APA ITU AL-MUWATHTHA?

537
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

SOAL:

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Saya ingin bertanya ustaz, apakah al-Muwaththa’ itu adalah nama sebuah kitab atau jenis kitab hadis seperti Musnad, Sunan, dsb.? Karena saya pernah menemukan bacaan yang menyatakan bahwa selain yang di-ta’lif oleh Imam Malik, ada juga MuwaththaAbdil ‘Aziz al-Majisyun, Muwaththa’ Ibrahim bin Muhammad, dll., dan selama ini Muwaththa‘ Imam Malik lebih sering disebut al-Muwaththa’ saja. Syukran jaziilan wa baarakallaahu fiykum.

(Djohandra – Duri, Riau)

JAWABAN:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Baarakallaahu fiykum.  

Jazaakallaahu khairan telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk menjawab persoalan Anda.

Al-Muwaththa` atau al-Muwaththa`at (jamak) ialah salah satu jenis kitab hadis klasik bersanad yang ditulis oleh para ulama hadis. Makna Muwaththa` ialah kitab hadis bersanad yang menghimpun hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, atsar sahabat dan ucapan serta fatwa para tabiin yang berkaitan dengan ilmu fikih secara khusus. Jadi, ia bukan hanya sebagai nama khusus kitab Imam Malik (Muwaththa` Imam Malik).

Selain Muwaththa` Malik yang ditulis oleh Imam Malik, ada beberapa buku Muwaththa` yang ditulis oleh ulama hadis lain, di antaranya:

1. Al-Muwaththa` karya Imam Muhammad Ibn Abi Dzi`b (w. 158 H);

2. Al-Muwaththa` karya Imam Abdul-‘Aziz al-Majisyun (w. 164 H). Hanya saja berdasarkan ulasan beberapa ulama, al-Muwaththa` al-Majisyun ini tampaknya kurang memuat hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena kebanyakannya berisi ulasan pembahasan ilmu fikih;

3. Al-Muwaththa` al-Kabir karya Imam Abdullah bin Wahb (w. 197 H);

4. Al-Muwaththa` al-Shagir karya Imam Abdullah bin Wahb (w. 197 H);

5. Al-Muwaththa` karya Imam Abdullah bin Muhammad al-Marwaziy (w. 293 H).

Hanya saja, Kitab al-Muwaththa` yang populer adalah yang disusun oleh Imam Malik. Para ulama Islam pun, banyak menulis karya ilmiah seputar Muwaththa` Imam Malik ini, ada yang menulis syarahnya, biografi para perawi di dalamnya, penguatan sanad-sanadnya, dan lain sebagainya. Hal ini lantaran Muwaththa` Imam Malik adalah buku hadis di mana hadis-hadis Nabi di dalamnya termasuk jenis hadis yang paling sahih setelah Kitab Shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Adapun al-Muwaththa` karya imam-imam yang lain, tampaknya kurang mendapatkan perhatian dari para ulama, sehingga sebagiannya hilang seperti Muwaththa` Ibn Abi Dzi`b dan Muwaththa` al-Marwaziy, dan sebagiannya lagi masih ada namun hanya sebagian kitab saja, seperti al-Muwaththa` al-Shagir karya Abdullah bin Wahb.

Lantaran ketenaran Muwaththa` Imam Malik ini, sehingga ketika disebutkan kitab al-Muwaththa`, secara umum yang dimaksud adalah karya Imam Malik.

Perlu juga diketahui, bahwa Muwaththa` Imam Malik diriwayatkan oleh lebih dari tiga puluh murid beliau. Tiga puluh naskah Muwaththa` Imam Malik ini berbeda-beda antara satu riwayat dengan riwayat lainnya, karena Imam Malik selalu merevisi isi kitab Muwaththa`-nya. Sehingga edisi riwayat al-Muwaththa` yang diriwayatkan oleh murid beliau di tahun pertama, berbeda dengan edisi riwayat al-Muwaththa` di tahun kedua, dan seterusnya. Hal inilah yang menyebabkan edisi riwayat al-Muwaththa` dari Imam Malik berjumlah banyak, yaitu sekitar lebih dari tiga puluh edisi riwayat.

Di antara perawi terkenal yang meriwayatkan Muwaththa` Imam Malik ialah:

1. Yahya bin Yahya al-Laitsiy (w. 234 H). Riwayatnya dikenal dengan “Muwaththa` Malik bi riwayah Yahya al-Laitsiy” (Muwaththa` Malik dengan riwayat Yahya al-Laitsiy). Riwayat al-Laitsiy merupakan riwayat Muwaththa` Malik yang paling populer, dan jika disebut Muwaththa` Malik, maka maksud utamanya adalah riwayat ini;

2. Muhammad bin Hasan al-Syaibaniy (w. 189 H). Riwayatnya dikenal dengan “Muwaththa` Malik bi riwayah Muhammad al-Syaibaniy” (Muwaththa` Malik dengan riwayat Muhammad al-Syaibaniy). Bahkan sebagian ulama langsung menyebutnya dengan “Muwaththa` Muhammad al-Syaibaniy“, karena di dalamnya Muhammad al-Syaibaniy menambahkan banyak hadis dan atsar serta pandangan-pandangan fikih tertentu, sehingga Muwaththa` Malik dengan riwayatnya ini tidak hanya murni berasal dari riwayat atau pandangan-pandangan fikih Imam Malik.

3. Abu Mush’ab al-Zuhriy al-Madaniy (w. 248). Riwayatnya dikenal dengan “Muwaththa` Malik bi riwayah Abi Mush’ab al-Zuhriy” (Muwaththa` Malik dengan riwayat Abu Mush’ab al-Zuhriy). Ini merupakan riwayat Muwaththa` dari Imam Malik yang paling terakhir;

4. Ali bin Ziyad al-Tunisiy (w. 183 H). Riwayatnya dikenal dengan “Muwaththa` Malik bi riwayah Ali bin Ziyad al-Tunisiy” (Muwaththa` Malik dengan riwayat Ali bin Ziyad al-Tunisiy). Ini merupakan riwayat Muwaththa` dari Imam Malik yang paling pertama.

5. Abdullah bin Wahb (w. 197 H). Selain ia memiliki Muwaththa` tersendiri, Abdullah bin Wahb juga meriwayatkan Muwaththa` Malik. Riwayatnya dikenal dengan “Muwaththa` Malik bi riwayah Abdillah bin Wahb” (Muwaththa` Malik dengan riwayat Abdullah bin Wahb).

6. Abdullah bin Maslamah al-Qa’nabiy (w. 221 H). Riwayatnya dikenal dengan “Muwaththa` Malik bi riwayah Abdillah al-Qa’nabiy” (Muwaththa` Malik dengan riwayat Abdullah bin Maslamah al-Qa’nabiy). Ini merupakan riwayat al-Muwaththa` dari Imam Malik yang dianggap paling sahih.

Semoga bermanfaat dan mencerahkan. Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad.

Sumber:

Al-Siyar, Kasyf al-Zhunun, Tartib al-Madarik, al-Masanid al-Mi`ah, Muqaddimah Muwaththa` Malik oleh Muhammad Fuad Abdul-Baqiy, dll.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments