PDF

A.  Nama dan Kelahirannya

Ḥasan al-Baṣrī merupakan sosok tokoh yang sangat menakjubkan, kisah kehidupannya patut ditiru, akhlak dan keteguhannya layak dicontoh, keselarasan ilmu dan amalnya pantas dijadikan teladan. Nasihat-nasihatnya bagai butir-butir mutiara yang kemilaunya tidak sirna sepanjang masa.

Nama lengkapnya adalah Abū Sa’īd al-Ḥasan bin Abi al-Ḥasan al-Baṣrī.[1] Ayahnya, Yasar, adalah seorang budak tawanan dari Maisan (distrik antara Basrah dan Wasiṭ). Setelah ia dibebaskan oleh tuannya di Madinah, ia menikahi pembantu (mantan budak) Ummu Salamah al-Makhzūmiyah  yang bernama Khairah.[2]

Dari pernikahan mereka, lahirlah seorang tokoh umat, panutan sepanjang zaman, Ḥasan al-Baṣrī. Ia lahir dua tahun sebelum berakhirnya pemerintahan Umar bin al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu ‘anhu.[3] Jika pemerintahan Umar bin al-Khaṭṭāb dimulai tahun 13 H hingga 23 H, maka dapat diperkirakan bahwa tahun kelahiran al-Ḥasan al-Baṣrī adalah sekitar tahun 21 H.     

Meskipun ayah dan ibu Ḥasan al-Baṣrī adalah mantan budak, namun ia hidup dalam kasih sayang keluarga Nabi ﷺ dan para sahabatnya raḍiyallāhu ‘anhum. Cinta kasih Ummu al-Mukminin, Ummu Salamah, sering tercurahkan kepada al-Ḥasan kecil, karena ibunya bekerja di rumah Ummu Salamah. Kefasihan lisannya dan kecerdasan akalnya diserap dari berkah Ummul Mukminin ini raḍiyallāhu ‘anhā. Bahkan al-Ḥasan kecil pernah didoakan oleh Khalifah Umar bin al-Khaṭāb,

 اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ، وَحَبِّبْهُ إِلَى النَّاسِ

“Ya Allah, jadikanlah ia faqīh dalam agama, dan dicintai manusia.”[4]

Ia dikenal dengan nisbat-nya yaitu al-Baṣrī, karena seluruh keluarganya berhijrah dari Madinah ke Baṣrah dan menetap di sana. Ketika itu, Ḥasan al-Baṣrī berusia sekitar 15 tahun, setelah terjadi perang Jamal di tahun 36 H.[5] 

Siapa saja yang melihat Ḥasan al-Baṣrī, akan kagum dengan ketampanan wajahnya dan keindahan akhlaknya. Al-Zahabi (w. 748 H) menuturkan tentang ciri fisik dan kemuliaan sifatnya: postur tubuhnya sempurna, wajahnya tampan, parasnya menarik dan sangat pemberani.[6]

Al-Mizzī meriwayatkan bahwa sebelum al-Asy’aṡ bin Sawār dan ‘Aṣim al-Ahwal ke Baṣrah, mereka lebih dulu bertanya kepada al-Sya’bī (w. 104 H) tentang ciri-ciri Ḥasan al-Baṣrī, lalu al-Sya’bi berkata, “Jika Anda tiba di Baṣrah, perhatikanlah lelaki yang paling tampan, parasnya paling menarik, di Baṣrah tidak ada lelaki semisalnya (dalam warak, zuhud dan keidahan wajah), itulah Ḥasan al-Baṣrī, apabila Anda menemuinya sampaikan salamku padanya.”[7]

B.  Perkembangan Keilmuannya

Ḥasan al-Baṣrī tumbuh di kota Madinah dalam keluarga yang penuh takwa. Kedua orang tuanya memiliki cita-cita mulia untuk semua anak-anak mereka. Ḥasan al-Baṣrī memiliki dua orang saudara yang memiliki tingkat keilmuan dan ketakwaan yang sangat tinggi, yaitu Sa’īd bin Abi al-Ḥasan dan ‘Ammār bin Abī al-Ḥasan.[8]

Sejak kecil Yasar dan Khairah telah membimbing Ḥasan al-Baṣrī agar fokus memperdalam ilmu agama dan ia pun berhasil menghafal Al-Qur’an sebelum mencapai usia balig.[9] 

Berbeda dari sebagian pemuda di zaman ini, Ḥasan al-Baṣrī tidak menyia-nyiakan masa mudanya dalam kelalaian, akan tetapi waktu baginya bagaikan emas, yang tak boleh dilalui tanpa ada tindakan yang berharga. Di usia remaja, ia selalu ikut berjihad bersama kaum muslimin, menekuni ilmu dan mengamalkannya.

Perkembangan keilmuan Ḥasan al-Baṣrī dapat dibagi dalam dua babak, pertama, saat ia dan keluarganya masih tinggal di Madinah, dan kedua, setelah keluarganya berhijrah dan memutuskan untuk menetap di Baṣrah.  

Di masa pemerintahan Uṡmān bin ‘Affān (dari 23-35 H), Madinah bukan hanya ibu kota kekhilafahan, tetapi juga merupakan salah satu markaz dan destinasi ilmu Islam. Hal itu disebabkan karena masih banyak para sahabat yang bermukim di dalamnya.

Di Madinah, Ḥasan al-Baṣrī gemar menghadiri majelis-majelis ilmu di masjid Nabawi. Ia sering berkunjung kepada para sahabat raḍiyallāhu ‘anhum, untuk menimba ilmu dari mereka. Ḥasan al-Baṣrī juga menuturkan bahwa ia sering mendatangi rumah-rumah Rasulullah ﷺ -yang atapnya bisa diraih oleh anak remaja- agar bisa belajar dari  Ummahātul Mu’minīn.[10]  

Ia juga tak luput mendengarkan mutiara-mutiara ilmu dari khotbah Khalifah Uṡmān bin Affān di setiap salat Jumat di Masjid Nabawi. Ketika Khalifah Uṡmān bin Affān terbunuh oleh kaum Khawarij, Ḥasan al-Baṣrī saat itu berumur 14 tahun.[11]

Semangat Ḥasan al-Baṣrī dalam menuntut ilmu bagai cahaya mentari yang tak pernah padam. Setelah keluarganya pindah ke Baṣrah, Ḥasan al-Baṣrī tetap belajar dan menuntut ilmu dari sahabat-sahabat Nabi dan ulama-ulama besar yang berdomisili di sana.

Dari kesungguhannya dalam menuntut ilmu, Allah ﷻ mengaruniakan baginya derajat yang tinggi, lisan yang fasih, keberkahan dalam ilmu. Nasihat-nasihatnya sarat akan pelajaran, wejangan-wejangannya penuh dengan ilmu dan sastra yang menyerupai lisan seorang Nabi. Sulaiman bin Mihrān al-A’masy (w. 148 H) pernah berkata,

مَا زَالَ الْحَسَنُ البَصْرِيّ يَعِي الحِكْمَةَ حَتَّى نَطَقَ بِهَا، وَكَانَ إِذَا ذُكِرَ عِنْدَ أَبِي جَعْفَرٍ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيّ بْنِ الحُسَيْنِ قَالَ: ذَاكَ الَّذِي يُشْبِهُ كَلاَمُهُ كَلاَمَ الأَنْبِيَاءِ

“Kata-kata hikmah selalu menghiasi lisan Ḥasan al-Baṣrī, jika Abū Ja’far Muhammad bin ‘Ali bin al-Husain mendengar namanya, ia berkata, ‘Itulah orang yang ucapannya menyerupai ucapan para Nabi’.”[12] 

Dalam beberapa literasi tentang biografi Ḥasan al-Baṣrī disebutkan bahwa ia memiliki keakraban dengan Sa’īd bin al-Musayyib. Acap kali Ḥasan al-Baṣrī mengirim surat kepadanya di Madinah jika ada masalah yang ingin ditanyakannya. Imran bin Ḥuṣain menuturkan, “Tidak pernah kami mendapatkan kontradiksi fatwa dari kedua ulama ini (Ḥasan al-Baṣrī dan  Sa’īd bin al-Musayyib).”[13]

C.  Guru, Murid dan Kontribusinya dalam Islam

Luasnya wawasan dan dalamnya ilmu keislaman Ḥasan al-Baṣrī, tidak luput dari bimbingan guru-guru terbaiknya. Ḥasan al-Baṣrī berguru kepada banyak sahabat Nabi, di antaranya adalah, Anas bin Malik, Abdullāh bin ‘Abbās, Abdullāh bin ‘Umar,  Abdullāh bin ‘Amr bin al-Aṣ, Abū Mūsa al-‘Asy’arī, Jābir bin Abdillāh al-Anṣārī, Jundub bin Abdillāh al-Bajalī, dan yang lainnya.[14]

Dari hasil didikannya, lahirlah ulama-ulama besar yang menebarkan kebaikan Islam sepeninggalnya. Di antara murid-muridnya adalah Ayūb al-Sikhtiyānī, Qatādah bin Di’āmah al-Sadūsī, Khālid bin Mihrān al-Hażā’, Humaid al-Ṭawīl, Hisyam bin Hassan, Jarīr bin Hazim, Yazīd bin Ibrāhim al-Tusturi, Simāk bin Harb,  dan yang lainnya.[15]   

Kontribusi Ḥasan al-Baṣrī dalam menjaga sunnah Rasulullah ﷺ sangat besar, namanya kerap tergabung dalam rantai sanad periwayatan, lembar-lembar al-kutub al-tis’ah (sembilan kitab pokok hadis) mengabadikan namanya sebagai salah satu pewari yang ṡiqah. Ibnu Hajar (w. 852 H) berkata, “Ia adalah perawi yang ṡiqah, pakar fikih, memiliki keutaman dan sangat masyhur, namun ia juga dikenal sebagai perawi yang banyak melakukan tadlīs dan irsal.[16]  

Para pakar sejarah menyebutkan bahwa di masa hidupnya, Ḥasan al-Baṣrī pernah mengemban beberapa amanah jabatan, di antaranya adalah menjadi sekretaris gubernur Khurasan, al-Rabī’ bin Ziyād al-Hāriṡī, di masa pemerintahan Mu’āwiyah bin Abī Sufyān.[17]  

Selanjutnya ia juga pernah menjabat sebagai hakim di masa pemerintahan ‘Umar bin Abdul Azīz (w. 101 H) di wilayah Basrah. Dalam masa jabatannya sebagai hakim, demi menegakkan keadilan dan membela kebenaran, Ḥasan al-Baṣrī tidak pernah mengambil gaji dari pemerintah, tidak pula menerima upah dari siapapun.[18]    

D.  Apresiasi Ulama Terhadapnya

Sebagai imam besar bagi para tabi’īn di ṭabaqah (level) ketiga, Ḥasan al-Basri banyak mendapatkan pujian dan apresiasi dari para tokoh di zamannya, mulai dari kalangan tabi’īn hingga kalangan sahabat Nabi.

Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhu berkata, “Bertanyalah kepada Ḥasan al-Basri, karena banyak ilmu yang ia telah hafalkan sedang kami sudah lupa (karena tua).”[19]

Abū Burdah berkata, “Belum pernah aku melihat seseorang yang tidak bertemu Rasulullah ﷺ namun ia sangat mirip dengan akhlak sahabat Rasulullah ﷺ kecuali syekh ini (maksudnya Ḥasan al-Baṣrī).”[20]

Al-Mughīrah bin Syu’bah berkata, “Tokoh para tabi’īn yang terdepan di bidang ilmu adalah al-Sya’bi sebagai pakar ilmu peradilan dan sejarah, Ibrāhim al-Nakha’ī sebagai pakar halal dan haram, ‘Athā’ bin Abī Rabāh sebagai pakar hukum-hukum haji, Sa’īd bin Jubair sebagai pakar tafsīr, Muhammad bin Sīrīn sebagai pakar ilmu keuangan dan perdagangan, dan yang menguasai semua bidang ilmu itu adalah penghulu mereka yaitu Ḥasan al-Baṣrī.[21]  

Ibnu Sa’d berkata, “Ḥasan al-Basri adalah seorang alim yang luas dan tinggi ilmunya, terpercaya, hamba yang ahli ibadah, fasih lisannya, indah wajahnya.”[22]  

Al-Zahabi berkata, “Ia adalah seorang ulama yang keilmuannya bagai samudra yang tak bertepi, kedudukannya sangat dihormati, nasihat-nasihatnya indah dan menyentuh hati, dalam jiwanya terhimpun berbagai macam jenis kebaikan.[23]

Tentang waraknya, Ibrahim bin ‘Isa al-Yasykuri berkata, Tidak pernah aku melihat orang yang paling banyak bersedih daripada Ḥasan al-Baṣrī, setiap kali aku melihatnya seakan ia baru ditimpa musibah yang besar.”[24]  

Khalid bin Safwān berkata, “Ketaatan Ḥasan al-Baṣrī selalu seimbang dalam kesendiriannya atau saat di keramaian, perkataan dan perbuatannya selaras, jika ia menyeru manusia mengerjakan sesuatu, dialah yang paling pertama melakukannya, jika ia melarang manusia dari sesuatu, dialah yang paling dahulu meninggalkannya.”[25] 

E.  Mutiara-mutiara Hikmahnya

Mutiara-mutiara hikmah Ḥasan al-Baṣrī sangat banyak, susunan kalimat-kalimatnya indah, ungkapan-ungkapan sastranya menyentuh hati apalagi jika dibaca redaksi Arabnya, karena teks terjemah terkadang tidak mewakili semua sisi balāgah bahasa aslinya. Berikut ini beberapa wejangannya yang dituliskan oleh Abū Nu’aim al-Ashbahānī (w. 430 H) dalam Hilyatul Auliyā’.

“Sepantasnya seorang mukmin bersedih di setiap pagi dan petangnya, karena dia selalu berada di antara dua kekhawatiran, pertama, khawatir akan dosanya yang telah lalu, sudahkan Allah ampunkan? Kedua, khawatir akan dekatnya ajal, dalam kondisi apakah dia akan diwafatkan?”

“Ciri orang berilmu (faqīh) adalah zuhud terhadap dunia, mendalam ilmu agamanya, selalu melakukan ibadah kepada Rabnya ﷻ.” Ia juga pernah berkata, “Banyak tertawa dapat mematikan hati.”

Setelah Umar bin Abdul Azīz dinobatkan sebagai khalifah ke-8 Bani Umayah, Ḥasan al-Baṣrī menuliskan surat padanya, “Dunia ini bagaikan rumah yang menakutkan, tidaklah Adam diusir dari surga ke dunia melainkan sebagai hukuman, siapa yang memuliakan dunia dia akan hina. Setiap hari pasti ada yang mati, maka hadapilah dunia seperti orang yang sedang mengobati luka, ia bersabar atas perih yang sesaat, agar tidak merakasan derita sakit yang berkepanjangan”.[26]  

F.  Wafatnya

Ketika wafat, Ḥasan al-Baṣrī mewariskan duka yang mendalam bagi penduduk Baṣrah khususnya, dan bagi kaum muslimin umumnya. Ibnu Khilkān meriwayatkan dari Humaid al-Thawīl bahwa Ḥasan al-Baṣri wafat di malam Jumat. Keesokan harinya bakda salat Jumat, berbondong-bondong penduduk Baṣrah mengantarkan jenazah ulama yang mulia ini, hingga tak tersisa seorang pun di masjid Baṣrah, dan salat Asar ditunda pelaksanaannya.[27]  Ḥasan al-Baṣrī wafat di umur 89 tahun, pada malam Jumat tanggal 5 Rajab tahun 110 H, tepat seratus hari sebelum wafatnya Muhamad bin Sirīn.[28] Semoga rahmat Allah ﷻ selalu tercurahkan kepadanya dan kepada semua ulama Islam.

 


Footnote:

[1] Muhammad bin Ahmad bin Uṡmān al-Zahabī, Siyar A’lām al-Nubalā’, (cet. 2, muassasah al-Risālah, Beirut, 1405 H/1985 M), juz. 4, h. 563

[2] Ahli sejarah menyebutkan beberapa riwayat tentang tuan Yasar. Ada yang mengatakan bahwa tuannya  adalah Zaid bin Ṡābit, riwayat lain mengatakan Jamil bin Qutbah bin ‘Amir, riwayat lain al-Rabi’ binti al-Nadhr (bibi Anas bin Malik), riwayat lain mengatakan Abu al-Yusr Ka’b bin ‘Amr, riwayat lain mengatakan tuannya seorang lelaki dari Bani Najjar. Lihat al-Tabaqat al-Kubra, Ibnu Sa’d Juz 7, h. 114, lihat juga Tazkiratul hufaz, Al-Zahabī, juz 1, h. 57, lihat juga  Tahżib al-Kamal, Al-Mizzī, juz. 6, h. 96

[3] Muhammad bin Ahmad bin Uṡmān al-Zahabī, Siyar A’lām al-Nubalā’, juz 4, h. 564

[4] Abū Bakr al-Baghdādī, Akhbar al-Qudhat (cet. 1, al-Maktabah al-Tijariyah al-Kubra, Mesir, 1366 H/ 1947 M), juz. 2, h. 5

[5] Abū Yusuf Ya’qub bin Sufyān al-Fasawī, al-Ma’rifah wa al-Tārīkh, (cet. 2, Muassasah al-Risalah, Bairut, 1401 H/ 1981 M), juz. 2, h. 54

[6] Muhammad bin Ahmad bin Uṡmān al-Zahabī, Siyar A’lām al-Nubalā’, juz 4, h. 572

[7] Yusuf bin Abdirrahman al-Mizzī, Tahzīb al-Kamāl fī Asmā’i al-Rijāl, (cet. 1, Muassasah al-Risālah, Beirut, 1400 H/1980 M), juz. 6, h. 106 , Al-Sya’bī bernama asli ‘Amir bin Syurahbīl al-Humairī, seorang ulama dari kalangan tabi’īn yang bermukim di kota Kufah, lahir di tahun 17 H dan wafat di tahun 104 H   

[8] Sa’id bin Abi al-Hasan adalah seorang ulama yang ṡiqah, termasuk perawi al-kutub al-sittah, bahkan Hasan al-Basri berguru padanya, ia wafat sebelum Hasan al-Bashri di tahun 108 H di Persia (lihat Tahzib al-Tahzib, Ibnu Hajar al-Asqalānī, juz. 4, h. 16). Diriwayatkan bahwa ‘Ammār bin Abī al-Hasan adalah seorang yang banyak ibadahnya dan banyak menangis (lihat Tahzīb al-Kamāl, Al-Mizzī, juz. 6, h. 97)

[9] Muhammad bin Ahmad bin Uṡmān al-Zahabī, Tażkirat al-Huffāz, (cet. Dār al-Kutub al-Ilmiyah, Libanon, 1419 H/ 1998 M), juz. 1, h. 57

[10] Muhammad bin Ahmad bin Uṡmān al-Zahabī, Siyar A’lām al-Nubalā’, juz 4, h. 569

[11] Muhammad bin Sa’d bin Manī’ al-Hāsyimī, al-Tabaqāt al-Kubrā, (cet. 1, Dār al-Kutub al-Ilmiyah, Bairut, 1410 H/ 1990 M), juz. 7, h. 115

[12] Yusuf bin Abdirrahman al-Mizzī, Tahzīb al-Kamāl fī Asmā’i al-Rijāl, juz. 6, h. 118. Lihat juga Ibnu Kaṡīr, al-Bidayah wa al-Nihayah, (cet. 1, Darul Fikr, 1407 H/1986 M), juz. 9, h. 267

[13] Yusuf bin Abdirrahman al-Mizzī, Tahzīb al-Kamāl fī Asmā’i al-Rijāl, juz. 6, h. 107-108

[14] Yusuf bin Abdirrahman al-Mizzī, Tahzīb al-Kamāl fī Asmā’i al-Rijāl, juz. 6, h. 98

[15] Muhammad bin Ahmad bin Uṡmān al-Zahabī, Tażkirat al-Huffāz,  juz. 1, h. 57

[16] Ibnu Hajar al-Asqalānī, Taqrib al-Tahzib, (cet. 1, Dār al-Rasyīd,  Suria 1406 H/1986 M), h. 160

[17] Yusuf bin Abdirrahman al-Mizzī, Tahzīb al-Kamāl fī Asmā’i al-Rijāl, juz. 6, h. 97

[18] Abū Bakr al-Baghdādī, Akhbar al-Qudhat, juz. 2, h. 7-8

[19] Muhammad bin Ahmad bin Uṡmān al-Zahabī, Siyar A’lām al-Nubalā’, juz 4, h. 573

[20] Muhammad bin Sa’d bin Manī’ al-Hāsyimī, al-Tabaqāt al-Kubrā, juz. 7, h. 119

[21] Muhammad bin Jarir Abu Ja’far al-Thabari, al-Muntakhab min Zailil Mużīl, (cet. 1, Muassasah al-A’lami, Bairut), h. 125

[22] Muhammad bin Sa’d bin Manī’ al-Hāsyimī, al-Tabaqāt al-Kubrā, juz. 7, h. 162

[23] Muhammad bin Ahmad bin Uṡmān al-Zahabī, Tażkirat al-Huffāz,  juz. 1, h. 57

[24] Abū Nu’aim al-Asbahānī, Hilyatu al-Auliyā’ wa Tabaqātu al-Aṣfiyā’, (cet. 3, Dār al-Kutub al-Ilmiyah, Bairut, 1409 H), juz. 2, h. 133

[25] Abū Nu’aim al-Asbahānī, Hilyatu al-Auliyā’ wa Tabaqātu al-Aṣfiyā’, juz. 2, h. 147

[26] Abū Nu’aim al-Asbahānī, Hilyatu al-Auliyā’ wa Tabaqātu al-Aṣfiyā’, juz. 2, h. 132-152

[27] Ibnu Khilkān, Wafayāt al-A’yān wa Anbā’u Abnā’i al-Zamān, (cet. 1, Dār al-Shādir, Beirut, 1971 M), juz.  2, h. 72

[28] Muhammad bin Sa’d bin Manī’ al-Hāsyimī, al-Tabaqāt al-Kubrā, juz. 7, h. 132

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments