HADIS KEDELAPAN: MEMBERIKAN SEMANGAT UNTUK BERLATIHPerkiraan waktu baca: 2 menit

34
HADIS TENTANG OLAHRAGA []

40 HADIS TENTANG OLAH RAGA(1)

REDAKSI HADIS:

عَنْ عائِشَةَ رضي الله عنها، قالَتْ: كَانَ يَوْمَ عِيدٍ، يَلْعَبُ السُّودانُ بِالدَّرَقِ والْحِرابِ، فَإِمَّا سَأَلْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، وَإِمَّا قالَ: تَشْتَهِينَ تَنْظُرِينَ؟. فَقُلْتُ: نَعَمْ. فَأَقامَنِي وَراءَهُ، خَدِّي على خَدِّهِ، وهو يَقُولُ: دُونَكُمْ يا بَنِي أَرْفِدَةَ. حَتَّى إذا مَلِلْتُ، قالَ: حَسْبُكِ؟. قُلْتُ: نَعَمْ. قالَ: فاذْهَبِي.  (رواه البخاري)

Artinya: Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Pada suatu hari raya, ketika orang-orang Sudan (Habasyah) sedang memainkan perisai dan tombak, aku tidak ingat apakah aku yang meminta kepada Nabi atau beliau sendiri yang bertanya kepadaku, ‘Apakah engkau ingin melihatnya?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Lalu beliau menyuruhku berdiri di belakang beliau. Aku pun meletakkan pipiku di atas pipi beliau, sementara beliau berkata kepada mereka, ‘Teruskanlah, wahai Bani Arfidah!’ Hingga ketika aku merasa bosan, beliau bertanya, ‘Apakah sudah cukup?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau pun bersabda, ‘Kalau begitu, pergilah.'”      (HR. al-Bukhari).

TAKHRIJ HADIS:

     Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-‘Idain, Bab Permainan Tombak dan Perisai pada Hari Raya (no. 950).

KOSA KATA HADIS:

Al-Hirāb (الْحِرَاب) adalah bentuk jamak dari kata ḥarbah, yaitu tombak pendek yang terbuat dari besi dan memiliki ujung yang runcing.

Ad-Daraq  (الدَّرَق) merupakan bentuk jamak dari daraqah, yaitu perisai.

Bani Arfidah (بَنِي أَرْفِدَةَ)  adalah julukan bagi orang-orang Habasyah (Ethiopia). Ada pula yang berpendapat bahwa Arfidah merupakan nama salah satu kabilah atau kelompok mereka.

SYARAH HADIS:

    Perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha: (يَلْعَبُ السُّودانُ بِالدَّرَقِ والْحِرابِ)

Artinya: Orang-orang Sudan (Habasyah) sedang memainkan perisai dan tombak

     Al-Zain bin al-Munayyir rahimahullah berkata, “Permainan tersebut disebut sebagai ‘permainan’, padahal hakikatnya merupakan latihan untuk peperangan, yang termasuk perkara serius. Hal itu dinamakan permainan karena memiliki kemiripan dengannya. Tujuannya adalah melatih kemampuan menusuk dan mengelabui lawan tanpa benar-benar melukainya, meskipun lawan tersebut adalah ayah atau anaknya sendiri.”

Baca juga:  KITAB AṬ-ṬAHĀRAH (BERSUCI)

     Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah berkata, “Hadis ini dijadikan dalil tentang bolehnya berlatih menggunakan senjata dengan saling berhadapan sebagai latihan perang serta anjuran untuk memberikan semangat dalam melakukannya. Dari hadis ini juga disimpulkan bolehnya melakukan al-mutsāfaqah (latihan bertarung menggunakan senjata, seperti anggar), karena di dalamnya terdapat latihan keterampilan tangan dalam menggunakan alat-alat peperangan.”(2)

     Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Lafaz dūnakum (دُونَكُمْ) termasuk bentuk ighrā’ (ungkapan dorongan atau anjuran). Objek yang dianjurkan tidak disebutkan secara eksplisit. Maknanya adalah, ‘Teruskanlah apa yang sedang kalian lakukan.'”(3)

     Hadis ini menunjukkan pentingnya latihan sebagai persiapan berjihad di jalan Allah Ta’ala. Rasulullah ﷺ tidak sekadar menyaksikan permainan tersebut bersama istri beliau, Aisyah radhiyallahu ‘anha, tetapi juga memberikan dorongan kepada orang-orang Habasyah agar terus melanjutkan latihan mereka.

     Oleh karena itu, latihan menggunakan tombak pendek maupun tombak panjang disyariatkan. Meskipun manfaat langsungnya terkadang tampak kecil, latihan tersebut tetap dianjurkan karena menjadi sarana mempersiapkan kemampuan fisik dan keterampilan untuk berjihad. Bahkan, apabila tujuannya sekadar untuk melatih kebugaran tubuh atau sebagai bentuk permainan yang mubah, hal itu tetap diperbolehkan, selama dilakukan dengan penuh kehati-hatian sehingga tidak membahayakan orang lain, baik dengan menakut-nakuti, melukai, maupun bentuk gangguan lainnya, sebagaimana dalam latihan duel.(4)

     Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata dalam matan al-Minhāj: “Sah mengadakan perlombaan memanah. Demikian pula perlombaan melempar tombak kecil (mazārīq), tombak panjang (rimāḥ), melempar batu, dan menggunakan manjanīq (trebuchet). Begitu pula setiap bentuk perlombaan yang bermanfaat dalam peperangan, menurut pendapat yang dianut dalam mazhab (Syafi’i-pen).”(5)


Footnote:

(1) Diterjemahkan dan disadur dari buku Al-Arba’ūn Al-Riyādhiyyah Arba’ūna Hadītsan fī Fadhāil al-Riyādhah, karya Syekh Muhammad Khair Ramadhan Yusuf hafizhahullah, diterbitkan oleh Dār al-Thayyibah lin Nasyr wa al-Tawzi’ di Riyadh-Saudi Arabia, Cetakan Pertama, tahun 1425H/2004M.

Baca juga:  IBADAH SALAT YANG DILAKSANAKAN TANPA AZAN DAN IKAMAH

(2) Fathu al-Bāri (3/113, 118, 120).

(3) Al-Minhāj Syarhu Shahīh Muslim bin al-Hajjāj (6/186).

(4) Lihat: Al- Al’āb Ar- Riyādhiyyah (hal. 115-116).

(5) Lihat: Mughnī al-Muhtāj Ilā Ma’rifati Ma’ānī Alfāzh al-Minhāj (4/311).

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted