TIDAK BERMANFAAT? TINGGALKAN SAJA!

458
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

Hidup ibarat sebuah perdagangan. Allah memberikan kepada kita umur sebagai modal utama beramal saleh. Tak jarang dalam penggunaan modal kita lalai untuk menghitung-hitung apakah modal yang digunakan akan mendatangkan keuntungan. Ya, keuntungan di akhirat kelak berupa kedudukan tinggi di surga Allah. Mari tengok bersama sebuah hadis yang disebutkan oleh Imam al-Nawawi dalam kitab ‘Arbain berikut:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ: مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ.

حديثٌ حسنٌ، رواه الترمذي وغيره هكذا.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.’” (Hadis hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lain-lain seperti ini.)[1]

Ibnu al-Qayyim berkata, “Nabi telah mengumpulkan sifat wara’ dalam sebuah kalimat. Nabi bersabda, ‘Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.’ Ini mencakup meninggalkan semua ucapan, pandangan, pendengaran, sentuhan, langkah kaki, pikiran, serta seluruh gerak-gerik lahir batin yang tidak bermanfaat.”[2]

Dari hadis di atas dapat dipahami bahwa ada tanda baiknya keislaman seseorang:

  1. Seorang muslim yang baik meninggalkan segala yang tidak bermanfaat baginya, baik dalam urusan dunia ataupun akhirat. Seseorang hendaknya menjaga lisannya untuk senantiasa bermanfaat.
  • Hendaknya menjaga lisan agar tidak mencampuri urusan orang lain, berbicara yang tidak berfaedah, bergosip, mengomentari semua hal, dan lain sebagainya. Termasuk pula pertanyaan yang tidak berfaedah. Ibnu Umar berkata, “Barang siapa yang menganggap bahwa ucapannya adalah amalannya maka pasti akan sedikit ucapannya kecuali jika ucapan itu bermanfaat.”[3] Setiap kata yang dilafazkan akan dicatat. Ucapan hamba akan dihisab oleh Sang Raja di hari pembalasan. Allah berfirman:

اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيْدٌ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

Artinya: “(Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (Qaf/50: 17-18)

  • Demikian pula menjaga mata untuk tidak jelalatan, mencari-cari aib pada rumah orang lain jika bertamu, dan lain-lain.
  • Demikian pula menjaga telinga dengan tidak mendengarkan musik, menguping pembicaraan orang lain, dan seterusnya.
  • Hendaknya seorang muslim menjaga pikirannya untuk tidak liar, banyak melamun, memikirkan hal yang tidak dijangkau dan diubah oleh dirinya sendiri, dan seterusnya.
  • Demikian pula dalam masalam makan, minum, bergaul, dan lain sebagainya.

Intinya adalah seorang muslim hendaknya menjaga diri dari perkara yang berlebihan. Maksudnya adalah melebihi kadar kebutuhannya. Olehnya, seorang muslim berhenti pada titik tertentu sampai dia dapat menjawab pertanyaan, “Apakah ini bermanfaat?” Siapa yang senantiasa melakukannya maka agamanya akan senantiasa terjaga. Diriwayatkan bahwa Luqmān al-Hakīm pernah ditanyai oleh seseorang, “Bagaimana engkau bisa sampai pada derajat ini padahal engkau dulunya hanya seorang penggembala kambing?” Beliau menjawab, “Dengan cara berkata jujur dan diam berkepanjangan dari apa yang tidak bermanfaat bagi diri saya.”[4]

  1. Seorang muslim menyibukkan dirinya dengan segala yang bermanfaat baginya, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Bayangkan berapa banyak buku yang dapat diselesaikan oleh seorang muslim jika waktu yang digunakan untuk berselancar di dunia maya tanpa tujuan dialihkan untuk membaca? Berapa banyak surah yang dapat dihapalkan jika waktu untuk kumpul-kumpul yang tidak bermanfaat dialihkan untuk menghapal? Betapa banyak video kajian ilmu syariat yang bisa disimak apabila waktu untuk membaca komentar-komentar netizen dialihkan untuk menyimak pelajaran? Mari duduk bersama diri sendri, lalu hitung hari ini, sudahkan setiap nafas yang berhembus bermanfaat?

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. al-Zalzalah: 7-8)

Orang-orang yang beruntung dalam perdagangan ini akan berkata para hari kiamat nanti….

هَاۤؤُمُ اقْرَءُوْا كِتٰبِيَهْۚ اِنِّيْ ظَنَنْتُ اَنِّيْ مُلٰقٍ حِسَابِيَهْۚ فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍۚ فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍۙ قُطُوْفُهَا دَانِيَةٌ كُلُوْا وَاشْرَبُوْا هَنِيْۤـًٔا ۢبِمَآ اَسْلَفْتُمْ فِى الْاَيَّامِ الْخَالِيَةِ

“’Ambillah, bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin, bahwa (suatu saat) aku akan menerima perhitungan terhadap diriku.’ Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat. (Kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan nikmat karena amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (QS. Al-Hāqqah: 19-24)

Namun, apa yang terjadi dengan orang-orang yang gagal memanfaatkan modal yang telah Allah beri?

وَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِشِمَالِهٖ ەۙ فَيَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ لَمْ اُوْتَ كِتٰبِيَهْۚ وَلَمْ اَدْرِ مَا حِسَابِيَهْۚ يٰلَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَۚ مَآ اَغْنٰى عَنِّيْ مَالِيَهْۚ هَلَكَ عَنِّيْ سُلْطٰنِيَهْۚ خُذُوْهُ فَغُلُّوْهُۙ ثُمَّ الْجَحِيْمَ صَلُّوْهُۙ

Artinya: “Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, “Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku. Sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku. Wahai, kiranya (kematian) itulah yang menyudahi segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku.” (Allah berfirman), “Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.” (Al-Haqqah/69:16-31)

Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya. Amin.


Footnote:

[1] Hadis ini diperselisihkan oleh para ulama. Riwayat yang paling kuat menunjukkan bahwa hadis ini mursal. Para ulama hadis semisal Imam Ahmad, Ibnu Ma’īn, al-Bukhāri, al-Tirmidzi, Abu Nu’aim, al-Khatīb, dan al-Dāruquthni serta al-Baihaqi membenarkan bahwa hadis ini mursal. Wallahu a’lam.

[2] Madārij al-Sālikin (2/24).

[3] Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asākir dalam kitab Tārikh Dimasyq (48/117).

[4] Lihat: Al-Shamt wa Ādāb al-Lisān karangan Ibnu Abī Dunyā (116).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
1 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Abu Abdillah

alhamdulillah…