PENUHI LIMA HAL INI AGAR ISLAM-MU TEGAK

332
Perkiraan waktu baca: 4 menit
image_pdfUnduh PDF

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dikaruniai jawamiul kalim oleh Allah subhanahu wata’ala. Kata-kata yang keluar dari lisan beliau yang mulia bak air jernih yang menyegarkan dan menghapus dahaga jiwa. Kejernihan makna yang disirat terkandung dalam kekuatan lafaz yang terucap. Dalam hadis Ibnu Umar, sang baginda menjelaskan tentang Islam sembari menyerupakannya dengan sebuah bangunan. Ini adalah satu metode penjelasan yang dapat mendekatkan pemahaman pendengarnya. Ini adalah bagian dari jawamiul kalim tersebut. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

 بُنِيَ الإِسْلامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البِيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ ” رواه البخاري ومسلم

“Islam itu dibangun di atas lima hal; syahadat bahwa tiada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan Muhammad adalah rasulullah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berhaji ke baitullah, dan berpuasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rukun Islam

Islam diibaratkan sebuah bangunan besar. Bangunan besar ini memiliki tiang-tiang penopang yang menjaga tegaknya bangunan tersebut. Setiap muslim yang menjaga semua tiang penopang akan bernaung di dalam bangunan tersebut. Siapa yang bernaung di dalamnya akan masuk ke dalam surga.

Kalau kita membaca buku agama, tiang-tiang ini sering disebut sebagai rukun. Tiang-tiang tersebut adalah sebagai berikut:

1. Dua kalimat syahadat.

Yaitu persaksian bahwasanya tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul Allah. Dua kalimat syahadat ini memiliki makna yang terkait satu dengan yang lainnya. Salah satunya tidak bisa berpisah dengan yang lain. Siapa saja yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan tidak bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah serta ia hidup di zaman umat ini, maka syahadatnya tidak memberi manfaat pada dirinya. Keduanya harus diakui dan diikrarkan bersamaan.

Oleh karena itu, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nasrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka.”1

2. Mendirikan salat lima waktu.

Yang dimaksud dengan mendirikan salat ialah mengerjakannya secara sempurna dengan memenuhi syarat-syaratnya dan mengerjakan rukun-rukunnya. Syarat dan rukun tersebut mesti dipelajari. Seorang mukmin hendaknya mampu menyiapkan waktu untuk mempelajarinya mengingat kewajiban salat ini dilakukan lima kali dalam sehari.

3. Menunaikan zakat.

Maksud dari zakat adalah nilai tertentu yang dibayarkan oleh setiap muslim dari harta-harta tertentu pada waktu tertentu pula.

4. Mengerjakan haji ke Baitullah bagi yang mampu.

Dipersyaratkan kemampuan bagi orang yang ingin mengerjakan haji karena dalam pelaksanaannya terdapat kesulitan yang tidak ada pada ibadah lainnya. Oleh sebab itu, dipersyaratkan kemampuan dalam pelaksanaannya.

5. Berpuasa Ramadhan.

Yaitu menahan diri dari segala macam hal yang dapat membatalkan puasanya semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari pada bulan Ramadhan.

Bagaimana dengan orang yang meninggalkan salah satu dari rukun/tiang penopang di atas disertai keyakinan akan kewajibannya ?

  1. Jika yang ditinggalkan adalah dua kalimat syahadat maka orang tersebut keluar dari Islam. Terdapat Ijmak dalam hal ini. 2
  2. Jika orang tersebut tidak pernah sekalipun mengerjakan salat maka orang tersebut pun keluar dari Islam. Nabi bersabda, “Yang memisahkan antara seorang laki-laki dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.”3 Dalam hadis lain, sang baginda bersabda, “Perjanjian di antara kita dan mereka adalah salat, barang siapa meninggalkannya berarti ia kafir.”4 Abdullah bin Syaqiq berkata, “Dahulu sahabat nabi Muhammad tidak menganggap ada suatu amal yang jika ditinggalkan dapat mengeluarkan dari Islam kecuali salat.”5
  3. Zakat, puasa, dan haji apabila ditinggalkan maka pelakunya tidak keluar dari Islam. Namun meninggalkannya dengan sengaja berbahaya bagi agama pelakunya. Hendaknya seorang mukmin tidak meremehkan hal ini.

Adapun orang yang mengingkari kewajiban rukun-rukun di atas maka ia keluar dari Islam.

Jihad Tidak Disebutkan? 

Dalam hadis ini, nabi tidak menyebutkan jihad. Mengapa? Padahal jihad juga rukun dan puncak keislaman. Nabi bersabda, Jihad adalah tiang Islam dan puncak tertingginya.”6 Para ulama menyebutkan bahwa hal ini dikarenakan jihad tidak akan berlangsung terus-menerus hingga akhir zaman. Ketika Nabi ‘Isa ‘alaihissalam diturunkan, jihad akan tidak diberlakukan lagi. Di sisi lain, hukum jihad adalah fardhu kifayah. Tidak wajib bagi setiap orang Islam. Jika ada sekelompok kaum muslimin yang melaksanakannya maka kewajiban itu gugur bagi yang lain. Berbeda halnya dengan dua kalimat syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji. Kewajibannya ditetapkan pada setiap individu yang memenuhi kriteria tertentu. Kriteria tersebut bisa didapatkan dalam kitab-kitab fikih.

Detil dalam Meriwayatkan

Dalam hadis Ibnu Umar di atas, Rasulullah mendahulukan penyebutan haji sebelum puasa. Dalam hadis-hadis yang lain, puasa disebutkan sebelum haji. Ibnu Umar mendengarkan hadis ini sedemikan rupa dari Rasulullah. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ada orang yang menyanggah Ibnu Umar ketika menyebutkan hadis ini, “Haji dan puasa Ramadhan.” Ibnu Umar menjawab, “Tidak, puasa Ramadhan dan haji.” Tidak terdapat masalah dalam perbedaan ini. Bahkan dalam riwayat Ahmad disebutkan bahwa Abdullah bin Umar ditanya setelah menyebutkan lima rukun di atas, “Lalu (setelahnya) jihad?” Beliau menjawab, “Jihad itu baik, namun demikianlah apa yang disebutkan oleh Rasulullah kepada kami.”7 Dari sini dapat diambil pelajaran betapa telitinya para sahabat dalam meriwayatkan hadis nabi hingga sampai kepada generasi berikutnya.  Meriwayatkan hadis dari Nabi bukan perkara gampang. Hingga perawinya haruslah memiliki sifat dan kriteria tertentu. Kriteria tersebut bisa ditelaah dalam buku-buku ulumul hadits/musthalah al-hadits.

Semoga Allah memberikan taufik-Nya untuk kita guna menyempurnakan seluruh rukun Islam. Amin.

Catatan Kaki

  1. H.R. Muslim 153
  2. Lihat : Kitab al-Iman karya Ibnu Taimiyah hal. 287.
  3. H.R. Muslim 117
  4. H.R. Ahmad 21859 dan al-Nasai 459 serta Ibnu Majah 1069
  5. H.R. Tirmidzi 2622. Lihat Khulasah al-Ahkam 1/245.
  6. H.R. Ahmad 21036
  7. Lihat Musnad Imam Ahmad: 2/26.
image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments