HADIS KE-42 AL-ARBA’IN: SEANDAINYA DOSAMU MENUMPUK HINGGA KE UJUNG LANGIT

104
Perkiraan waktu baca: 4 menit
image_pdfUnduh PDF

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ يَقُولُ: قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا ابْنَ آَدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوتَنِيْ وَرَجَوتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلا أُبَالِيْ، يَا ابْنَ آَدَمَ لَو بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ استَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ، يَا ابْنَ آَدَمَ إِنَّكَ لَو أَتَيْتَنِيْ بِقِرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لقِيْتَنِيْ لاَ تُشْرِك بِيْ شَيْئَاً لأَتَيْتُكَ بِقِرَابِهَا مَغفِرَةً. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحَيْحٌ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Allah berfirman, ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau senantiasa berdoa dan berharap kepada-Ku niscaya Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam kalau seandainya dosamu mencapai ujung-ujung langit, kemudian engkau memohon ampun kepada–Ku, niscaya aku akan memberikan ampunan kepadamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam seandainya engkau menghadap kepada–Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi kemudian engkau berjumpa dengan–Ku dalam keadaan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.’” (HR. Tirmidzi. Beliau berkata, “Hadis ini hasan sahih.”)[1]

Inilah hadis yang dipilih oleh Imam al-Nawawi sebagai penutup rangkaian 42 hadis pilihan beliau sebagai bentuk harapan agar Allah memberikan ampunan-Nya kepada penulis dan semua yang membaca hadis-hadis pilihan tersebut.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari jalur Katsir bin Faid, dari Sa’id bin ‘Ubaid, dari Bakr bin Abdullah al-Muzani, dari Anas bin Malik. Di dalam salinan sunan Tirmidzi yang ada saat ini, Imam Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan gharib, kami tidak mengetahuinya melainkan melalui jalur ini saja.”[2]

Di dalam sanad hadis ini terdapat Katsir bin Faid, dimasukkan oleh Ibnu Hibban ke dalam kitab beliau al-Tsiqat. Namun, keadaan ini tidak berarti bahwa rawi tsiqah karena Ibnu Hibban biasa memasukkan majhul yang tidak mendapat kritik riwayat (baik dari sisi jarh atau ta’dil) ke dalam ranah tsiqah.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Abu Qutaibah dari Sa’id bin Zubair dengan sanad serupa dalam Musnad al-Bazzar.

Hadis ini juga memiliki syawahid, di antaranya hadis Abu Dzar[3] dan Ibnu ‘Abbas.[4]

Hadis ini menunjukkan betapa luasnya rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Allah adalah zat yang maha pemurah dan penyayang, di antara nama-nama-Nya adalah al-Rahman (Maha Pengasih), al-Rahim (Maha Penyayang), al-Ghafur (Maha Pengampun).

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Artinya, “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Zumar: 53).

اَفَلَا يَتُوْبُوْنَ اِلَى اللّٰهِ وَيَسْتَغْفِرُوْنَهٗۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya, “Tidakkah mereka bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya, padahal Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang?” (QS. al-Ma`idah: 74)

Berdasarkan hadis di atas, terdapat tiga hal yang dapat menjadi sebab ampunan Allah:

  1. Doa dan harap kepada Allah akan datangnya ampunan dan penerimaan dari-Nya

“Wahai Bani Adam, sesungguhnya jika engkau senantiasa berdoa dan berharap kepada-Ku niscaya Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli.” Demikianlah firman Allah dalam hadis qudsi di atas. Bahkan Allah telah menjamin di dalam al-Qur’an,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗ

Artinya, “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan).’” (QS. Ghafir: 60)

Setiap hamba yang memohon ampunan-Nya dan mengharapkannya niscaya akan mendapatkannya selama ia senantiasa memintanya kepada Allah.

  1. Istigfar

Ucapan “astaghfirullah” adalah ucapan yang dicintai oleh Allah, apalagi bila saat membacanya seorang hamba benar-benar menghadirkan hatinya. Istigfar adalah permohonan ampunannya, dan setiap hamba yang memintanya kepada Allah akan mendapatkannya. Ini karena Allah adalah zat yang mencintai orang-orang yang bertaubat. Allah berfirman,

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Artinya, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. al-Baqarah : 222)

Allah berfirman,

وَاللّٰهُ يُرِيْدُ اَنْ يَّتُوْبَ عَلَيْكُمْ ۗ

Artinya, “Allah hendak menerima tobatmu…” (QS. An-Nisa`: 27)

Perlu ditegaskan bahwa mengharapkan ampunan dan istigfar harus dibarengi dengan taubat yang jujur kepada Allah dan azam hati meninggalkan kesalahan masa lampau. Jika tidak, harapan itu hanyalah omong kosong belaka. Abdullah bin Syaqiq pernah mengatakan,

الرِّجَالُ ثَلَاثَةٌ: رَجُلٌ عَمِلَ حَسَنَةً فَهُوَ يَرْجُو ثَوَابَهَا، وَرَجُلٌ عَمِلَ سَيِّئَةً ثُمَّ تَابَ فَهُوَ يَرْجُو الْمَغْفِرَةَ، وَالثَّالِثُ: الرَّجُلُ الْكَذَّابُ يَتَمَادَى فِي الذُّنُوبِ، ويَقُولُ: أَرْجُو الْمَغْفِرَةَ، وَمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ بِالْإِسَاءَةِ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ خوفه غَالِبًا عَلَى رَجَائِهِ

“Manusia itu ada tiga: seseorang yang mengerjakan kebaikan dan mengharapkan pahalanya; seseorang yang mengerjakan keburukan lalu ia bertobat, ia pun mengharapkan ampunan; orang yang ketiga ialah seorang pendusta yang berkubang dosa, ia pun berkata, ‘Aku mengharapkan ampunan.’ Orang yang mengetahui bahwa dirinya banyak salah hendaknya menjadikan rasa takutnya lebih dominan dibandingkan harapannya.”[5]

  1. Tauhid

Mengesaakan Allah adalah sebab terbesar datangnya ampunan dan kasih sayang Allah kepada sang hamba. Allah mengatakan, “Wahai anak Adam seandainya engkau menghadap kepada–Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi kemudian engkau berjumpa dengan–Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”

Rasulullah bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa meningggal sedangkan dia mengetahui bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, niscaya dia masuk surga.”[6]

Beliau bersabda pula,

مَنْ لَقِيَ اللهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun pasti masuk surga.”[7]

Setiap ahli tauhid pasti mendapatkan surga Allah, namun keadaan mereka berbeda-beda berdasarkan amalan keburukan yang dikerjakan selama di dunia, ada yang harus disiksa di neraka sekadar dosa dan kesalahannya lalu dimasukkan surga, ada pula yang diampuni oleh Allah dan dimasukkan surga tanpa disiksa.

Rasulullah juga pernah berabda,

إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيَقُولُ: أَفَلَكَ عُذْرٌ؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيَقُولُ: بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً؛ فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ، فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولُ: احْضُرْ وَزْنَكَ. فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَقَالَ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ. قَالَ: فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ فَطَاشَتْ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ

“Sesungguhnya Allah akan menyelamatkan seorang laki-laki dari umatku di hadapan manusia pada hari kiamat, lalu dia membuka buku catatan besar di hadapannya, setiap buku catatan besar lebarnya seperti sepanjang mata memandang, kemudian Dia berfirman, ‘Apakah kamu mengingkari sesuatu dari ini? Apakah para penulisku yang menjaga (amal manusia) menzalimimu?’ Dia menjawab, ‘Tidak wahai Rabb-ku.’ Allah bertanya, ‘Apakah kamu mempunyai dalih (bagi amal burukmu)?’ Dia menjawab, ‘Tidak wahai Rabb-ku.’ Allah berfirman, ‘Tidak demikian, sesungguhnya kamu mempunyai kebaikan di sisi Kami, karena itu tidak ada kezaliman atasmu pada hari ini.’ Lalu keluarlah kartu amal kebaikan, yang di dalamnya tercatat bahwa ‘Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.’ Lalu Allah berfirman, ‘Hadirkan amal timbanganmu!’ Dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, apa (artinya) satu kartu amal ini (bila) dibandingkan buku catatan besar ini?’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kamu tidak akan dizalimi.’” Nabi melanjutkan, ‘Lalu diletakkanlah buku catatan besar pada satu sisi, sedangkan kartu amal diletakkan pada sisi lainnya, maka buku catatan besar itu ringan (timbangannya) sedangkan kartu amal itu berat, tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dibandingkan nama Allah.”[8]


Footnote:

[1] HR. Tirmidzi (3540), al-Bazzar (6760), dan Thabrani dalam al-Ausath (4305).

[2] Sunan Tirmidzi (5/509).

[3] HR. Muslim (2687), al-Darimi (2830), dan Ibnu Hibban (226).

[4] HR. Thabrani dalam al-Kabir (12346), al-Ausath (5483) dan al-Saghir (820).

[5] Syu’ab al-Iman (2/1016).

[6] HR. Muslim (26)

[7] HR. Bukhari (129) dan Muslim (93)

[8] HR. Tirmidzi (2639).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments