SANAD DAN AUTENTISITAS HADIS

407
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

Setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat, tersebarlah para sahabat ke berbagai penjuru negeri bersamaan dengan ekspansi negara-negara Islam kala itu, demi menyebarluaskan hadis yang telah mereka dapatkan langsung dari sang maha guru, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Peta penyebaran mereka secara umum antara lain di Mekah, Madinah, Taif, Syam, Kufah, Basrah, Mesir, Yaman, Isfahan, Khurasan dan negeri serta kota lainnya. Dari tempat-tempat inilah para imam hadis dari kalangan tabiin mulai bert-talaqqi, mengambil dan mendengarkan hadis-hadis mulia tersebut dari para sahabat radiallahu ‘anhum. Pada fase ini, autentisitas hadis masih terjaga di kalangan sahabat dan tabiin radiallahu ‘anhum. Namun seiring dengan ekspansi negara Islam yang sangat cepat dan masuknya orang-orang asing ke kota-kota tersebut serta sulitnya membedakan mana di antara mereka yang datang secara murni ingin menuntut ilmu (baca;hadis) dan mana yang berekspektasi merusak agama mulia ini, ditambah dengan fitnah besar atas terbunuhnya khalifah Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radiallahu ‘anhuma, sejak itu para sahabat dan tabiin mulai mengambil sikap kehati-hatian dalam meriwayatkan hadis-hadis Rasululah shallallahu alaihi wasallam. Muhammad bin Sirin berkata,

لم يكونوا يسألون عن الإسناد فلما وقعت الفتنة قالوا سموا لنا رجالكم فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فلا يؤخذ حديثم

“Dahulu mereka tidak pernah menanyakan tentang sanad, namun setelah terjadinya fitnah, mereka mengatakan, ‘Sebutkanlah kepada kami perawi-perawi kalian’, maka dilihatlah riwayat ahlussunnah dan diterimalah hadis mereka, lalu dilihat riwayat ahlu bid’ah dan ditolaklah hadis mereka.”(2)

Dari sinilah lahir sebuah tradisi ilmiah dalam meneliti keautentikan hadis yang kemudian menjadi metodologi kaum muslimin secara umum dan pemerhati hadis secara khusus dari generasi ke generasi untuk membedakan hadis sahih dan hadis palsu. Di antara metodologi yang mereka pakai dalam menentukan autentisitas sebuah hadis adalah dengan memperhatikan dan mengecek sanad pada sebuah hadis.

Sanad dalam ilmu hadis adalah silsilah (rantai) perawi hadis yang bersambung sampai ke matan. Perhatian ulama hadis berkaitan dengan sanad ini sangat detail karena pada sanad inilah berkumpul para perawi yang membawa atau meriwayatkan nash-nash (matan) sebuah hadis. Akurat atau tidaknya sebuah hadis tergantung sifat yang dimiliki oleh para perawi tersebut yang menjadi syarat diterima atau ditolak hadisnya, sehingga ulama hadis menetapkan sifat dan kriteria khusus bagi perawi hadis sebagai syarat diterima atau ditolak periwayatannya. Sifat itu adalah adil, tsiqot dan dhobit. Jika para perawi memilik sifat ini maka hadisnya diterima. Sebaliknya, jika mereka tidak memenuhi sifat ini maka hadisnya ditolak.

Sanad atau isnad ini merupakan keistimewaan khusus agama Islam yang tidak dimiliki oleh agama lain. Abdullah bin Mubarak berkata,

الإسناد عندي من الدين، لو لا الإسناد لقال من شاء ما شاء

“Bagiku, sanad adalah bagian dari agama, kalaulah sekiranya tanpa sanad maka setiap orang akan berbicara sekehendaknya apa yang ia inginkan.”(3)  Sufyan al-Tsauri mengatakan,

الإسناد سلاح المؤمن فإذا لم يكن معه سلاح فبأي شيء يقاتل

“Sanad adalah senjatanya orang beriman, jika ia tidak memiliki senjata maka dengan apa ia bisa berperang?”(4)

Pernyataan dari kedua imam hadis ini menggambarkan secara jelas tentang  kedudukan sanad dalam Islam. Ia diibaratkan sebagai senjata yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk memerangi siapa saja yang ingin mencederai kemurnian agama ini melalui pemalsuan ataupun kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Para ulama hadis terdahulu tidak dengan serta merta menerima sebuah riwayat tanpa menyebutkan perawinya,  bahkan tidak sedikit di antara mereka yang menolaknya. Salah satu contohnya adalah al-Zuhri. Suatu ketika, Ishaq bin Abi Farwah mengatakan, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda….”. Dalam perkataannya ini, ia tidak menyebutkan rantai periwayatannya. Al-Zuhri yang mendengarnya, dengan lantang berkata kepadanya, “Semoga Allah memenggalmu wahai Ibnu Farwah, engkau begitu berani tidak menyandarkan hadismu (dengan sanadnya), engkau meriwayatkan kepada kami hadis-hadis tanpa tali kekang yang menguatkannya (beliau maksudkan sanad).”(5)

Al-Hakim al-Naisaburi mengatakan,

فلو لا الإسناد وطلب هذه الطائفة له وكثرة مواظبهم على حفظه,لدرس منار الإسلام ولتمكن الإلحاد والبدع منه.وبوضع الأحاديث وقلب الأسانيد.فإن الأخبار إذا تعرت عن وجود الأسانيد فيها,كانت بترا

“Kalaulah sanad ini tidak ada dan usaha sebagian ummat untuk mencarinya serta konsistensi mereka dalam menghafalnya, niscaya akan hilang petunjuk Islam, dan membuka peluang bagi orang-orang mulhid dan pelaku bid’ah untuk memalsukan hadis serta mengubah sanadnya, karena riwayat tanpa sanad adalah riwayat yang cacat (terputus).”(6)

Begitulah para para ahli hadis memperhatikan sanad, bahkan mereka telah dijadikan cinta terhadapnya. Sampai-sampai salah seorang di antara mereka berkata dalam sebuah syair,

يا لذة العيش لما قلت حدثنا ….. عوف وبشر عن الشعبي والحسن

“Aduhai, betapa nikmatnya kehidupan ketika aku berkata telah mengabarkan kepadaku, ‘Auf dan Bisyr dari Sya’bi dan Hasan.”

Semoga Allah subhanahu wa taala merahmati mereka yang telah memperjuangkan kemurnian hadis ini dan mengganjarnya dengan surga bersama sang kekasih, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Footnote:

(1) Disadur secara ringkas dengan beberapa tambahan redaksi dari kiitab A’laam al-Huffazh wa al-Muhaddisin ‘Abra Arba’ata ‘Asyara Qarnan, karya Abdussattar al-Syaikh, Beirut, Dar Syamiah (Juz 1, hal.12 – 14)

(2) Muqaddimah Sahih Muslim (1/11)

(3) Muqaddimah Sahih Muslim (1/15)

(4) Tadribu al-Rawi li al-Suyuti (2/160)

(5) Ma’rifatu ‘Ulumil Hadis, Abu Abdillah al-Hakim al-Naisaburi (6)

(6) Ibid

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments