PERMISALAN TENTANG JALAN YANG LURUS

572
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)

عَنْ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ الْأَنْصَارِيِّ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ضَرَبَ اللهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَعَلَى جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ، فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ: أَيُّهَا النَّاسُ، ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا، وَلَا تَتَعَرَّجُوا، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ، قَالَ: وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ، وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ: حُدُودُ اللهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ: مَحَارِمُ اللهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ: كِتَابُ اللهِ، وَالدَّاعِي مِنِ فَوْقَ الصِّرَاطِ: وَاعِظُ اللهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ.

Dari An-Nawwas bin Sam’an Al-Anshary Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat perumpamaan jalan yang lurus, di kedua sisinya ada dinding yang padanya terdapat pintu-pintu yang terbuka. Di setiap pintu ada tirai dan di ujung jalan terdapat penyeru yang mengajak, “Wahai sekalian manusia, titilah jalan lurus ini dan jangan kalian menyimpang darinya”, serta terdapat penyeru lainnya di atas jalan tersebut. Maka apabila seseorang hendak memasuki pintu-pintu itu, penyeru akan berkata, “Celakalah kamu, jangan engkau buka, karena jika dibuka engkau pasti akan masuk ke dalamnya”. Itulah perumpamaan Islam, ibarat jalan yang lurus, dua dinding ibarat hukum-hukum Allah, pintu-pintu yang terbuka adalah larangan-larangan-Nya. Adapun penyeru yang berada di ujung jalan itu adalah Al-Qur’an, sedangkan penyeru lainnya yang berada di atas jalan adalah peringatan Allah di dalam setiap hati seorang muslim.”[1]

⁕⁕⁕

Segala sesuatu membutuhkan hidayah atau petunjuk, bahkan untuk urusan sekecil apapun dari perkara dunia ini. Bagaimana cara mengendarai kendaraan, cara pemakaian alat elektronik, cara merawat perabotan, dan lain sebagainya. Semuanya membutuhkan petunjuk, dan manusia tak bisa lepas dari kebutuhan ini. Tanda tanya besar yang kemudian muncul, jika untuk urusan dunia seseorang berjibaku mengerahkan seluruh kesanggupannya guna memperoleh informasi dan petunjuk, maka apakah tidak pantas bagi seseorang untuk mencari tahu seperti apa petunjuk hidup yang saat ini ia jalani ?

Sebagai utusan Allah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki peran penting dalam mencerahkan umat manusia perihal tujuan hidup mereka. Beliau menjelaskan dengan sangat gamblang tentang hakikat kehidupan dunia yang Allah ciptakan, hukum-hukum-Nya, dan batasan-batasan yang telah ditentukan. Kesemuanya adalah bagian dari petunjuk hidup. Karena itu, beliau senantiasa mengajak mereka untuk meniti jalan yang lurus. Jalan yang dipandu melalui hidayah Allah, jalan yang merupakan karunia terbesar yang dengannya seseorang mengetahui kemana arah hidupnya tertuju. Sebab tanpa hidayah Allah, seseorang dapat menyalahgunakan hidup yang ia miliki, menyimpang dari kodrat yang sebenarnya, dan gagal mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ. صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الْأُمُورُ.

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu Al-Qur’an dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Qur’an dan tidak pula mengetahui apakah iman itu. Tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah bahwa kepada Allah-lah kembali seluruh urusan.”[2]

Dalam hadits An-Nawwas di atas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan permisalan yang indah tentang jalan yang lurus tersebut, bahwa ia adalah ajaran Islam. Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah menjelaskan bahwa Rasulullah memisalkan Islam dengan jalan yang lurus, jalan yang mudah, lapang yang akan mengantar seseorang kepada tujuannya. Dan dengan itu semua, jalan tersebut merupakan jalan yang lurus tak bercabang sama sekali yang menunjukkan dekat dan mudahnya jalan itu.[3] Di sisi kanan dan kirinya terdapat dinding yang membatasi jalan, sebagai gambaran bahwa hukum-hukum Allah dalam syariat islam bertujuan untuk membatasi seseorang agar tetap berada di atas jalan yang lurus. Tidak seenaknya dalam berkata dan berbuat, karena semuanya memiliki batasan yang dapat ditolerir.

Di sepanjang dinding tersebut terdapat pintu-pintu terbuka yang banyak. Pintu-pintu tersebut hanya memiliki tirai saja sebagai penutupnya yang menunjukkan mudahnya seseorang untuk masuk ke dalamnya. Namun ketahuilah bahwa apa yang ada di balik tirai itu adalah larangan-larangan Allah. Hal ini menunjukkan pintu-pintu keburukan itu banyak, di kanan dan kiri seseorang sepanjang perjalanan hidupnya. Tetapi seluruh pintu itu kembali kepada dua pintu keburukan, yaitu syahwat dan syubhat. Siapa yang memasuki pintu-pintu tersebut, maka ia akan terjerumus ke dalam keharaman. Dan sungguh memasukinya tidak membutuhkan usaha yang besar, apabila seseorang masuk ke salah satu pintu itu, maka ia telah melenceng dari jalan yang lurus.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا، ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيلُ اللهِ، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ، عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ، ثُمَّ قَرَأَ: وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.

‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan pada kami gambar yang lurus dan berkata: “Ini adalah jalan Allah”, di samping kanan kirinya terdapat jalan-jalan, beliau mengatakan: “Sedangkan cabang-cabang ini terdapat syaithan yang menyeru kepadanya,” lalu beliau membaca firman Allah:

 “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.”[4]

Olehnya, seorang yang meniti jalan yang lurus hendaknya senantiasa berpegang teguh kepada dua penyeru yang Rasulullah sebutkan di dalam hadits diatas. Yaitu Al-Qur’an sebagai sumber hidayah dan penyeru berupa iman, ilmu, petunjuk dan ilham yang Allah simpan di dalam hati setiap muslim.

[1] HR. Ahmad 17634, Al-Ajurry dalam Asy-Syari’ah nomor 14, Al-Hakim nomor 245, dan dishahihkan Syaikh Al Albany dalam “Shahih Jami’ Shagir” nomor 3887.

[2] QS. Asy-Syura ayat 52-53.

[3] Jami’ ‘Ulum wal Hikam 2/161.

[4] QS. Al-An’am ayat 153.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments