1

40 Hadis Qudsi – Hadis 04– Kehilangan Mata

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ اللهَ قَالَ: إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ

Terjemah Hadis

Dari Anas bin Mālik raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata, “Saya telah mendengar Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah berfirman, ‘Jika Aku uji hamba-Ku dengan kehilangan dua kecintaannya lantas ia pun bersabar, Aku gantikan keduanya dengan surga untuknya’.”

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhārī (5653) dan Aḥmad (12663) melalui jalur ‘Amr Maulā al-Muṭṭalib.

Diriwayatkan pula oleh Bukhārī secara mu’allaq (5653), Tirmiżī (2400), dan ‘Abd bin Ḥumaid (1227) melalui jalur Abū Ẓilāl.

Diriwayatkan pula oleh Bukhārī  secara mu’allaq (5653) dan Aḥmad (14237) melalui jalur Asy’aṡ bin Jābir.

Diriwayatkan pula oleh Aḥmad (12790) dari jalur al-Naḍr bin Anas.

Keempatnya meriwayatkan dari Anas bin Mālik raḍiyallāhu ‘anhu. Di dalam riwayat Asy’aṡ bin Jābir disebutkan,

مَنْ أَذْهَبْتُ كَرِيمَتَيْهِ ثُمَّ صَبَرَ وَاحْتَسَبَ كَانَ ثَوَابُهُ الْجَنَّةَ

“Siapa yang Aku hilangkan kedua kemuliaannya lantas ia bersabar dan mengharap pahalanya, niscaya balasannya ialah surga.”

Hadis ini juga memiliki syawāhid seperti hadis riwayat Abu Hurairah[1], Abu Umāmah al-Bāhily[2], Ibnu ‘Abbās[3], ‘Irbāḍ bin Sāriyah[4], Jarīr[5], Abu Sa’īḍ al-Khudrī[6], dan Zaid bin Arqam[7].

Di dalam hadis Abū Umāmah disebutkan,

يَا ابْنَ آدَمَ إِذَا أَخَذْتُ كَرِيمَتَيْكَ فَصَبَرْتَ وَاحْتَسَبْتَ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى لَمْ أَرْضَ لَكَ بِثَوَابٍ دُونَ الْجَنَّةِ

“Wahai anak Adam! Jika Aku ambil kedua kemuliaanmu, lantas engkau bersabar dan berharap pahala saat awal kali musibah itu (menimpa), Aku tidak akan rida dengan pahala bagi engkau yang lebih rendah dari pada surga.”

Di dalam hadis Zaid bin Arqam disebutkan,

مَا ابْتُلِيَ عَبْدٌ بَعْدَ ذَهَابِ دِينِهِ بِأَشَدَّ مِنْ بَصَرِهِ ، وَمَنِ ابْتُلِيَ بِبَصَرِهِ ، فَصَبَرَ حَتَّى يَلْقَى اللهَ لَقِيَ اللهَ – تَبَارَكَ وَتَعَالَى – وَلَا حِسَابَ عَلَيْهِ

“Tiadalah seorang hamba diuji dengan sebuah ujian yang lebih berat setelah kehilangan agamanya dibandingkan dengan ujian kehilangan penglihatannya. Siapa yang diuji dengan penglihatannya lalu ia bersabar hiangga ia berjumpa dengan Allah tabāraka wa ta’ālā, tidak akan ada hisab atas dirinya.”

Kandungan Hadis

  1. Suatu ketika Abu Ẓilāl[8] (salah satu rawi hadis ini dari Anas bin Mālik) berkata, “Aku menemuni Anas bin Mālik, beliau pun bertanya padaku, ‘Mendekatlah! Kapankah engkau kehilangan penglihatanmu?’ Aku menjawab, Menurut keluarga saya, saat saya berusia dua tahun’. Beliau berkata, ‘Hendakkah aku kabarkan kepadamu hal yang dapat membuatmu menentramkan hatimu?’ Aku menjawab, ‘Tentu’. Beliau pun lantas bercerita, ‘Ibnu Ummi Maktūm pernah melintas di hadapan Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, ia lalu mengucapkan salam kepada beliau, setelah itu pergi. Setelah itu Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ : مَا لِمَنْ أَخَذْتُ كَرِيمَتَهُ عِنْدِي جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

 ‘Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Bagi orang yang Aku ambil hal mulianya, tidak ada balasan di sisi-Ku untuknya melainkan surga’.”[9]

  1. Di dalam hadis di atas disebutkan tentang dua kecintaan dan dua kemuliaan, yang dimaksud adalah kedua mata sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Zaid bin Arqam di atas secara lugas, juga ditafsirkan oleh Anas bin Mālik dalam hadis riwayat Bukhārī di atas.[10] Disebut sebagai dua kecintaan karena mata adalah organ yang paling dicintai oleh seorang insan. Dengan kedua mata, seorang manusia dapat melihat kebaikan lalu mengambilnya atau melihat keburukan lantas menghindarinya. Hilangnya pandangan termasuk musibah terbesar, kehilangan mata menjadikan seseorang berduka teramat dalam karena kehilangan sebuah maslahat besar dalam kehidupannya.
  2. Kesabaran disertai dengan pengharapan pahala dari musibah yang menimpa menjadikan Allah rida kepada hamba dan memberi sang hamba kebaikan yang begitu besar. Terkhusus dalam hadis ini, balasan yang dijanjikan oleh Allah atas kesabaran yang disertai harapan akan pahala dengan surga-Nya. Kesabaran yang dimaksud adalah dengan tidak berkeluh kesah, dongkol, dan menampakkan ketidakridaan terhadap takdir Allah tersebut.[11]
  3. Balasan berupa surga adalah kenikmatan yang paling tinggi. Kenikmatan memandang akan sirna seiring kepergian manusia meninggalkan dunia atau hancurnya dunia itu sendiri, berbeda dengan kenikmatan surga yang abadi dan kekal.
  4. Berdasarkan hadis Abū Umāmah diketahui bahwa kesabaran yang bermanfaat, membuahkan kebaikan dan dijanjikan balasan surga adalah kesabaran saat awal kali musibah menimpa. Hendaknya seorang hamba berserah dan menerima takdir Allah saat awal musibah menimpa. Jika di awal musibah menimpa seorang hamba merasa kesal, tidak menerima takdir, lalu kemudian berangsur-angsur ia bersabar karena ia tahu tidak ada pilihan lain, keutamaan yang disebutkan bisa terlewatkan. Dalam hadis lain, Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata,

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأَوْلَى

“Hanya saja sabar itu sabar itu pada saat pertama (datangnya mushibah).”[12]

  1. Hadis ini menunjukkan bahwa beberapa amalan dapat menjadi sebab masuk surga.[13]
  2. Sesungguhnya amalan itu bergantung dengan niatnya. Bersabar dengan disertai kesadaran dan niat menjadikan sabar sebagai amalan ibadah dan mengharap pahala yang Allah janjikan kepada orang-orang yang bersabar tentu berbeda dengan kesabaran yang tidak disertai hal-hal tersebut.

Wallāhu a’lam.

 


Footnote:

[1] H.R. Tirmiżi (2401) dan Aḥmad (7712).

[2] H.R. Aḥmad (22658).

[3] H.R. Ibnu Hibbān (2930).

[4] H.R. Ibnu Hibbān (2931).

[5] H.R. Ṭabrānī (2263) dalam al-Kubrā.

[6] H.R. Ṭabrānī (5372) dalam al-Ausaṭ.

[7] H.R. al-Bazzār (4342).

[9] H.R. ‘Abd bin Ḥumaid (1227). Derajat riwayat Abu Zīlāl dilemahkan oleh para ulama, namun asal hadis diriwayatkan oleh Imam Bukhāri dan lain-lain dari jalur lainnya tanpa menyebutkan kisah ini.

[10] Lihat: ‘Umdah al-Qārī (21/215).

[11] Lihat: ‘Umdah al-Qārī (21/215).

[12] H.R. Bukhāri (1283) dan Muslim (926).

[13] Salah satu kitab yang membahas hal ini adalah kitab Mūjibāt al-Jannah karangan Ibnu Fākhir al-Aṣbahānī, Mūjibāt al-Jannah fī Ḍau` al-Sunnah karya DR. Abdullāh al-Ju’aiṡan, Mūjibāt al-Jannah fī Ṣaḥīḥ al-Sunnah karya Farīd al-Handāwī.