HADIS PERTAMA: PERINTAH UNTUK BERSIKAP KUAT DAN MENINGGALKAN KELEMAHANPerkiraan waktu baca: 2 menit

61
Salinan dari White and Black Minimal Digital Marketing Proposal []

40 HADIS TENTANG OLAH RAGA(1)

REDAKSI HADIS:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ…(رواه مسلم وغيره)

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada masing-masing terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah (atau menyerah)…” (HR. Muslim dan lainnya)

TAKHRIJ HADIS:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Qadar, Bab Perintah untuk Menjadi Kuat (no. 2664), juga oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 79 dan 4168), serta oleh al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (no. 194), dan selain mereka. Lanjutan hadis yang mulia ini berbunyi: “…Dan jika engkau tertimpa sesuatu (musibah), maka janganlah engkau berkata: ‘Seandainya aku melakukan ini, tentu akan menjadi begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah: ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan.’ Karena sesungguhnya ucapan ‘seandainya’ membuka pintu (godaan) setan.”

SYARAH HADIS:

      Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kata الْقُوَّة (kekuatan) dalam hadis ini adalah keteguhan jiwa (عَزِيْمَةُ النَّفْسِ) dalam perkara-perkara akhirat. Orang yang memiliki sifat ini akan menjadi orang yang paling berani maju menghadapi musuh dalam jihad, paling cepat berangkat untuk menghadapinya dan mengejarnya, serta paling kuat tekadnya dalam mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ia juga akan menjadi orang yang paling sabar menghadapi berbagai gangguan dalam menjalankan tugas tersebut, paling mampu menanggung berbagai kesulitan di jalan Allah Ta’ala, serta paling mencintai pelaksanaan salat, puasa, zikir, dan berbagai bentuk ibadah lainnya. Selain itu, ia akan menjadi orang yang paling bersemangat dalam melaksanakan dan menjaganya, serta dalam berbagai amal saleh lain yang sejenis.

Baca juga:  HADIS LIMA JENIS FITRAH

Lafaz «وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ» bermakna bahwa baik mukmin yang kuat maupun mukmin yang lemah tetap memiliki kebaikan, karena keduanya sama-sama memiliki iman. Namun, mukmin yang kuat memiliki keutamaan lebih karena ia mampu melaksanakan berbagai bentuk ibadah yang tidak mampu ditunaikan oleh mukmin yang lemah.

Selanjutnya, sabda Nabi  احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ  mengandung makna: berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk menaati Allah dan meraih pahala yang ada di sisi-Nya. Mohonlah pertolongan kepada Allah agar dimudahkan dalam mewujudkan hal tersebut, serta jangan merasa lemah atau malas dalam melaksanakan ketaatan dan memohon pertolongan kepada-Nya.(2)

       Seorang peneliti kontemporer berijtihad dalam menafsirkan makna “kekuatan” (القوة) yang disebutkan dalam hadis ini. Menurutnya, makna tersebut bersifat umum, mencakup kekuatan iman yang berakar kokoh di dalam hati, kekuatan ilmu yang melahirkan keimanan yang kuat, amal yang benar, dan perilaku yang lurus, serta kekuatan tekad dan mental yang menjadikan seorang mukmin tidak lemah kemauan, tidak mudah goyah, bahkan memancarkan semangat yang lahir dari keyakinan dan kepercayaan terhadap dirinya.

Selain itu, kekuatan yang dimaksud juga mencakup kekuatan fisik, yaitu kekuatan jasmani yang menjadi sarana dan penunjang dalam melaksanakan amal-amal saleh. Seorang mukmin hendaknya memanfaatkan kekuatan fisiknya untuk memperbanyak segala amal yang mendekatkannya kepada kecintaan Allah, seperti salat, puasa, jihad, amar makruf, nahi mungkar, menolong orang-orang yang lemah, dan membela orang yang terzalimi. Oleh karena itu, janganlah tujuan utama seseorang dalam meningkatkan kekuatan fisiknya semata-mata untuk memperoleh tubuh yang kuat, tanpa disertai niat sedikit pun untuk memanfaatkan kekuatan tersebut dalam menaati Allah. Jika tidak demikian, maka ia hanya akan menjadi seperti hewan ternak, bahkan bisa lebih sesat jalannya. Maka hendaknya seorang mukmin yang kuat menjadikan Rasulullah ﷺ dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum sebagai teladan dalam memanfaatkan kekuatan yang Allah anugerahkan kepadanya…(3)

Baca juga:  HADIS KE-12 AL-ARBAIN: TIDAK BERMANFAAT? TINGGALKAN SAJA!

Footnote:

(1) Diterjemahkan dan disadur dari buku Al-Arba’ūn Al-Riyādhiyyah Arba’ūna Hadītsan fī Fadhāil al-Riyādhah, karya Syekh Muhammad Khair Ramadhan Yusuf hafizhahullah, diterbitkan oleh Dār al-Thayyibah lin Nasyr wa al-Tawzi’ di Riyadh-Saudi Arabia, Cetakan Pertama, tahun 1425H/2004M.

(2) Al-Minhāj Syarhu Shahīh Muslim bin al-Hajjāj (16/215).

(3) Lihat: Hadis “Mukmin yang Kuat Lebih Baik dan Lebih Dicintai Allah”: Catatan dan Renungan karya Prof. Dr. Fālih bin Muhammad ash-Shaghīr (hlm. 21–27).

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted