PERMISALAN TENTANG SAHABAT AL-QURAN

309
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا.

Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. al-Isra: 9)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ القُرْآنِ، كَمَثَلِ صَاحِبِ الإِبِلِ المُعَقَّلَةِ، إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا، وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Permisalan orang yang bersahabat dengan al-Qur’an ibarat pemilik unta yang ditambatkan. Jika dia mengikatnya, maka untanya tidak akan pergi. Namun jika dia membiarkannya, maka untanya akan pergi meninggalkannya.”[1]

Di dalam riwayat Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jagalah al-Qur’an, karena demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, al-Qur’an lebih liar dibandingkan unta yang ditambatkan.”[2]

⁕⁕⁕

Al-Qur’an Kalamullah disebut pula dengan perkataan yang berat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا.

“Sesungguhnya Kami (Allah) akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.”[3]

Ibnu Katsir mengutip pendapat al-Thabari rahimahumallah bahwa makna perkataan yang berat ialah beratnya proses turunnya al-Qur’an dan beratnya pengamalan kandungannya. Sebagaimana beratnya dalam kehidupan dunia, maka al-Qur’an demikian berat pula timbangannya pada hari perhitungan.[4]

Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kemurahan-Nya telah memudahkan al-Qur’an untuk dibaca dan dihafalkan oleh umat manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ.

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”[5]

Mengapa Allah memudahkannya? Karena tilawah al-Qur’an dan menghafalnya adalah salah satu bentuk penjagaan Allah terhadapnya dari tangan-tangan durjana yang hendak merubah ayat-ayat-Nya. Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ.

“Sesungguhnya Kami (Allah) yang menurunkan al-Qur’an dan Kami pula yang menjaganya.”[6]

Bersahabat dengan al-Qur’an bermakna senantiasa membaca, menghafal, mempelajari, dan mengamalkan kandungannya. Bersahabat dengannya adalah sebuah karunia yang sangat agung sebab al-Qur’an akan datang menjadi pemberi syafaat kepada sahabatnya pada hari kiamat kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ.

“Bacalah al-Qur’an karena ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat kepada para sahabatnya.”[7]

Besarnya keutamaan ini tentu saja sejalan dengan beratnya tanggung jawab yang dipikulkan di atas pundak seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri amat mencela seorang yang menghafal al-Qur’an atau sebagian ayatnya lantas secara sengaja melupakan dan meninggalkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بِئْسَمَا لِأَحَدِهِمْ يَقُولُ: نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ، بَلْ هُوَ نُسِّيَ.

“Sungguh buruk ucapan seseorang yang berkata, “Aku lupa ayat ini dan ayat itu,” padahal dia dijadikan lupa terhadapnya.”[8]

Al-Qur’an dengan segala kemudahan yang telah Allah berikan, ia diibaratkan seperti unta, hewan yang paling liar terhadap manusia. Karenanya, beliau memerintahkan kita untuk menjaga al-Qur’an, tetap menjadi sahabatnya. Sebab, jika tidak diikat dengan membacanya siang dan malam, niscaya ia akan lepas meninggalkan kita. Lepasnya al-Qur’an ketika kita dijadikan lupa terhadapnya, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak meninggalkan sesuatupun untuk umatnya menghadapi kehidupan dunia kecuali dua pusaka. Sebagaimana sabdanya,

وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ، كِتَابُ اللهِ.

“Sungguh aku telah tinggalkan untuk kalian sebuah hal yang tidak akan menyesatkan siapapun jika kalian berpegang teguh padanya: ialah al-Qur’an.”[9]

Imam al-Hakim dan al-Baihaqi juga meriwayatkan hadits yang senada dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan tambahan lafaz “Al-Qur’an dan hadis.”

Wasiat ini sangat fenomenal karena ia terucap dari lisan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada peristiwa Haji Wada’ yang merupakan pertanda dekatnya perpisahan antara para sahabat dan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Perpisahan sementara di dunia ini bagi para pecinta Rasulullah, sebab kelak di kehidupan akhirat beliau akan menunggu mereka di telaga beliau untuk bersama-sama memasuki surga Allah yang luasnya seluas langit dan bumi.

Untuk pertemuan yang indah itu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan dua buah pusaka yang dapat menjadi pegangan terkuat untuk menghadapi berbagai problem dan perkara dunia akhirat.

Kesucian dan orisinalitas al-Qur’an dan hadis sendiri merupakan karunia yang sangat besar yang hanya Allah berikan kepada umat Islam. Adapun kitab-kitab umat sebelum kenabian baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka telah mengalami perubahan (penambahan/pengurangan atau penyelewengan makna) dari tangan-tangan para hamba dunia. Allah ta’ala berfirman:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ.

“Karena mereka (Bani Israil) melanggar janjinya, Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya dan mereka sengaja melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan atas mereka.[10]

 Hal yang perlu dicamkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sejatinya telah mengetahui bahwa akan datang suatu masa sepeninggal beliau di mana kaum muslimin akan mengalami masa terkelamnya karena tumbuhnya sifat enggan untuk mewujudkan al-Qur’an dan hadis sebagai pedoman hidup mereka. Karenanya, sabda beliau di atas bukan hanya sekadar wasiat saja. Lebih dari itu, ia merupakan kecaman agar tidak melupakan dua pusaka mulia ini sehingga tidak terulang kembali apa yang telah menimpa terhadap kaum Bani Israil yang dengan sengaja meninggalkan kitab mereka.

 


Footnote:

[1] HR. Bukhari nomor 5031 dan Muslim nomor 789.

[2] HR. Muslim nomor 791.

[3] QS. al-Muzzammil ayat 5.

[4] Tafsir Ibn Katsir 8/251.

[5] QS. al-Qamar ayat 17.

[6] QS. al-Hijr ayat 9.

[7] HR. Muslim nomor 804.

[8] HR. Muslim nomor 790.

[9] HR. Muslim nomor 1218.

[10] QS. al-Maidah ayat 13.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments