PERMISALAN TENTANG UMAT TERBAIK

411
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ.

 “Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan ansar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ أُمَّتِي مَثَلُ المَطَرِ لَا يُدْرَى أَوَّلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Perumpamaan umatku ibarat hujan yang tak diketahui apakah permulaannya yang baik ataukah akhirnya.’”[1]

⁕⁕⁕

Zahir hadis ini nampak bertolak belakang dengan hadis lainnya yang menjelaskan keutamaan para sahabat yang hidup bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang hidup beberapa kurun setelah mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ.

“Sebaik-baik umatku adalah yang berada pada masaku, lalu orang-orang yang hidup setelah mereka, lalu orang-orang yang hidup setelah mereka.”[2]

Mereka adalah tiga kurun terbaik yang dimiliki oleh agama Islam, yaitu masa para sahabat, tabiin dan atba’ut tabi’in. Hal ini adalah salah satu akidah yang sangat urgen untuk diyakini oleh setiap muslim, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih mereka untuk mendapatkan kemuliaan hidup bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, menyaksikan wahyu Allah turun kepada beliau, menjadi pembela dan penolong-penolong agama Allah di waktu damai maupun berperang. Begitu pula dengan orang-orang yang datang setelah mereka, yang menjadi jembatan kedua penjaga risalah dan wahyu Allah, Al-Qur’an dan al-Hadits agar sampai kepada seluruh manusia. Kemuliaan yang tidak akan pernah diraih oleh siapa pun yang hidup setelah mereka dari umat ini. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ.

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan dengan-Nya.”[3]

Lantas bagaimana dengan hadis Anas di atas? Bukankah Rasulullah memisalkan umatnya ibarat hujan yang tak diketahui apakah permulaan atau akhirnya yang baik? Ad-Dinawari rahimahullah menjelaskan bahwa sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis Anas adalah sebagaimana ungkapan Arab yang mengatakan, “Aku tak tahu, apakah bagian depan baju ini yang lebih indah atau bagian belakangnya.” Tentu saja bagian depan baju selalu lebih indah, namun dia ingin menyamakan keindahan kedua sisi tersebut. Maka begitu pula dengan hadis Anas, ia dimaksudkan untuk mendekatkan kebaikan yang dimiliki oleh orang-orang yang hidup setelah tiga kurun pertama. Seluruhnya adalah baik dan mulia, membawa manfaat kepada seluruh umat manusia.[4]

Menurut Al-Baidhawi rahimahullah, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hendak menjelaskan bahwa beliau tidak mengetahui adanya perbedaan dari pengikut beliau karena mereka seluruhnya membawa kebaikan kepada umat manusia. Namun, setiap kurun memiliki kekhususan tersendiri sebagaimana setiap tetes air hujan membawa karunia tersendiri dalam menumbuhkan dan menyuburkan makhluk Allah. Apabila para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in telah beriman kepada mukjizat yang mereka saksikan dan menyambut dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menerima serta mengimaninya, maka selain mereka dari umat Islam juga beriman terhadap apa yang tidak mereka saksikan dari ayat-ayat Allah, dan mengikuti jalan hidup para as-salaf ash-shalih. Jika para sahabat berjuang dengan mendirikan dan memulai agama Allah, maka umat yang datang setelah mereka berjuang menyimpulkan dan meringkas, menghabiskan usia mereka dengan menetapkan dan menguatkan ajaran-ajarannya, sehingga setiap muslim dari umat ini diampuni oleh Allah ta’ala, usaha mereka akan diganjar, dan ganjarannya pasti sempurna.”[5]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah mempersaksikan kebaikan dan kemuliaan bagi orang-orang yang tetap beriman kepada beliau meskipun mereka tidak melihatnya atau hidup di akhir zaman dengan ujian dan fitnah yang begitu berat. Rasulullah bersabda,

فَإنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ، الصَّبْرُ فِيْهَ مَثَلُ قَبْضٍ عَلَى الجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيْهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِيْنَ رَجُلاً يَعْمَلُوْنَ مِثْلَ عَمَلِه. قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ: أَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْهُمْ ؟ قَالَ: أَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْكُمْ.

“Sesungguhnya akan datang setelah kalian masa-masa kesabaran. Bersabar pada masa itu ibarat menggenggam bara api. Orang yang beramal kebajikan saat itu diganjar pahala amalan 50 orang yang mengamalkan amalan yang sama.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah amalannya seperti pahala amalan 50 orang dari mereka?” “Bahkan pahala amalan 50 orang dari kalian,” jawab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.[6]

Beliau juga pernah mengutarakan kerinduannya kepada sebuah kaum di hadapan para sahabatnya yang mulia. Beliau bersabda,

وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا، قَالُوا: أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ: أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ.

“Aku sangat rindu untuk melihat saudara-saudara kita.” Para sahabat berkata, “Bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Kalian adalah sahabatku, sedangkan saudara-saudara kita adalah mereka yang datang setelah kita.”[7]

Pelajaran lainnya dari hadis Anas di atas adalah permisalan Rasulullah terhadap umat ini ibarat hujan yang membawa karunia dan rahmat Allah. Dengannya Allah menghidupkan kembali bumi yang tadinya mati, menumbuhkan, menyuburkan, mengairi ladang, dan menjadi sumber kehidupan bagi seluruh makhluk-Nya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ.

“Dan Allah menurunkan dari langit air hujan dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mendengarkan pelajaran.”[8]

Maka demikan pula seorang mukmin, iman dan ilmu yang mereka miliki hendaknya menjadi karunia dan rahmat bagi seluruh makhluk. Dengan ilmu, hati kembali hidup setelah matinya, menjadi sehat setelah sakitnya, menjadi sebab kemuliaan manusia di dunia dan akhirat. Allah azza wajalla berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ.

“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”[9]

Footnote:

[1] HR. Ahmad nomor 12327, At-Tirmidzy nomor 2869, disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah nomor 2286.

[2] HR. Bukhari nomor 3650.

[3] QS. Al-Qashash ayat 68.

[4] Ta’wil Mukhtalaf Hadits hal. 180-181.

[5] Tuhfatul Abrar 3/584.

[6] HR. Abu Dawud nomor 4341, disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah nomor 494.

[7] HR. Muslim nomor 249.

[8] QS. An-Nahl ayat 65.

[9] QS. Al-Mujadilah ayat 11.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments