TIGA KEKASIH

83
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46)

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الرَّجُلِ وَمَثَلُ الْمَوْتِ كَمَثَلِ رَجُلٍ لَهُ ثَلَاثَةُ خِلَّانٍ، فَقَالَ أَحَدُهُمْ: هَذَا مَالِي فَخُذْ مِنْهُ مَا شِئْتَ، وَقَالَ الْآخَرُ: أَنَا مَعَكَ حَيَاتَكَ فَإِذَا مِتَّ تَرَكْتُكَ، وَقَالَ الْآخَرُ: أَنَا مَعَكَ أَدْخُلُ وَأَخْرُجُ مَعَكَ إِنْ مِتَّ، وَإِنْ حَيِيتَ، فَأَمَّا الَّذِي قَالَ خُذْ مِنْهُ مَا شِئْتَ وَدَعْ مَا شِئْتَ فَإِنَّهُ مَالُهُ، وَأَمَّا الْآخَرُ عَشِيرَتُهُ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَهُوَ عَمَلُهُ

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Permisalan antara seseorang dan kematian ibarat orang yang memiliki tiga orang kekasih. Kekasih pertama berkata, “Ini adalah hartaku, silakan mengambilnya sebanyak yang kamu inginkan.” Kekasih kedua berkata, “Aku akan bersamamu sepanjang hayat, apabila kamu mati maka aku akan meninggalkanmu.” Dan kekasih ketiga berkata, “Aku akan bersamamu hidup dan mati.” Kekasih yang berkata, “Ambillah hartaku sebanyak yang kamu inginkan” maka ia adalah hartanya. Adapun yang kedua maka ia adalah keluarganya, sedangkan yang terakhir adalah amalannya.”[1]

⁕⁕⁕

Kematian adalah kepastian yang akan menjemput setiap yang bernyawa. Ia adalah batas akhir kehidupan yang tak dapat dikoreksi walaupun barang sedetik. Alih-alih seseorang menyibukkan diri dengan mencari tanda-tanda tibanya hari kiamat, kematian dirinya sendiri hakikinya adalah kiamat untuknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan kematian kemudian hanyalah kepada Kami (Allah) kamu dikembalikan.”[2]

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu ajal, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkan barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya.”[3]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memisalkan antara seseorang dengan kematian yang sedang ia tuju ibarat hidup bersama tiga orang kekasih. Kata “kekasih” sendiri bermakna orang yang mencintai seseorang secara tulus. Kekasih pertama adalah harta yang sepanjang hidup dicari dan diusahakan dengan bersusah payah, ada yang menjadikannya tunduk di dalam genggamannya dan tidak sedikit pula yang memahkotakannya sebagai raja di dalam hatinya. Namun di detik-detik terakhir kehidupan seseorang, sang kekasih ini tak sanggup untuk menemaninya. Ia bahkan meninggalkannya dan menjadi kekasih yang lainnya.

Kekasih kedua adalah keluarga yang menjaganya, merawatnya, membesarkannya, membelanya dan mencintainya sepanjang hidup. Namun apalah daya, kesemuanya hanyalah berbatas pada kesanggupan mereka. Ketika tiba masanya seseorang dimasukkan ke dalam liang lahad, para keluarga, orang tua, saudara, istri, dan anak-anaknya harus naik kembali dari lubang berukuran 2×1 meter itu dan meninggalkannya seorang diri. Sayang, kekasih ketiga meskipun lebih sering tidak diacuhkan dan dibiarkan begitu saja, namun justru ialah yang siap menemaninya hidup dan mati.

Ketiga kekasih tersebut memiliki kemiripan yang sama bahwa mereka semuanya siap menemani seseorang dalam hidupnya, namun hanya yang terakhir yang dapat menjelma menjadi kekasih sejati yang menemaninya bahkan setelah kematiannya. Keistimewaan lainnya, di saat kedua kekasih: harta dan keluarga merupakan bagian dari apa yang dijamin oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi setiap hamba, maka hanya kekasih ketiga, yaitu amalan yang dibebankan kepada seorang hamba untuk dicari, dipelajari, diamalkan, dan dijaga. Bahkan, harta dan keluarga pun dapat menjadi jalan kebajikan, sehingga dengan demikian semakin tampak kepantasan amalan untuk menjadi kekasih yang sejati dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, melalui hadis ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak berpesan kepada setiap muslim untuk banyak mengingat kematian dan mempersiapkan apa yang dapat dibawa pulang menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan, yaitu kematian.”[4]

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا، وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ

“Orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya untuk kehidupan akhirat, mereka itulah orang yang cerdas.”[5]


Footnote:

[1] HR. Al-Bazzar nomor 3273 dan Al-Hakim nomor 1376, disahihkan Syekh Al-Albany dalam “Silsilah Shahihah” nomor 2481.

[2] QS. Al-‘Ankabut ayat 57.

[3] QS. Al-A’raf ayat 34.

[4] HR. At-Tirmidzy nomor 2307, An-Nasai nomor 1824 dan Ibnu Majah nomor 4258, disahihkan Syekh al-Albany dalam “Irwaul Ghalil” nomor 682.

[5] HR. Ibnu Majah nomor 4259, dihasankan Syekh al-Albany dalam “Silsilah Shahihah” nomor 1384. 

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments