DEMAM ADALAH API-KU DI DUNIA

170
DEMAM ADALAH API KU DI DUNIA
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

40 Hadis Qudsi – Hadis 07– Demam adalah api-Ku di dunia

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ عَادَ مَرِيضًا – وَمَعَهُ أَبُو هُرَيْرَةَ – مِنْ وَعَكٍ كَانَ بِهِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَبْشِرْ ، فَإِنَّ اللهَ يَقُولُ: هِيَ نَارِي أُسَلِّطُهَا عَلَى عَبْدِي الْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا ، لِتَكُونَ حَظَّهُ مِنَ النَّارِ فِي الْآخِرَةِ

Terjemah Hadis

Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau menjenguk orang sakit ditemani oleh Abu Hurairah, orang itu demam. Nabi ﷺ bersabda kepadanya, “Bergembiralah karena sesungguhnya Allah berfirman, ‘Itu (demam) adalah api-Ku yang Aku timpakan kepada hamba-Ku yang beriman di dunia sebagai pengganti bagiannya dari api neraka di akhirat’.”

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Mājah (3470), al-Ḥākim (1281), dan Aḥmad (9807) melalui jalur ‘Abdurraḥmān bin Yazīd bin Jābir (riwayat ini dianggap keliru oleh Imam al-Dāruquṭnī[1]).

Al-Baihaqi (6687) dan al-Ṭabrānī (10) meriwayatkan melalui jalur Abdurraḥmān bin Yazīd bin Tamīm. Riwayat ini dikuatkan dengan adanya jalur lain yaitu jalur Abū Gassān Muhḥammad bin Muṭṭarif dari Abu Al-Huṣain[2] dari Abdurrahman bin Yazīd bin Tamīm dengan lafaz yang berbeda namun semakna.

Kedua jalur tersebut bertemu di jalur Ismā’īl bin ‘Ubaidillah Tājirullāh dari Abū Ṣālih al-Asy’ari dari Abū Hurairah  dari Nabi ﷺ.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Abu Sālih dari Abu Umāmah. Juga diriwayatkan oleh Abu Sālih dari Ka’b al-Aḥbar (mauqūf). Riwayat inilah yang benar menurut al-Dāruquṭnī.[3]

Kandungan Hadis

  1. Hadis ini berisi contoh teladan dari Rasulullah dalam mengunjungi orang sakit. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ selalu menyempatkan diri mengunjungi orang sakit dan mendoakan kesembuhan baginya di tengah-tengah kesibukan beliau mengurusi negara dan umat.
  2. Di dalam hadis ini terdapat adab mengunjungi orang sakit yaitu menghembuskan optimisme ke dalam hati orang yang sedang sakit dan mengingatkannya kepada Allah dan kebaikan di balik musibah yang menimpanya.
  3. Di dalam riwayat Imam al-Baihaqī, Abu Hurairah berkata,
Baca juga:  TERCELA YANG MENCELA ZAMAN

فَقَبَضَ عَلَى يَدِهِ ، وَوَضَعَ يَدَهُ عَلَى جَبْهَتِهِ ، وَكَانَ يَرَى ذَلِكَ مِنْ تَمَامِ عِيَادَةِ الْمَرِيضِ.

“Nabi menggenggam tangannya dan meletakkan tangan beliau di atas kening orang sakit tersebut. Beliau beranggapan bahwa itu adalah bentuk kesempurnaan (adab) mengunjungi orang sakit.”

  1. Hadis ini juga menunjukkan bahwa musibah menjadi pelebur dosa dan kesalahan di dunia ini sehingga tidak ada lagi balasan neraka di akhirat kelak. Hal ini terkadang tidak disadari oleh orang yang ditimpa penyakit. Rasulullah bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى إِلَّا حَاتَّ اللهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ كَمَا تَحَاتُّ وَرَقُ الشَّجَرِ

“Tiadalah setiap muslim ditimpa penyakit kecuali Allah menggugurkan darinya keburukannya seperti dedaunan yang gugur dari pepohonan.”[4]

Hal ini menjadikan bahwa penyakit dan musibah yang ia derita menjadi kebaikan baginya. Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ini adalah tanda Allah ingin seorang hamba menjadi baik. Beliau bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Siapa yang Allah hendaki kebaikan bagi dirinya, diberi musibah.”[5]

 

 


Footnote:

[1] Lihat: al-‘Ilal al-Wāridah fī al-Aḥādīṡ al-Nabawiyyah (10/219).

[2] Kemungkinan besar beliau adalah al-Falisṭini (majhūl). Lihat: Tahżīb al-Kamāl (23/331) dan Tahżīb al-Tahżīb (4/512).

[3] Al-‘Ilal al-Wāridah fī al-Aḥādīṡ al-Nabawiyyah (10/219).

[4] H.R. Bukhārī (5647) dan Muslim (2571).

[5] H.R. Bukhārī (5645).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments