AJAL YANG MENDAHULUI

61
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai pada waktu yang ditentukan. Apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya.” (Q.S. al-Nahl: 61)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ، قَالَ: خَطَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعًا، وَخَطَّ خَطًّا فِي الوَسَطِ خَارِجًا مِنْهُ، وَخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إِلَى هَذَا الَّذِي فِي الوَسَطِ مِنْ جَانِبِهِ الَّذِي فِي الوَسَطِ، وَقَالَ: هَذَا الإِنْسَانُ، وَهَذَا أَجَلُهُ مُحِيطٌ بِهِ – أَوْ: قَدْ أَحَاطَ بِهِ – وَهَذَا الَّذِي هُوَ خَارِجٌ أَمَلُهُ، وَهَذِهِ الخُطَطُ الصِّغَارُ الأَعْرَاضُ، فَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا، وَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا

Dari ‘Abdullāh bin Mas’ūd raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menggaris sebuah persegi empat, lalu menggariskan sebuah garis di dalam persegi empat itu yang menjorok keluar, dan di sekitar garis tengah digariskan pula garis-garis kecil yang banyak, kemudian beliau bersabda, ‘Garis di tengah ini adalah ibarat seorang manusia yang dikelilingi oleh persegi empat berupa ajalnya. Garis yang menjorok keluar ini adalah angan-angannya, sedangkan garis-garis kecil yang banyak adalah musibah. Jika ia tak ditimpa musibah yang ini maka ia akan ditimpa musibah yang lainnya’.”[1]

⁕⁕⁕

Memiliki harapan dan cita-cita adalah sebuah fitrah yang dibawa oleh setiap manusia. Harapan yang ingin dicapai bahkan telah diajarkan dan ditanamkan sejak dini oleh kedua orang tuanya. Rasulullah bersabda,

أَحَبُّ الْأَسْمَاءِ إِلَى اللهِ: عَبدُ اللهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ، وَأَصْدَقُهَا: حَارِثٌ وهَمَّامٌ

“Nama yang paling dicintai Allah adalah ‘Abdullāh dan ‘Abdurraḥman. Nama yang paling benar adalah Hāriṡ dan Hammām.”[2]

Mengapa Hāriṡ dan Hammām? Karena Hāriṡ bermakna usaha, sedangkan Hammām bermakna keinginan. Seperti apa seseorang kelak? Wajah setiap manusia di masa yang akan datang dapat dilihat dari masa sekarang, bagaimana usaha dan kegigihan mereka untuk menggapai harapan yang dimiliki adalah cara untuk melihatnya.

Memiliki harapan tentu saja adalah hal yang sangat penting, untuk mengukur sejauh mana tingkat usaha dan keberhasilan seseorang dalam menaiki anak-anak tangga menuju impiannya. Selain itu, harapan menjadi penyulut semangat hidup seseorang yang akan mengalami kegagalan demi kegagalan guna meraih cita-cita tertingginya. Namun apakah semua harapan dan cita-cita itu baik?

Segala sesuatu jika telah keluar dari batas kewajaran tentu saja akan tercela. Dalam hal ini, apabila harapan dan cita-cita senantiasa diperturutkan dan menjadi satu-satunya tujuan hidup hingga melupakan dirinya dari kehidupan akhirat dan tujuan penciptaan dirinya untuk beribadah kepada Allah, saat itu syariat memberikan batasan-batasan agar tidak berakhir dengan kerugian dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, melalui hadis di atas, Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umatnya untuk bersikap waspada terhadap cita-cita dan angan-angan panjang yang tak ada hentinya, berhati-hati dari cinta dunia dan lupa akan kematian dan kehidupan akhirat. Allah subḥānahu wa ta’ālā berfirman,

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”[3]

Di antara kesenangan yang memperdayakan itu adalah angan-angan yang panjang. Allah ‘azza wa jalla berfirman di ayat yang lainnya,

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), sehingga kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).”[4]

Ibnu Baṭṭāl raḥimahullāh menjelaskan bahwa hadis di atas menggambarkan bahwa angan-angan, ajal dan musibah-musibah yang menimpa seseorang, semuanya dimisalkan dengan garis. Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjadikan garis ajal mengelilingi seseorang dan garis angan-angan, harapan dan cita-cita serta musibah-musibah berada di luar dari garis ajal itu. Kalau dicermati, garis ajal itu lebih dekat kepada seseorang dibandingkan garis angan-angan dan musibah dunia, yang mengisyaratkan agar seorang mukmin hendaknya tidak berangan-angan yang panjang, sebab kematian senantiasa mengintainya. Adapun orang yang lupa akan kematian, sangat pantas baginya untuk waspada akan kedatangannya yang tidak disangka-sangka sedang ia berada dalam keadaan lalai, wal ‘iyażubillāh.

Olehnya, hendaknya setiap mukmin merasa rida terhadap apa yang diperingatkan atas mereka dan bersungguh-sungguh untuk melawan angan-angan panjang dan hawa nafsu dengan memohon pertolongan dari Allah subḥānahu wa ta’ālā.[5]

Hadis di atas juga sekaligus menjadi terapi yang baik bagi orang yang tertimpa musibah dan bencana. Sebab musibah-musibah yang dialaminya dalam kehidupan dunia, masih jauh lebih ringan dibandingkan dengan datangnya ajal kematian sedang ia berada dalam keadaan yang lalai. Sehingga menjadi sebuah kewajiban atas setiap mukmin untuk mempersiapkan dirinya dengan amalan-amalan yang saleh guna menghadapi perjalanan panjang kehidupan akhirat yang melalui pintu kematian. ‘Āli bin Abī Ṭālib raḍiyallāhu ‘anhu berkata, “Dunia pergi meninggalkan, sedang akhirat datang menjemput, dan setiap kehidupan tersebut ada anak-anak yang memakmurkannya. Jadilah anak-anak yang memakmurkan akhirat dan jangan menjadi anak-anak yang memakmurkan dunia, karena hari ini adalah masa beramal dan bukan masa perhitungan, sedangkan esok adalah masa perhitungan dan tak ada lagi masa beramal.”[6]

 


Footnote:

[1] H.R. Bukhārī nomor 6417.

[2] H.R. Abu Dawud nomor 4950, disahihkan Syekh al-Albānī dalam Ṣaḥīḥ Sunan Abi Dawud nomor 4950.

[3] Q.S. Ali-‘Imran ayat 185.

[4] Q.S. Al-Hijr ayat 3.

[5] Syarḥ Ṣaḥīḥ Bukhārī 10/150.

[6] Ṣaḥīḥ Bukhārī 8/89.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments