URGENSI KEIKHLASAN

387
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Dan padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

عَنْ مُعَاوِيَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ كَالْوِعَاءِ، إِذَا طَابَ أَسْفَلُهُ طَابَ أَعْلَاهُ، وَإِذَا فَسَدَ أَسْفَلُهُ، فَسَدَ أَعْلَاهُ

Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya permisalan amalan-amalan ibarat bejana, apabila ia baik bagian bawahnya maka baik pula bagian atasnya, dan apabila rusak bagian bawahnya maka rusak pula bagian atasnya.”[1]

⁕⁕⁕

Nuruddin al-Sindi Rahimahullah berkata, “Hadis ini memberikan isyarat kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lainnya[2] yaitu,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَوَاتِيمِ

“Dan sesungguhnya setiap amalan bergantung pada bagian akhirnya.”[3]

Urgensi bagian akhir dari setiap amalan akan nampak apabila setiap muslim meyakini dengan seksama sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi,

فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ ثُمَّ يَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيُخْتَمُ لَهُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ ثُمَّ يَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيُخْتَمُ لَهُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

“Demi Allah yang tidak ada ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta, akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.”[4]

Al-Dawudi berkata, “Bisa jadi seseorang senantiasa beramal kebajikan hingga menjelang akhir hayatnya sebelum malaikat mencabut ruhnya. Namun, dia menutup akhir hayatnya dengan perbuatan dosa kekufuran yang dapat menghapuskan seluruh kebajikan dan pahala yang selama ini telah dia lakukan. Oleh karena itu, masuklah dia ke dalam neraka Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, jika kamu mempersekutukan Tuhan, niscaya akan terhapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”[5]

Setiap muslim hendaknya bersabar dan senantiasa meminta perlindungan kepada Allah agar tidak terpedaya dengan godaan setan hingga detik terakhir dari kehidupannya. Inilah kedudukan istikamah yang sebenarnya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala yang akan menyelamatkan seseorang dari kerugian dunia dan akhirat.

Namun apakah istikamah hingga akhir hayat dapat diperoleh siapa pun begitu saja? Tentu jawabannya tidak karena salah satu sebab utama keistikamahan seseorang adalah apabila dia sanggup beramal dengan niat yang tulus ikhlas hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala. Poin ini menjadi salah satu penafsiran para ulama terhadap hadis Mu’awiyah di atas.

Ketahuilah bahwa di antara manusia ada yang berpura-pura beramal dengan amalan-amalan penghuni surga, maka nampak di hadapan orang lain bahwa dia adalah orang yang saleh, sedangkan hatinya justru menyembunyikan penyakit seperti ria, ujub, hasad, dan takabur. Hingga tatkala menghadapi sakratulmaut, ketetapan Allah mendahuluinya maka dia meninggalkan amalan penghuni surga dan mengikuti penyakit dan hawa nafsu yang selama hidupnya dia pendam yang kemudian mengantarnya kepada neraka Allah. Begitu pula sebaliknya, di antara manusia ada yang nampak berbuat zalim dan dosa, namun hatinya senantiasa menangis, mengingkari, dan benci terhadap dosa-dosa tersebut. Maka tatkala maut menjemputnya, ketetapan Allah mendahului amalan buruknya, sehingga dia menutup hidupnya dengan bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Benarlah perkataan seorang ahli hikmah yang mengatakan bahwa hati adalah raja dari seluruh tubuh karena besarnya pengaruh kebaikan atau keburukan yang dapat diakibatkannya manakala ia suci atau kotor. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ

“Ketahuilah bahwa di dalam sebuah jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh dan jika ia buruk, maka buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.”[6]

Apabila hati seseorang dibuat perumpamaan, maka sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah tepat ketika mengibaratkannya dengan sebuah bejana, apabila bagian bawahnya baik maka akan baik pula bagian atasnya, dan bila bagian bawahnya rusak maka akan rusak pula bagian atasnya. Apa yang nampak dari seseorang adalah pertanda dari apa yang dia sembunyikan di dalam hatinya. Apabila hatinya baik, maka akan baik pula perkataan dan perilakunya. Namun, jika hatinya busuk, maka busuk pula perkataan dan perilakunya. Sehebat apapun seseorang menyembunyikan kebusukan hatinya, ia akan tetap tercium walaupun itu di akhir hayatnya kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya akan bernilai sebagaimana yang dia niatkan.”[7]


Footnote:

[1] HR. Ibnu Majah nomor 4199, disahihkan Syekh al-Albani dalam Shahih Jami’ Shagir nomor 23201.

[2] Hasyiyah As-Sindi 2/549.

[3] HR. Bukhari nomor 6607.

[4] HR. Bukhari nomor 3208 dan Muslim nomor 2643.

[5] QS. Az-Zumar ayat 65.

[6] HR. Bukhari nomor 52 dan Muslim nomor 1599.

[7] HR. Bukhari nomor 6689 dan Muslim nomor 1907.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments