FADILAT MEMPELAJARI HADIS DAN PARA AHLI HADIS

264
Perkiraan waktu baca: 8 menit
image_pdfUnduh PDF

Hadis adalah salah satu sumber hukum syariat Islam dan merupakan salah satu wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah azza wajalla berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْـهَوَى إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْىٌ يُّوْحَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (Q.S. An-Najm: 3-4)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

Ketahuilah sesungguhnya telah diturunkan kepadaku AlKitab (AlQuran) dan yang semisal dengannya (yaitu Sunah)” [H.R. Abu Daud (no. 4604) dan Ahmad (no. 17174) dari sahabat Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu anhu. Hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ AshShaghir (1/516) dan Syuaib Al-Arnauth dalam tahkik Musnad Ahmad (28/ 411)]

Karena hadis merupakan salah satu sumber hukum maka wajib atas kita untuk mempelajarinya dan berpegang teguh padanya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Aku telah meninggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya: Al-Qur’an dan sunah nabi-Nya. [H.R. Malik secara mursal (2/899) dan Hakim secara maushul (no. 319) dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu serta dinyatakan sahih oleh Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir (1/ 566)]

Daftar Isi:

BEBERAPA FADILAT MEMPELAJARI HADIS

Pertama: Wajah para penuntut ilmu hadis cerah dan berseri-seri.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ

Semoga Allah menjadikan berseri-seri wajah orang yang mendengarkan sabdaku lalu memahaminya dan menghafalkannya kemudian dia menyampaikannya, karena boleh jadi orang yang membawa (mendengarkan) fikih akan menyampaikan kepada yang lebih paham darinya.” [H.R. Tirmidzi (no. 2658), Ibnu Majah (no. 232) dan Ahmad (no. 4157) dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu serta dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam takhrij Misykah Al-Mashabih (1/ 78) dan Syuaib Al-Arnauth dalam tahkik Musnad Ahmad (7/ 221)]

Sufyan bin Uyainah (wafat 198 H) rahimahullah berkata, “Tidak seorang pun yang menuntut dan mempelajari hadis kecuali wajahnya cerah dan berseri-seri disebabkan doa dari Nabi shallallahu alaihi wasallam di hadis tersebut.(1)

Kedua: Para penuntut ilmu hadis adalah orang yang paling banyak berselawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Selawat kepada Nabi shallallohu alaihi wasallam adalah perintah Allah azza wajalla yang memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda:

أَوْلَى النَّاسِ بِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً

Manusia yang terdekat dariku di hari kiamat adalah orang yang terbanyak berselawat kepadaku.[H.R. Tirmidzi (no. 484) dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu dan Al-Albani menilai hadis ini hasan lighairihi dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (2/ 294)]

Dalam hadis lain beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Barang siapa yang berselawat kepadaku satu kali maka Allah berselawat kepadanya sepuluh kali. [H.R. Muslim (no. 408) dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu]

Khatib Baghdadi (wafat 463 H) rahimahullah berkata, “Abu Nuaim (wafat 430 H) rahimahullah menyampaikan kepada kami, “Keutamaan yang mulia ini terkhusus bagi para perawi dan penukil hadis, karena tidak diketahui satu kelompok di kalangan ulama yang lebih banyak berselawat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari mereka, baik itu (selawat) berupa tulisan ataupun ucapan.(2)

Sufyan Ats-Tsauri (wafat 161 H) rahimahullah bertutur, “Seandainya tidak ada faedah bagi shahib al-hadits (penuntut ilmu hadis) kecuali berselawat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka itu sudah cukup baginya karena sesungguhnya dia senantiasa berselawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam selama nama beliau ada di dalam kitab.”(3)

Selanjutnya Shiddiq Hasan Khan (wafat 1307 H) rahimahullah setelah beliau menyebutkan hadis yang menunjukkan keutamaan berselawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam beliau berujar, “Dan tidak diragukan lagi bahwa orang yang paling banyak berselawat adalah ahli hadis dan para perawi As-Sunnah yang suci, karena sesungguhnya termasuk tugas mereka dalam ilmu yang mulia ini (hadis) adalah berselawat di setiap hadis, dan senantiasa lidah mereka basah dengan menyebut (nama) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam… Maka kelompok yang selamat ini dan jemaah hadis ini adalah manusia yang paling pantas bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di hari kiamat, dan merekalah yang paling berbahagia mendapatkan syafaat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam… Maka hendaknya anda wahai pencari kebaikan dan penuntut keselamatan menjadi seorang muhaddits (ahli hadis) atau yang berusaha untuk itu.(4)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi penuntut ilmu hadis tentang selawat:

  1. Tidak boleh seorang penuntut ilmu hadis bosan dan jemu dengan seringnya berselawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, karena itulah salah satu letak keutamaan penuntut ilmu hadis.
  2. Berselawat hendaknya dipadukan antara tulisan dan ucapan.
  3. Hindari menyingkat ketika menuliskan selawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Imam As-Suyuthi (wafat 911 H) rahimahullah dalam kitabnya Tadrib Ar-Rawi mengabarkan bahwa konon orang yang pertama kali mengajarkan dan mencontohkan penyingkatan selawat dijatuhi hukuman potong tangan.(5)

Ketiga: Mengadakan rihlah (perjalanan) untuk menuntut ilmu hadis memiliki keutamaan yang  sangat besar

Allah azza wajalla berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. [Q.S. At-Taubah: 122]

Yazid bin Harun (wafat 206 H) rahimahullah bertanya kepada Hammad bin Zaid (wafat 179 H) rahimahullah, “Wahai Abu Ismail, apakah Allah menyebut tentang ashhabul hadits di dalam Al-Qur’an? Beliau menjawab, “Iya, apa engkau tidak mendengar firman Allah azza wajalla (beliau membaca ayat di atas), perintah ini berlaku bagi setiap yang mengadakan rihlah untuk menuntut ilmu dan fikih lalu kembali kepada kaumnya untuk mengajarkan ilmu tersebut kepada mereka.”(6)

Imam Ahmad (wafat 241 H) rahimahullah mengatakan bahwa saya telah mendengarkan Imam Abdurrazzaq (wafat 211 H) rahimahullah menafsirkan ayat di atas bahwa yang yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah para ashhabul hadits (penuntut ilmu hadis).(7)

Ibrahim bin Adham (wafat 162 H) rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah azza wajalla mencegah bala bencana pada umat ini disebabkan rihlah yang dilakukan oleh para penuntut ilmu hadis.”(8)

Ikrimah Maula Ibnu Abbas (wafat 104 H) radhiyallahu anhuma menafsirkan ayat Allah di surat At-Taubah ayat 112 “Assaaihuuna” sebagai para penuntut ilmu hadis.(9)

Keempat: Mempelajari hadis memberikan manfaat dunia dan akhirat

Sufyan Ats-Tsauri (wafat 161 H) rahimahullah berkata, “Saya tidak mengetahui amalan yang lebih afdal di muka bumi ini dibandingkan mempelajari hadis bagi yang menginginkan dengannya wajah Allah azza wajalla.(10) Beliau rahimahullah juga mangatakan, “Mendengarkan hadis merupakan kebanggaan bagi yang menginginkan dengannya dunia dan merupakan petunjuk bagi yang menginginkan dengannya akhirat(11)

Kelima: Mempelajari hadis sama kedudukannya dengan mempelajari Al-Qur’an

Sulaiman At-Taimi (wafat 177 H) rahimahullah menceritakan, “Kami pernah duduk di sisi Abu Mijlas(12) rahimahullah dan beliau membacakan hadis kepada kami, lalu salah seorang (dari kami) berkata, “Seandainya engkau membacakan saja surat dari Al-Qur’an.” Maka Abu Mijlas berkata, “Apa yang kita lakukan sekarang ini bagiku tidaklah kurang fadilatnya dari membaca surat Al-Qur’an.”(13)

Keenam: Mempelajari dan meriwayatkan hadis lebih afdal dari berbagai macam ibadah-ibadah sunah

Waki bin Al-Jarrah (wafat 197 H) rahimahullah berkata, “Seandainya (meriwayatkan) hadis tidak lebih afdal dari bertasbih tentu saya tidak meriwayatkannya.”(14)

Berkata Abu Ats-Tsalj rahimahullah, “Saya bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal (wafat 241 H) rahimahullah, ‘Wahai Abu Abdillah, yang mana lebih kau sukai: seorang menulis hadis atau dia berpuasa sunah dan salat sunah?’ Beliau menjawab, ‘Menulis hadis.’”(15)

Al-Khatib Al-Baghdadi rahimahullah menyimpulkan, “Mempelajari hadis pada zaman ini(16) lebih afdal dari seluruh ibadah-ibadah yang sunah, disebabkan telah hilang sunah dan orang tidak bergairah lagi dari mengerjakannya serta munculnya bidah-bidah lalu mereka (para ahli bidah) yang berkuasa dan mendominasi sekarang ini.”(17)

PENGERTIAN ASHHABUL HADITS (AHLI HADIS) DAN KEUTAMAAN MEREKA

Banyak ulama yang telah menyebutkan definisi ahli hadis. Mungkin bisa dikumpulkan dan disimpulkan sebagai berikut, “Ahlul Hadits adalah mereka yang mempunyai perhatian terhadap hadis baik riwayah maupun dirayah, mereka bersungguh-sungguh dalam mempelajari hadis-hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam dan menyampaikannya serta mengamalkannya, mereka iltizam (komitmen) dengan sunah, menjauhi bidah dan ahli bidah serta sangat berbeda dengan para pengikut hawa nafsu yang mendahulukan perkataan manusia di atas perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan mendahulukan akal-akal mereka yang rusak yang bertentangan dengan AlQuran dan As-sunnah.(18)

Diantara keutamaan Ahlul Hadits yang disebutkan oleh ulama:

Pertama:  Mereka kelak akan dikumpulkan di hari kiamat bersama imam mereka yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Allah azza wajalla berfirman:

يَوْمَ نَدْعُوا كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barang siapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. [Q.S. Al-Isra: ayat 71]

Sebagian ulama salaf mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan salah satu keutamaan besar dari ahli hadis karena imam mereka adalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.(19)

Kedua: Ahli hadis adalah al-firqah an-najiyah (golongan yang selamat) dan Ath-Thaifah Al-Manshurah (kelompok yang menang dan ditolong oleh Allah azza wajalla)

Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H) berkata rahimahullah tentang Al-Firqah An-Najiyah (golongan yang selamat) dan Ath-Thaifah Al-Manshurah (kelompok yang menang dan ditolong), “Jika mereka bukan Ahlu Al-Hadits maka aku tidak tahu siapa mereka.”(20).

Hal yang sama dikatakan pula oleh Abdullah bin Mubarak (wafat 181 H), Yazid bin Harun (wafat 206 H), Ali bin Al-Madini (wafat 234 H), Imam Bukhari (wafat 256 H), Ahmad bin Sinan (wafat 259 H) dan lain-lain rahimahumullahu jamian.(21)

Ketiga: Ahlu Al-Hadits adalah pemelihara addin dan pembela sunah-sunah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Sufyan Ats-Tsaury (wafat 161 H) rahimahullah berkata, “Para malaikat adalah penjaga-penjaga langit dan Ashab Al-Hadits adalah penjaga-penjaga bumi.(22)

Abu Daud (wafat 275 H) rahimahullah menegaskan, “Seandainya bukan kelompok ini (para Ashab Al-Hadits yang menulis hadis-hadis maka sungguh Islam akan hilang.(23)

Keempat: Ahlu/Ashhabu Al-Hadits adalah pewaris harta warisan dan berbagai hikmah yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Imam Asy-Syaf’i (wafat 204 H) rahimahullah menyatakan, “Jika saya melihat salah seorang dari Ashabu Al-Hadits maka seakan-akan saya melihat salah seorang dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” Dalam riwayat lain beliau berkata, “Jika saya melihat salah seorang dari Ashabu Al-Hadits maka seakan-akan saya melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masih hidup.(23)

Kelima: Ahlu/Ashhab Al-Hadits adalah manusia yang terbaik

Abu Bakr bin Ayyasy (wafat 194 H) rahimahullah mengatakan, “Tidak ada satu pun kaum yang lebih baik dari ashhabul hadis.(24)

Imam Ahmad (wafat 241 H) rahimahullah bertutur, “Tidak ada satu kaum pun menurut saya lebih baik dari Ahli Hadis, mereka tidak mengetahui kecuali hadis dan mereka yang paling afdal berbicara tentang ilmu Ad-Din.”(25)

Hal yang serupa dikatakan pula oleh Al-Auza’iy (wafat 157 H) rahimahullah.

Keenam: Al-Haq (Kebenaran) senantiasa menyertai ashhabu al-hadits

Harun Ar-Rasyid (wafat 193 H) rahimahullah menyatakan, “Saya mencari empat hal lalu saya mendapatkannya pada empat kelompok: Saya mencari kekufuran maka saya mendapatkannya pada Jahmiyah, saya mencari Ilmu Kalam dan perdebatan maka saya mendapatkannya pada Mutazilah, saya mencari kedustaan maka saya mendapatkannya pada Rafidhah (Syiah) dan saya mencari AlHaq (kebenaran) maka saya mendapatkannya bersama Ashabul Hadits.”(26).

Ketujuh: Ahlul Hadis adalah para wali Allah azza wajalla

Yazid bin Harun (wafat 206 H) rahimahullah mengatakan, “Seandainya Ashabul Hadits bukan para hamba dan wali Allah azza wajalla maka saya tidak mengetahui siapa lagi hamba-hamba dan wali-wali Allah azza wajalla.”(27)

Hal yang serupa dikatakan pula oleh Sufyan Ats-Tsaury (wafat 161 H) rahimahullah dan Imam Ahmad bin Hambal (wafat 241 H) rahimahullah.

Inilah beberapa dalil dan atsar yang kami kumpulkan tentang keutamaan menuntut ilmu hadis dan para penuntutnya, semoga Allah azza wajalla menjadikan kita bagian dari mereka Wallahu Waliyyu At-Taufiq wa As-Sadaad.

DAFTAR REFERENSI

  1. Syaraf Ashhabil Hadis, Imam Al-Khathib Al-Baghdadi (wafat 463 H). Tahkik: DR. Muhammad Said Khathib, Daar IhyaAs-Sunnah An-Nabawiyyah Turki, tahun 1972.
  2. Tafsir Al-Quran Al-Azhim, Al-Hafizh Imaduddin Abu Al-Fida Ismail Ibnu Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi (wafat 774 H), Maktabah Daar AsSalam Riyadh, Cetakan Pertama, Tahun 1413 H/1992 M.
  3. Tadribur Rawi Fi Syarh Taqrib AnNawawi, Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi (wafat 911 H), Maktabah Al Kautsar, Riyadh, Cetakan Kedua, Rajab 1415 H.
  4. Shifatu Shalati An Nabi, Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (wafat 1420 H), Maktabah Al Maarif, Riyadh, Cetakan Pertama Edisi Baru, Tahun 1411 H/1991 M.
  5. Makanatu Ahli Al-Hadits, Dr. Rabi’ bin Hadi Al-
  6. Ma’alim AlInthilaqah AlKubra, Muhammad Abdul Hadi Al-Mishri, Daar AlWathan Riyadh, Cetakan Ketujuh, Tahun 1413 H.

Footnote:

(1) Lihat: Syaraf Ashhabil Hadits (hal. 19)

(2) Syaraf Ashhabil Hadits (hal.35)

(3) Ibid (hal.36)

(4) Perkataan ini kami kutip dari kitab Shifat Shalat Nabi oleh Syekh Al-Albani (hal.176)

(5) Lihat: Tadrib Ar-Rawi (1:507)

(6) Lihat: Syaraf Ashhab Al-Hadits (hal.59)

(7) Ibid

(8) Ibid

(9) Ibid (hal. 60)

(10) Ibid (hal.81)

(11) Ibid (hal.63)

(12) Nama beliau adalah Lahiq bin Humaid bin Said As-Sadusi Al-Bashri; beliau terkenal dengan kuniyah-nya, seorang tabiin yang tsiqah, wafat tahun 106 H atau 109 H

(13) Lihat: Syaraf Ashhab Al-Hadits (hal.83)

(14) Ibid

(15) Ibid (hal. 86)

(16) Imam Khatib Baghdadi lahir tahun 392 H dan wafat tahun 463 H; jika hal ini telah beliau katakan pada zamannya padahal para ulama masih sangat banyak maka apa yang akan beliau katakan jika melihat kondisi pada zaman sekarang ini? Wallahu Al-Musta’an.

(17) Syaraf Ashab Al-Hadits (hal.86)

(18) Lihat: Makanatu Ahli Al-Hadits (hal.4-5) dan Ma’alim AlInthilaqah AlKubra (hal.54)

(19) Lihat: Tafsir Ibn Katsir (5/ 99)

(20) Lihat: Syaraf Ashab Al-Hadits (hal.27)

(21) Ibid (hal.26-27)

(22) Ibid (hal.44)

(23) Ibid (hal.52)

(23) Ibid (hal.46)

(24) Ibid (hal.47)

(25) Ibid (hal.48)

(26) Ibid (hal.55)

(27) Ibid (hal.50-51)

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments