HAKIKAT BERSILATURAHMI

462
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنهما عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

Dari Abdullah bin Amru radhiyallahu anhuma, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, “Orang yang menyambung silaturahmi bukanlah orang yang sekadar membalas kebaikan rahimnya akan tetapi dikatakan orang yang menyambung silaturahmi adalah orang yang ketika tali silaturahminya diputus maka dia justru menyambungnya.”

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Shahih-nya, Kitab al-Adab, Bab “Tidak Dikatakan Bersilaturahmi Orang yang Sekadar Membalas,” nomor 5991.

Biografi Sahabat Perawi Hadis(1)

Nama lengkap beliau: Abdullah bin Amru bin al-Ash bin Wail al-Qurasyi. Kuniah-nya Abu Muhammad, ada juga yang mengatakan Abu Abdurrahman. Ayah beliau adalah sahabat yang mulia Amru bin al-Ash radhiyallahu anhu. Disebutkan dalam kitab-kitab tarikh bahwa jarak antara usia beliau dengan ayahnya hanya 12 tahun dan Abdullah masuk Islam sebelum ayahnya. Ibunya bernama Raithah binti Munabbih bin al-Hajjaj bin ‘Amir bin Hudzaifah. Dalam riwayat Sahih Bukhari disebutkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu anhu mengatakan bahwa tidak ada sahabat yang lebih banyak hadisnya melebihiku kecuali Abdullah bin Amru karena beliau dahulu mencatat sedang Abu Hurairarah tidak mencatat. Abdullah bin Amru memiliki kitab yang beliau kumpulkan sabda-sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam di dalamnya bernama Shahifah Shadiqah. Abdullah bin Amru juga dikenal sebagai sahabat yang ahli ibadah, rajin melaksanakan salat lail, puasa sunah, dan senantiasa mengkhatamkan al-Qur’an dalam waktu kurang dari tujuh hari. Beliau wafat di bulan Zulhijah tahun 63 H atau 65 H atau 68 H di Makkah, ada juga yang mengatakan di Thaif, versi lain menyebutkan di Mesir dan sebagian ulama lain menyebut di Palestina, dalam usia 72 tahun, radhiyallahu anhu.

Faedah dan Kesimpulan:

  1. Islam datang untuk mengajarkan hakikat dari sesuatu dan memperbaiki persepsi keliru yang ada di tengah masyarakat

2. Seseorang yang dikatakan bersilaturahmi adalah yang berinisiatif untuk mulai menyambung tali silaturahmi tersebut dan bukan sekadar membalas kebaikan dari rahimnya. Ibnu Baththal mengatakan, “Inilah hakikat bersilaturahmi yang Allah azza wajalla janjikan pahala besar kepada para hamba-Nya yang melakukannya sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Ra’du ayat 21.”(2)

3. Keutamaan menjadi inisiator dan pelopor dalam kebaikan.

4. Manusia dalam perihal silaturahmi terbagi menjadi tiga tingkatan:(3)

a. AlWaashil (seseorang berinisiatif untuk menyambung tali silaturahmi tanpa menanti silaturahmi orang lain), ini adalah kelompok yang terpuji dan tingkatan tertinggi.

b. AlMukaafi’ (seseorang yang sekadar membalas kebaikan dari rahimnya).

c. AlQaathi’ (pemutus tali silaturahmi), ini adalah kelompok tercela yang terancam tidak masuk surga.(4)

5. Hadis ini mengajarkan dan memotivasi seorang muslim untuk berjiwa besar di mana kadang seorang muslim harus membalas perbuatan keburukan saudaranya dengan perbuatan kebaikan.

 


Footnote:

(1) Lihat: Mu’jam al-Shahabah oleh al-Baghawi (3/ 494), Mu’jam al-Shahabah oleh Ibnu Qani’ (2/ 84), Ma’rifah al-Shahabah oleh Abu Nuaim (3/ 1720), al-Isti’ab fi Ma’rifah al-Ashab (3/ 956), Usdu al-Ghabah (3/ 345), Siyar A’lam al-Nubala (3/ 79), dan al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah (4/ 165).

(2) Syarhu Shahih al-Bukhari oleh Ibnu Baththal (9/ 209)

(3) Lihat: Fathu al-Bari oleh Ibnu Hajar (10/ 424)

(4) Lihat pembahasan sebelumnya: https://markazsunnah.com/besarnya-dosa-memutuskan-tali-silaturahmi/

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments