MANUSIA TERBURUK

344
MANUSIA TERBURUK
Perkiraan waktu baca: 2 menit

REDAKSI HADIS:

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ رَجُلًا اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَآهُ قَالَ: بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ وَبِئْسَ      ابْنُ الْعَشِيرَةِ، فَلَمَّا جَلَسَ تَطَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطَ إِلَيْهِ فَلَمَّا انْطَلَقَ الرَّجُلُ، قَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ حِينَ رَأَيْتَ الرَّجُلَ قُلْتَ لَهُ كَذَا وَكَذَا ثُمَّ تَطَلَّقْتَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطْتَ إِلَيْهِ، فَقَالَ  رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَائِشَةُ مَتَى عَهِدْتِنِي فَحَّاشًا؟ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ

Dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa seorang laki-laki meminta izin untuk menemui nabi shallalahu alaihi wasallam, ketika beliau melihat orang tersebut, beliau bersabda, “Amat buruklah saudara kabilah ini atau seburuk-buruk anak kabilah ini.” Saat orang itu duduk, beliau shallallahu alaihi wasallam, menampakkan wajahnya yang berseri-seri dan bersikap ramah kepadanya. Setelah orang itu keluar Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, ketika Anda melihat (kedatangan) orang tersebut, Anda berkata seperti ini dan ini, namun setelah itu wajah Anda nampak berseri-seri di hadapannya dan ramah kepadanya.” Rasulullah shallalahu alaihi wasallam bersabda, “Wahai Aisyah, kapankah kamu melihatku mengatakan perkataan keji? Sesungguhnya seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena khawatir akan kejahatannya.”

TAKHRIJ HADIS:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhārī dalam kitabnya, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, kitab al-Adab, Bab Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam Bukan Seorang yang Keji dan Tidak Melakukan Perbuatan Keji, nomor 6032, dan Imam Muslim dalam dalam kitabnya, Ṣaḥīḥ Muslim, kitab al-Birr wa al-Shilah wa al-Âdāb, Bab Bersikap Diplomatis Terhadap yang Dikhawatirkan Kejahatannya, nomor 2591.

Baca juga:  KEUTAMAAN MENYANTUNI KAUM DUAFA

BIOGRAFI SAHABAT PERAWI HADIS:

Biografi Ummu al-Mukminin Aisyah radhiyallahu anha sudah disebutkan sebelumnya. Silakan lihat pada link: https://markazsunnah.com/aisyah-ahli-hadis-umat-islam-dari-kalangan-wanita/

FAEDAH DAN KESIMPULAN:

  1. Sebagian ulama, di antaranya Imam Ibnu Baththal, mengatakan bahwa orang yang datang menghadap Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam hadis ini adalah Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr al-Fazari, salah seorang tokoh Arab Badui,(1) dan pendapat kedua sebagaimana yang dipilih oleh Imam Ibnu al-Mulaqqin dan lainnya bahwa orang ini adalah Makhramah bin Naufal.(2)
  2. Disyariatkannya meminta izin bagi tamu.
  3. Imam Bukhari berdalilkan hadis ini tentang dibolehkannya bergibah terhadap orang yang rusak dan ragu terhadap agamanya.(3)
  4. Disyariatkannya memperingatkan akan bahaya seseorang (tahdzir) agar manusia berhati-hati dan menghindarinya tentu saja dengan memperhatikan beberapa kaidah tahdzir yang ditetapkan oleh syariat.
  5. Bolehnya bergibah terhadap orang yang menampakkan dosa dan kemaksiatannya secara terang-terangan.
  6. Hadis ini mengumpulkan antara ilmu dan adab. Adapun ilmu yang dimaksud adalah pentingnya mengetahui gibah yang diperkecualikan hukumnya. Adapun adab karena Nabi shallallahu alaihi wasallam mengajarkan kepada kita etika yang sangat mulia dalam berinteraksi dengan orang lain termasuk di antaranya kepada orang memiliki pelanggaran-pelanggaran syariat.
  7. Dibolehkannya mudārāh, dan hal ini berbeda dengan mudāhanah. Mudārāh adalah mengorbankan sesuatu yang sifatnya duniawi atau bahkan terkadang al-din demi mendapatkan maslahat al-din yang lebih besar atau tanpa mengorbankan maslahat al-dien yang lebih besar. Adapun mudāhanah adalah mengorbankan sesuatu yang sifatnya al-din hanya untuk mendapatkan sesuatu yang sifatnya duniawi.
  8. Keutamaan Aisyah radhiyallahu anha yang selalu mendampingi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga begitu banyak ilmu yang beliau serap lalu beliau sampaikan kepada umat ini.
  9. Disyariatkannya bertanya kepada seorang alim terhadap perbuatannya yang kelihatan bertentangan dengan perkataannya dan tentu saja dengan mengedepankan prasangka baik kepadanya.
  10. Seorang alim dan penuntut ilmu bahkan seyogyanya setiap muslim hendaknya mendasari setiap perkataan dan perbuatannya dengan ilmu yang benar hingga ketika ditanya tentang dasar dari pengamalannya dia mampu menerangkan dengan sebaik-baiknya.
  11. Bolehnya bermanis muka kepada pelaku maksiat jika ada maslahat yang lebih besar diharapkan darinya atau menghindari mudarat yang lebih besar.
  12. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah manusia yang terjauh dari setiap perkataan dan perbuatan yang keji.
  13. Manusia memiliki kedudukan yang berbeda dan bertingkat-tingkat di hari kiamat.
  14. Tabiat umum manusia adalah menjauh dari manusia yang berpengarai dan berakhlak buruk.
  15. Akhlak dan budi pekerti yang mulia adalah sebab kedekatan dan kecintaan manusia pada seseorang.
Baca juga:  SETIAP KEBAIKAN ADALAH SEDEKAH

 


Footnote:

(1) Syarhu Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththāl (9/ 230).

(2) Al-Taudhih li Syarhi al-Jami’ al-Shahih karya (28/ 344).

(3) Beliau sebutkan dalam salah satu judul bab di kitab al-Adab dari Sahih-nya pada hadis no. 6054.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments