MEMBASUH JANGGUT YANG TERURAI KETIKA BERWUDU

104
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

وَعَن عَمْرو بن عَبَسَة قَالَ: قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، حَدِّثْنِي عَنِ الوُضُوءِ؟ قَالَ: ((مَا مِنْكُمْ رَجُلٌ يُقَرِّبُ وَضُوْءَهُ، فَيَمَضْمِضُ، وَيَسْتَنْشِقُ، فَيَنْتَثِرُ إِلَّا خَرَّتْ، خَطَايَا وَجْهِهِ وَفِيْهِ وخَيَاشِيْمِهِ، ثمَّ إِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ مِنْ أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ مَعَ الماءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلَى المِرْفَقَيْنِ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الماءِ، ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ مِنْ أَطْرَافِ شَعْرِهِ مَعَ الماءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إِلَى الكَعْبَيْنِ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رِجْلَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الماءِ، فَإِنْ هُوَ قَامَ، فَصَلى فَحَمِدَ الله، وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْلٌ، وَفَرَّغَ قَلْبَهُ للهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا انْصَرَفَ مِنْ خَطِيْئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ)). رَوَاهُ مُسْلِمٌ هَكَذَا، وَرَوَاهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ، وَابْنُ خُزَيْمَةَ فِي صَحِيحه، وَفِيْهِ ((كَمَا أَمَرَهُ اللهُ تَعَالَى))، بَعْدَ غَسْلِ الرِجْلَيْنِ.

Dari Amrū bin ‘Abasah raḍiyallāhu ‘anhu bahwa beliau pernah berkata, “Wahai Nabiyallāh, sampaikan kepada saya tentang wudu?” Beliau bersabda, “Jika seseorang di antara kalian sudah berada dekat dengan air wudunya, kemudian dia berkumur, ber-istinsyāq, dan ber-istintsār maka berjatuhanlah dosa-dosa wajah, mulut dan lubang hidungnya, kemudian jika dia membasuh wajahnya sesuai perintah Allah maka berjatuhanlah dosa-dosa wajahnya di sela-sela janggutnya bersama tetesan air, kemudian dia mencuci kedua tangannya hingga ke siku maka berjatuhanlah dosa-dosa tangannya di sela-sela ujung jemari tangannya bersama tetesan air, kemudian dia membasuh kepalanya maka berjatuhanlah dosa-dosa kepalanya di sela-sela ujung rambutnya bersama tetesan air, kemudian dia mencuci kedua telapak kakinya hingga ke mata kaki maka berjatuhanlah dosa-dosa kedua kakinya di sela-sela jemarinya bersama tetesan air, jika kemudian dia berdiri tegak melaksanakan salat, bertahmid, memuji Allah dan mengagungkan-Nya dengan sifat yang memang patut bagi-Nya, dan menghadirkan hatinya hanya untuk Allah Ta’ālā maka dia akan keluar (dibersihkan) dari dosa-dosanya sebagaimana keadaannya pada hari dia dilahirkan oleh ibunya.”

Demikian Imam Muslim meriwayatkannya. Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya dan Ibnu Khuzaimah di dalam kitab Ṣaḥīḥ-nya. Ada lafal, “Sebagaimana diperintahkan oleh Allah Ta’ālā”, setelah lafal mencuci kedua kaki.

Kosa kata hadis:

  1. Amrū bin ‘Abasahbin Khālid bin ‘Amir bin Gāḍirah bin Khaffāf bin Imrīl Qais, kuniyyah beliau adalah Abū Najīh. Beliau sudah memeluk Islam sejak periode dakwah Makkah, namun kemudian diizinkan oleh Rasulullah ﷺ kembali ke negerinya. Sejak sebelum ber-Islam beliau sudah menjauhi penyembahan kepada berhala. Beliau wafat pada akhir pemerintahan Khalifah Uṡmān bin ‘Affān raḍiyallāhu ‘anhu.
  2. خَطَايَا(khaṭāyā) artinya dosa-dosa, dan dosa-dosa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil.
  3. وَمَجَّدَهُبِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْل (al-tamjīd) maknanya al-ta’żīm yaitu mengagungkan Allah dengan sifat yang memang patut bagi-Nya.

Makna hadis:

Salat adalah satu-satunya rukun Islam yang telah diperintahkan semenjak periode dakwah Nabi ﷺ di Makkah, sementara wudu sebagai syarat sah salat telah diajarkan Nabi ﷺ kepada para sahabatnya, di antaranya Amrū bin ‘Abasah yang sebagian riwayat menyebutkan beliau adalah satu di antara empat orang yang paling awal masuk Islam (rubu’ul Islām).

Hadis ini secara eksplisit menerangkan keutamaan berwudu. Di antara faedah penting lainnya adalah menyempurnakan tata cara wudu dengan memastikan air sampai hingga ke janggut yang terurai ketika membasuh wajah, mencuci kedua tangannya hingga ke siku dengan memastikan air sampai hingga ke sela-sela ujung jemari tangannya, mengusap kepala haruslah secara keseluruhan hingga air sampai ke sela-sela ujung rambut, mencuci kedua telapak kaki hingga ke mata kaki dan memastikan air sampai hingga ke sela-sela jemari kakinya, semua tata cara wudu tersebut sesuai yang diperintahkan Allah Ta’ālā meskipun tidak disebutkan secara langsung dalam Al-Qur’an pada ayat tentang wudu.

Faedah dan istinbat dari hadis:

  1. Membasuh wajah yang benar ketika berwudu adalah mencakup sampainya air ke sela-sela janggut.
  2. Hadis tersebut juga menunjukkan bahwa membasuh kepala yang benar ketika berwudu adalah secara keseluruhan dan merata, karena disebutkan bahwa air basuhan sampai ke sela-sela rambut.
  3. Kewajiban wudu secara berurutan dan dilakukan sesuai urutannya, karena cara wudu yang demikian adalah “sebagaimana diperintahkan oleh Allah Ta’ālā”.
  4. Hadis ini adalah satu di antara banyak dalil ulama Islam yang menyebutkan tentang wajibnya mencuci kedua kaki. Berbeda dengan mazhab kaum SyiahRāfiḍah yang mewajibkan mengusapnya saja.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments