PERMISALAN TENTANG HIDUP SEORANG MUKMIN

288
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.” (QS. al-Hadid: 20)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ، قَالَ: نَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوِ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً، فَقَالَ: مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidur beralaskan sebuah tikar. Tatkala beliau bangun nampak berbekas pada sisi tubuhnya. Maka kami menawarkan, “Wahai Rasulullah, bagaimana seandainya kami membuatkan kasur untukmu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apa yang aku miliki dari dunia ini? Di dunia ini aku tidak lebih dari seorang musafir yang bernaung di bawah bayang-bayang sebuah pohon, kemudian akan pergi dan meninggalkannya.”[1]

Zuhud terhadap dunia adalah salah satu sifat yang dipuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karena hakikatnya bermuara kepada sifat rida kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dibangun di atas  dua asas utama agama Islam, yaitu syukur dan sabar. Syukur terhadap seluruh nikmat yang Allah berikan meskipun sedikit, dan sabar terhadap seluruh ujian yang Allah timpakan meskipun berat. Zuhud juga menjadi sifat para kekasih Allah, karena prioritas dan cinta mereka kepada akhirat lebih dominan dibanding kehidupan dunia yang fana.

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan makna zuhud. Imam al-Zuhri rahimahullah ketika ditanya tentang makna zuhud, beliau menjawab, “Zuhud adalah engkau bersabar meninggalkan perbuatan terlarang, dan bersyukur terhadap karunia Allah.”[2]

Wuhaib al-Makky rahimahullah berkata, “Zuhud terhadap dunia apabila engkau tidak kecewa terhadap apa yang tak engkau peroleh dari dunia, dan tidak berbahagia terhadap apa yang engkau dapatkan dari dunia.”[3]   

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Zuhud terhadap dunia apabila engkau tidak cinta pada pujian manusia, dan tidak perduli pada celaan mereka.”[4] Dan pendapat-pendapat lainnya yang masing-masing melihat dari persepsi yang berbeda. Namun dapat dipahami bahwa zuhud adalah sikap meninggalkan segala sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat bagi kehidupan akhirat seseorang.

Secara umum, Al-Qur’an hanya menyebutkan secara implisit ayat-ayat yang menganjurkan setiap manusia untuk mengenali hakikat kehidupan dunia, bahwa ia adalah kesenangan yang fana dan sementara. Sedangkan akhirat sebagai tempat tujuan kembali adalah karunia yang hendaknya dicari dan diusahakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ. قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

“Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah, ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu’? Untuk orang-orang yang bertakwa kepada Allah, pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan mereka dikaruniai istri-istri yang disucikan dan keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”[5] 

Abu ‘Abbas Sahal bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seseorang mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau berkata, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku sebuah amalan yang jika aku kerjakan, Allah dan manusia akan mencintaiku’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبّكَ النَّاسُ

‘Zuhudlah terhadap dunia maka engkau akan dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia’.”[6]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai qudwah hasanah dan suri teladan kita telah menerapkannya dalam kehidupan beliau sendiri. Padahal andai Rasulullah mau, maka Allah akan tundukkan seluruh dunia di dalam genggaman beliau. Namun demikian, beliau lebih memilih hidup sederhana dan zuhud terhadap dunia ini. Cukuplah apa yang dituturkan oleh isteri tercinta beliau, Ummul Mukminin, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa keluarga Rasulullah pernah melewati tiga bulan berturut-turut tak ada makanan yang dapat dimasak, hingga mereka hanya memakan kurma dan meminum air saja.[7]

Ketika melihat keadaan beliau yang sangat sederhana dan bersahaja, hingga rela tidur beralaskan tikar yang terbuat dari pelepah kurma yang membekas di tubuh beliau yang mulia, para sahabat tak tahan hingga mereka menawarkan untuk dibuatkan kasur yang dapat beliau pergunakan tidur. Namun jawaban beliau justru diluar dugaan mereka. Beliau bersabda, “Apa yang aku miliki dari dunia ini? Di dunia ini aku tidak lebih dari seorang musafir yang bernaung di bawah bayang-bayang sebuah pohon, kemudian akan pergi dan meninggalkannya.” Rasulullah memisalkan keberadaan dirinya dalam kehidupan dunia ini ibarat seorang musafir yang melakukan perjalanan panjang, sewaktu-waktu ia butuh untuk beristirahat di bawah bayang pohon. Setelah itu ia akan pergi melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan pohon tersebut. Al-Thibi Rahimahullah mengatakan, “Persamaan antara Rasulullah dan musafir adalah tinggalnya yang hanya sesaat lalu ia segera pergi.”[8]

Benar, dunia tak lebih dari tempat persinggahan. Terlalu naif apabila seorang musafir justru menghabiskan seluruh waktu dan bekalnya di tempat persinggahan, apalagi sampai lupa akan tujuan awalnya melakukan perjalanannya. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan umatnya untuk zuhud dalam kehidupan dunia. Beliau bersabda,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Hiduplah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara.”[9]

 


Footnote:

[1] H.R. Ahmad nomor 3709 dan al-Tirmidzi nomor 2377, disahihkan Syaikh al-Albany dalam Silsilah Shahihah nomor 438.

[2] Zuhud Ibnu Abi Dunya, hal. 58.

[3] Zuhud Ibnu Abi Dunya, hal. 63.

[4] Zuhud Ibnu Abi Dunya, hal. 142.

[5] Q.S. Ali-‘Imran ayat 14-15.

[6] H.R. Ibnu Majah nomor 4102 dengan sanad yang hasan.

[7] H.R. Ahmad nomor 24561, disahihkan Syaikh Arnauth.

[8] Syarhul Misykat, 10/3290.

[9] H.R. Bukhari nomor 6416.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments