POTRET CINTA SAHABAT KEPADA RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM

399
Perkiraan waktu baca: 9 menit
image_pdfUnduh PDF

Di antara perkara aksiomatis dalam syariat Islam adalah perkara mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesungguhnya kaum muslimin telah sepakat tentang wajibnya mencintai beliau, bahkan hal tersebut merupakan salah satu dari cabang iman dan merupakan konsekuensi dari syahadat Muhammadur Rasulullah. Di antara buktinya adalah bab yang disusun oleh Imam al-Nawawi Al-Syafi’i dalam kitab Shahih Muslim, beliau mengatakan: “Bab tentang wajibnya mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melebihi dari cinta kepada istri, anak-anak, orang tua, dan semua manusia….” Bab ini terselip di tengah “Kitabul Iman” di dalam kitab Shahih Muslim yang secara implisit mengisyaratkan bahwa di antara cabang iman adalah mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi dari cinta kepada segalanya di muka bumi ini.

Membahas tentang cinta Nabi shallallahu alaihi wasallam laksana membahas tentang masalah keimanan, sebab keduanya saling berkaitan, Rasulullah bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Artinya: “Tidak (sempurna) iman salah seorang hamba hingga mencintai aku (Nabi Muhammad) melebihi cintanya kepada orang tuanya, anaknya, dan semua manusia di muka bumi.”[1]

Hadis diatas menegaskan dua hal:    

Pertama: Cinta Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam merupakan salah satu cabang iman, bahkan ia merupakan cabang yang hukumnya wajib sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Al-Nawawi rahimahullah ketika membuat bab untuk hadis ini. Maka hal ini tentunya menunjukkan keagungan dan kemuliaan amalan ini.

Kedua: Hadis ini memaparkan tentang kadar cinta yang ideal seorang muslim kepada Nabinya, bahwa cinta yang berkualitas adalah cinta yang kadarnya melebihi cinta kepada seluruh makhluk di muka bumi ini, termasuk cinta kepada orang tua, istri dan anak-anak.

Keagungan amalan ini bahkan berpengaruh bagi “cita rasa” iman seorang hamba, yang mana “manis dan getirnya” iman seorang hamba tergantung kuat dan lemahnya rasa cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا…

Artinya: “Tiga hal jika berkumpul pada seseorang maka akan merasakan manisnya iman, (salah satunya adalah) mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi dari segalanya.”[2]

Imam Al-Nawawi mengatakan, “Para Ulama mengatakan, ‘Yang dimaksud dengan manisnya iman adalah mengecap lezatnya ibadah dan berdiri kokoh di atas kesabaran ketika menghadapi ujian dan cobaan demi mendapatkan keridaan Allah subhanahu wata’ala.’”[3]

Puncak keutamaan dari amalan ini terpampang dengan jelas saat hari kiamat datang menjelang. Pada hari itu manusia dikumpulkan bersama orang-orang yang dicintainya ketika hidup di dunia, sebagaimana yang diinformasikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (2639), Anas bin Malik mengatakan,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ:((وَمَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ)) قَالَ: حُبُّ اللهِ وَرَسُوْلهُ، قَالَ: فَإِنَّك مَع مَنْ أَحْبَبَتَ

Artinya: “Telah datang seseorang kepada Rasulullah, dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kapan datangnya hari kiamat?’ Maka Rasulullah menjawab, ‘Apa bekal yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya? Orang itu menjawab, ‘Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya engkau akan (dikumpulkan) bersama yang engkau cintai.’”

Memuncak kegembiraan memenuhi dada Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu ketika mendengarkan hadis ini. Dengan binar keriangan yang menghiasi wajah beliau, beliau mengatakan,

فَمَا فَرِحْناَ بَعْدَ الإِسْلَامِ فَرْحًا أَشَدَّ مِنْ قَوْلِ النَّبِي صلى الله عليه وسلم فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ، قَالَ أَنَس: فَأَنَا أُحِبُّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَأَبَا بَكْر وَعُمَرَ فَأَرْجُو أَنْ أَكُوْنَ مَعَهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِأَعْمَالِهِمْ

Artinya: “Maka tiada rasa gembira yang lebih tinggi yang kami rasakan setelah bergembira dengan kenikmatan memeluk Islam, kecuali setelah mendengar sabda Nabi ‘Sesungguhnya engkau akan dikumpulkan bersama yang engkau cintai.’ Anas bin Malik mengatakan, “Maka sesungguhnya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan mencintai Abu Bakar dan Umar, dan aku berharap untuk berkumpul bersama mereka (di surga) kendati amalanku tidak sebanding dengan amalan mereka.”[4]

Di antara perkara yang sangat penting untuk ditanamkan kepada umat terkait tema ini, bahwa cinta kepada Rasulullah bukan hanya direfleksikan dengan ucapan lisan semata dan bukan sekedar pengakuan seorang muslim tanpa ada realisasi nyata, namun sesungguhnya cinta yang sejati kepada beliau shallallahu alaihi wasallam akan terealisasi dengan persaksian yang diucapkan lisan, dan perasaan cinta yang terpatri dalam sanubari, lalu mengejawantahkan dalam amal nyata anggota tubuh.

Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,

لَيْسَ الْإِيمَان بِالتَّمَنِّي وَلَا بِالتَّحَلِّي، وَلَكِنْ مَا وَقَرَ فِي الْقَلْب وَصَدَّقَهُ الْعَمَل

Artinya: “Iman itu bukan dengan angan-angan dan hiasan belaka, namun iman adalah sesuatu yang terpatri di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.”[5]

Di antara narasi yang indah dalam mendeskripsikan cinta adalah ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah, beliau mengatakan,

لا تحد المحبة بحد أوضح منها، فالحدود لا تزيدها إلا خفاء وجفاء، فحدها وجودها ولا توصف المحبة بوصف أظهر من المحبة وإنما يتكلم الناس في أسبابها وموجباتها وعلاماتها وشواهدها وثمراتها وأحكامها فحدودهم ورسومهم دارت على هذه الستة

“Cinta adalah cinta, tidak ada deskripsi kalimat cinta yang lebih cocok daripada kalimat cinta itu sendiri, semua definisi tentangnya hanya menambah kerumitan dan kekeringan maknanya. Adanya cinta telah menunjukkan definisinya. Tidak ada ciri yang lebih jelas untuk menandai cinta daripada cinta itu sendiri. Manusia –ketika membahas tentang makna cinta-  hanya bisa berbicara tentang sebab, konsekuensi, ciri-ciri, bukti, buah, dan hukumnya saja. Definisi cinta menurut mereka hanya berkutat sekitar enam hal ini saja.”[6]

Salah satu problematika umat dewasa ini adalah ketimpangan dalam mengekspresikan rasa cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagian kaum muslimin mengaku beriman dan cinta kepada beliau, namun yang aneh bin ajaib, bukannya mengagungkan dan menghormati sunah warisan beliau, namun justru mencari aib dari sunah-sunah yang diwariskan. Bahkan ironisnya, sebagian cenderung untuk mencela dan melecehkannya.

Sebagian kaum muslimin yang lain –sebenarnya fenomena ini adalah problematika klasik- menampakkan cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengekspresikan kecintaannya dalam bentuk amal salih, namun yang patut yang dikoreksi adalah ekspresi rasa cinta yang berlebihan dan melampaui batas, di antaranya adalah memuji beliau dengan sifat-sifat ketuhanan yang merupakan kekhususan bagi Allah subhanahu wata’ala, seperti mengatakan:

فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتها ***** وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمُ اللَّوْحِ وَالقَلَمِ

Artinya: (Wahai Nabi Muhammad) sesungguhnya dunia beserta seluruh isinya adalah bagian dari sifat dermawanmu,

dan yang ada di Lauhul Mahfudh merupakan bagian dari luasnya ilmumu.

Sebenarnya jika kita ingin mengambil contoh aplikatif dalam merealisasikan rasa cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sudah ada generasi sahabat yang layak untuk dijadikan panutan dan qudwah dalam perkara ini. Mereka adalah generasi salaf yang dipuji oleh Rasulullah dengan sabdanya:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) pada zamanku (zaman sahabat), kemudian generasi yang setelahnya, kemudian generasi yang setelahnya.”[7]

Sejatinya hadis diatas bersifat informasif, namun di dalamnya terselip pesan-pesan yang sangat bernilai bagi setiap generasi baru kaum muslimin, di antaranya:

  • Hadis tersebut mengandung pujian terhadap tiga generasi utama dari umat ini, generasi sahabat Rasulullah, generasi tabiin dan generasi Atba’ al-tabiin, bahwa mereka adalah generasi yang terbaik dari umat ini.
  • Secara tersirat, terselip pada redaksi hadis diatas perintah untuk berqudwah dan menapaki jalan yang telah mereka jalani, khususnya dalam masalah agama, karena mereka adalah umat terbaik dari umat ini, dan secara logika mengikuti jalan generasi terbaik merupakan sebuah tuntutan dan keutamaan.

Oleh karena itu, sangat urgen bagi seluruh kaum muslimin untuk kembali menelaah sirah sahabat Nabi dalam mengekspresikan cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar dapat menjadi mercusuar yang menunjukkan dan menerangi jalan di tengah kegelapan.

Dalam artikel ini, kami akan memaparkan berapa potret dari refleksi kecintaan mereka terhadap beliau, di antaranya adalah:

PERTAMA: PARA SAHABAT LEBIH LEBIH MENCINTAI NABI DARIPADA KEPADA DIRI SENDIRI

Suatu saat ketika Umar berjalan bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Umar mengatakan, “Sesungguhnya aku mencintaimu melebihi cintaku kepada segala sesuatu wahai Rasulullah, kecuali cintaku kepada diriku sendiri. Rasulullah menjawab, “Tidak wahai Umar, (imanmu tidak sempurna) kecuali engkau mencintai aku melebihi cintamu kepada dirimu.” Maka Umar pun mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.’”[8]

Ucapan Umar bin Khattab bahwa kecintaan beliau kepada Nabi melebihi cintanya kepada segala sesuatu kecuali cintanya kepada dirinya kemungkinan beliau belum tahu tentang kadar cinta yang wajib kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Buktinya ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingatkan tentang kadar cinta yang wajib kepada beliau, Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu bersedia mengoreksi kesalahannya.

Ibnu Hisyam meriwayatkan dalam buku sirahnya, ketika Perang Uhud berkecamuk, datang sebuah informasi yang mengejutkan para sahabat bahwa Rasulullah wafat di medan pertempuran. Ketika pertempuran usai dan pasukan kaum muslimin kembali ke Kota Madinah, datanglah seorang shahabat wanita dari Bani Dinar mencari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan berusaha menggali informasi tentang keadaan beliau padahal perang Uhud telah merengut nyawa orang-orang yang dicintainya. Telah wafat bapaknya, suaminya, dan saudara laki-lakinya dalam perang tersebut. Namun beliau senantiasa bertanya, “Bagaimana keadaan Rasulullah?” Sahabat wanita tersebut baru lega ketika berhadapan langsung dengan Rasulullah, dia pun mengatakan, “Wahai Rasulullah, semua musibah (yang menimpaku) menjadi ringan yang penting engkau selamat.”[9]

Dan pemandangan menggetarkan jiwa akan terhelat jika memutar kembali sejarah berkecamuknya Perang Uhud. Pada saat itu para sahabat berlomba-lomba untuk menjadi tameng hidup bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah dikepung oleh kaum kafir Quraisy dengan senjata yang terhunus. Para sahabat dengan penuh semangat dan tanpa gentar bergegas untuk mengorbankan jiwa mereka dan menyelamatkan Rasulullah ‘alaihi wasallam dari ancaman senjata kaum kafir Quraisy yang haus darah, demi memenuhi seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ يَرُدُّهُمْ عَنَّا وَلَهُ الْجَنّةُ

“Siapa yang mengusir mereka (orang kafir Quraisy) dari kami, maka baginya surga.”[10]

Dan Rasulullah ‘alaihi wasallam senantiasa mengulang seruan tersebut saat terdesak oleh pasukan Quraisy di Gunung Uhud, dan selalu ada sahabat yang datang menghadang laju pasukan Quraisy hingga tujuh orang dari mereka mati syahid.[11]

Subhanallahu, pemandangan di atas tentunya membuktikan kecintaan mereka yang luar biasa kepada Nabi Muhammad ‘alaihi wasallam, jiwa pun siap mereka korbankan yang penting pujaan hati mereka selamat dari sergapan kaum kafir Quraisy.

 Gunung Uhud dan kisah Perang Uhud tidak akan pernah meninggalkan benak kaum muslimin yang mencintai Nabinya, bahkan akan senantiasa menjadi cerminan bagi mereka dalam membuktikan rasa cinta kepada beliau shallallahu alaihi wasallam karena tempat tersebut menjadi saksi bisu peristiwa sejarah yang agung, yang mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai aplikatif cinta Nabi shallallahu alaihi wasallam yang sejati, yaitu mencintai beliau melebihi cinta kita kepada diri sendiri dan seluruh manusia.

KEDUA: MENTAATI RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM

Cinta dan taat adalah dua kata yang berbeda, namun saling berkaitan dengan erat, karena bukti dari cinta sejati adalah ketaatan dan kepatuhan kepada yang dicintai. Seorang penyair mengatakan,

 تَعْصِي الإِلَهَ وَأَنْتَ تُظْهِرُ حُبَّهُ**** هَذَا مُحَالٌ فِي الْقِيَاسِ بَدِيْع

لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقًا لَأَطَعْتَهُ ***فَإِنَّ المحبّ لِمَنْ يُحِبّ مُطِيْع

Engkau bermaksiat kepada Allah padahal engkau mengaku mencintaiNya

Sesungguhnya hal ini adalah mustahil menurut nalar yang sehat

Seandainya cintamu sejati niscaya engkau akan menaatiNya

Sesungguhnya sang pecinta sejati akan menaati yang dicintai.[12]

Imam Al-Nawawi-pun menegaskan hal ini, beliau mengatakan, “Dan rasa cinta seorang hamba kepada Allah diekspresikan dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, demikian juga dengan cinta kepada Rasul-Nya.”[13]

Jika rasa cinta kepada Allah dibuktikan dengan mematuhi dan menaati perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya, maka demikian juga sejatinya rasa cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Olehnya kita dapatkan di dalam potret kehidupan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam fenomena ini, di antaranya:

Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa suatu saat Nabi Muhammad memakai cincin dari emas, maka para sahabat pun meniru perbuatan Rasulullah tersebut dan mereka menghiasi jemari mereka dengan cincin dari emas. Selang beberapa waktu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melepas cincin tersebut karena diharamkan memakai emas bagi laki-laki, maka para sahabat pun melepaskan cincin tersebut demi mengikuti sang Nabi yang tercinta.[14]

Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa ketika Perang Khaibar, para sahabat didera rasa lapar yang hebat. Pada saat itu mereka berhasil mendapatkan seekor keledai, maka mereka pun bergembira dan menyembelihnya, menguliti, dan mulai memasaknya. Maka perasaan mereka mulai tenang karena –bayangan- mereka akan melewati malam dengan perut kenyang. Ketika air di panci sudah mendidih, daging keledai yang dimasak sudah mulai lunak, dan perut yang keroncongan semakin menghebat, tiba-tiba datang utusan Rasulullah -yaitu Abu Thalhah- mengabarkan bahwa Allah telah mengharamkan daging keledai atas kaum muslimin. Maka dengan tanpa ragu dan tanpa kasak-kusuk, mereka menumpahkan daging keledai yang mulai masak dan membuangnya, dan mereka rela melewatkan hari dengan perut keroncongan yang penting kecintaan kepada sang Nabi tidak ternoda.[15]

Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik, yang mana beliau menceritakan tentang salah satu proses pengharaman khamar (minuman keras). Beliau saat itu bertindak sebagai orang yang menuangkan khamar ke gelas di rumah Abu Thalhah. Ketika itu setelah Salat Isya dan mereka sudah bersiap-siap untuk minum khamar, tiba-tiba datang utusan Rasulullah menginformasikan turunnya wahyu tentang diharamkannya khamar, maka seketika itu Abu Thalhah memerintahkan Anas untuk menumpahkan khamar-khamar dari bejana sampai jalanan di kota Madinah banjir dengan khamar.[16]

Jika kita kaji beberapa riwayat di atas, maka riwayat tersebut menjelaskan dua hal:

Pertama: Potret ungkapan cinta para sahabat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan kualitas cinta mereka kepada beliau, kendati yang kita sebutkan dalam artikel ini hanya dua riwayat saja, namun sejatinya riwayat tersebut adalah sampel, dan masih banyak riwayat-riwayat yang berkaitan dengan sisi aplikatif dari kecintaan para sahabat terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ditambah lagi, tidak adanya riwayat dari sahabat lain yang menyelisihi informasi tersebut, hal ini menunjukkan bahwa fenomena itulah yang menjadi keadaan umum para sahabat.

Kedua: Contoh aplikatif dari cinta tersebut berupa al-ittiba’ (mengikuti Nabi), yang merupakan bukti nyata dari kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sesungguhnya kedua poin yang kita paparkan di atas saling berkaitan kuat, yang pertama: cerminan cinta mereka lewat hati dan lisan, adapun yang kedua: memaparkan contoh konkrit dari aplikasi cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa sikap patuh dan taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kendati wahyu yang turun bertentangan dengan hawa nafsu mereka. Mereka menikmati perihnya rasa lapar yang menyerang perut-perut mereka dan memilih tidak memakan daging keledai yang sudah siap santap tanpa mengeluh sedikit pun. Mereka juga siap meninggalkan khamar ketika sang Nabi tercinta telah melarangnya, padahal meminum khamar merupakan kebiasaan mereka sejak zaman jahiliah, dan mereka adalah pecandu khamar, yang mana khamar telah menjadi bagian dari darah mereka. Namun ketika Rasulullah mengharamkan hal tersebut, maka kata-kata sami’na wa atha’na adalah motto mereka.

Inilah beberapa potret para sahabat Rasulullah yang menginformasikan bukti-bukti cinta mereka kepada beliau. Menggali dan mengkaji sirah dan potret kehidupan mereka diharapkan dapat memberi beberapa manfaat bagi kita, di antaranya adalah:

  1. Memberikan informasi tentang potret para sahabat dalam mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga kita dapat ber-tasyabbuh (meniru) mereka dalam perkara ini, dan dalam perkara agama secara umum.
  2. Menumbuhkan kecintaan kepada generasi yang terbaik ini, dan ini merupakan bagian dari manhaj ahlussunnah yang telah didiktekan oleh Rasulullah kepada kaum muslimin. Beliau bersabda:

آيَةُ الْإِيْمَانِ حُبُّ الأَنْصَارِ وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الأَنْصَارِ

Artinya: “Ciri keimanan adalah mencintai para sahabat dari kalangan Anshar, dan ciri kemunafikan adalah membenci para sahabat dari kalangan Anshar.”[17]

Wallahu A’lam.


Footnote:

[1] Shahih Al-Bukhari (13), dan Shahih Muslim (44).

[2] Shahih Al-Bukhari (16), Shahih Muslim (165).

[3] Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim (2/13).

[4] Shahih Muslim (2639).

[5] Al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (13/504)].

[6] Madarijus Salikin (3/9).

[7]  Shahih Al-Bukhari (2652), Shahih Muslim (2533).

[8] Shahih Al-Bukhari (6632).

[9] HR. Ibnu Hisyam dalam Sirahnya & Ibnu Jarir dalam Tarikhnya dengan sanad terputus.

[10] Shahih Muslim (1789).

[11] Idem.

[12] Raudhatul Muhibbin, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, hal. 266

[13]Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim 2/13.

[14] HR Bukhari no. 5867.

[15] Shahih Al-Bukhari (5497), dan Shahih Muslim (1837).

[16] Shahih Al- Bukhari (4620), dan Shahih Muslim (1979).

[17] Shahih Al-Bukhari (17), dan Shahih Muslim (74).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments