HADIS-HADIS LEMAH DAN PALSU SEPUTAR BULAN SYAKBAN (BAGIAN PERTAMA)

861
Perkiraan waktu baca: 8 menit
image_pdfUnduh PDF

Syakban adalah bulan yang berada di antara dua bulan istimewa, yaitu bulan haram, Rajab, dan bulan termulia, Ramadan. Bulan Syakban adalah persiapan terakhir bagi seorang muslim untuk menyambut dan memanfaatkan Bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, sepatutnya kita saling mengingatkan dan memotivasi untuk memanfaatkannya serta tidak lalai di bulan ini. Namun hal yang disayangkan ketika sebagian dai menebarkan beberapa hadis yang tidak valid di tengah masyarakat seputar keutamaan ibadah pada Bulan Syakban. Hadis-hadis tersebut menyebar lewat berbagai cara, mulai dari ceramah para dai dan khotib, tulisan di buku, majalah, situs, blog, jejaring sosial, hingga whatsapp.

Para ulama hadis kita sejak dulu hingga sekarang telah menjelaskan kepada kita kedudukan dan status hadis-hadis tersebut. Di antara kitab yang sangat lengkap dan membahas secara rinci kedudukan beberapa hadis khususnya terkait Bulan Syakban adalah kitab yang berjudul Al-Mizan Limarwiyyat Fadhail Syahri Sya’ban wa Bayan Maa Fiihi Min al-Sunan wa al-Nukran karya Prof. Dr. Suud bin Ied bin Umair al-Sha’idi rahimahullah (w. 1438 H), salah seorang guru besar hadis di Fakultas al-Hadits al-Syarif di Universitas Islam Madinah Munawwarah.

Berikut ini kami tuliskan beberapa contoh dari hadis lemah dan palsu tersebut yang telah disebutkan oleh para ulama kita agar diketahui bersama oleh kaum muslimin. Tulisan ini kami akan bagi dua; bagian pertama terkait dengan keutamaan Bulan Syakban secara umum dan bagian kedua adalah hadis-hadis lemah dan palsu seputar nishfu (pertengahan) Bulan Syakban.

Hadis-Hadis Tentang Keutamaan Bulan Syakban

Hadis Pertama

 عن عائشة رضي الله عنها عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: شَعْبَانُ شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانُ الْمُطَهِّرُ وَرَمَضَانُ الْمُكَفِّرُ

Artinya: Dari Aisyah radhiyallahu anha, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda, “Syakban adalah bulanku dan Ramadan adalah bulan Allah. Syakban adalah (bulan) yang mensucikan dan Ramadan adalah bulan yang menghapuskan (dosa-dosa).”

Takhrij:

Hadis ini diriwayatkan oleh beberapa imam, di antaranya:

  1. Al-Dailami dalam Musnad al-Firdaus dari jalur Hasan bin Yahya al-Khusyani dari al-Auza’i dari Yahya bin Abi Katsir dari Aisyah radhiyallahu anha secara marfuk.”(1)
  2. Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (72/155).(2)

Keterangan:

Hadis ini sangat lemah. Berikut beberapa penjelasan ulama tentang kedudukan hadis ini:

  1. Al-Munawi (w. 1031 H) berkata, “Di dalam sanadnya ada Hasan bin Yahya Al-Khusyani. Al-Dzahabi berkata, “Al-Daraquthni mengatakan dia perawi yang matruk (ditinggalkan hadisnya).”(3)
  2. Al-‘Ajluni (w. 1162 H) berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh al-Dailami dari Aisyah secara marfuk. Ibnu al-Ghars berkata, “Guru kami Hijazi berkata bahwa hadis ini daif.”(4)
  3. Al-Albani (w. 1420 H) berkata, “Isnad hadis ini dha’if jiddan (sangat lemah), al-Khusyani seorang perawi yang matruk (ditinggalkan) sebagaimana sudah lewat penjelasannya beberapa kali dan telah disebutkan beberapa contoh hadis-hadis palsu yang merupakan bukti tentang keadaannya dan tampak bagi saya ini di antara contoh hadis-hadis palsunya.”(5)

Hadis Kedua

عن أنس رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: رَجَب شَهْرُ الله تَعَالَى وَشَعْبَان شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ

Dari Anas radhiyallahu anhu dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda, “Rajab adalah bulan Allah, Syakban adalah bulanku, dan Ramadan adalah bulan umatku.”

Takhrij:

Hadis ini diriwayatkan oleh beberapa ulama dalam kitab mereka, di antaranya:

  1. Al-Dailami dalam Musnad al-Firdaus (2/275).(6)
  2. Ibnu Asakir dalam Mu’jam al-Syuyukh (1/186).
  3. Ibnu al-Jauzi dalam al-Maudhu’at (2/124) dari jalur Abu Hasan Ali bin Muhammad al-Bashir dari bapaknya dari Khalf bin Abdullah al-Shaghani dari Humaid al-Thawil dari Anas bin Malik.
  4. Abu al-Qasim al-Ashbahani (w. 535 H) juga meriwayatkan sesuai lafaz hadis ini dalam al-Targhib wa al-Tarhib (2/396) namun dari jalur al-Hasan al-Bashri secara mursal.

Keterangan:

Berikut beberapa keterangan ulama tentang kedudukan hadis ini:

  1. Ibnu Asakir (w. 571 H) mengatakan, “Hadis ini sangat garib, dalam sanadnya terdapat beberapa perawi yang majhul.(7)
  2. Ibnu al-Jauzi (w. 597 H) bahkan telah menegaskan bahwa hadis ini palsu karena pada sanadnya terdapat Abu al-Hushain Ali bin Abdullah bin Juhaim al-Shufi dan para ulama telah menyatakan bahwa Ibnu Juhaim berdusta atas nama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ibnu al-Jauzi juga berkata, “Saya telah mendengar syekh kami al-Hafizh Abdul Wahhab berkata para perawi hadis ini semuanya majhul, saya telah memeriksa dalam seluruh kitab dan saya tidak mendapatkan keterangan tentang mereka.”(8)
  3. Hadis ini juga dinyatakan palsu oleh banyak ulama yang lain di antaranya al-Shaghani (w. 650 H), al-Suyuthi (w. 911 H), Ibnu ‘Iraq (w. 963 H), al-Syaukani (w. 1250 H), dan al-Luknawi (w. 1304 H).(9)
  4. Abu Abdurrahman al-Hut al-Syafii (w. 1277 H) mengatakan, “Daif.”(10)
  5. Al-Albani (w. 1420 H) telah menyebutkan dan menerangkan kelemahan riwayat Abu al-Qasim al-Ashbahani karena diriwayatkan oleh al-Hasan al-Bashri secara mursal.(11)

Hadis Ketiga

عن أنس رضي الله عنْه قال: سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الصَّوْمِ أَفْضَلُ بَعْدَ رَمَضَانَ؟ فَقَالَ: شَعْبَانُ لِتَعْظِيمِ رَمَضَانَ، قِيلَ: فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ

Artinya: Dari Anas radhiyallahu anhu beliau berkata, “Nabi shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan, maka beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab, ‘(Puasa) Syakban karena untuk mengagungkan (puasa) Ramadan.’ Beliau shallallahu alaihi wasallam juga ditanya tentang sedekah yang paling utama, maka beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Sedekah di Bulan Ramadan.”

Takhrij:

Hadis ini diriwayatkan oleh beberapa ulama dalam kitab mereka, di antaranya:

  1. Al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 663).
  2. Al-Baghawi dalam Syarhu al-Sunnah (6/329) keduanya dari jalur Musa bin Ismail dari Shadaqah bin Musa dari Tsabit dari Anas bin Malik sesuai lafaz ini.
  3. Al-Thahawi juga meriwayatkan dalam Syarhu Ma’ani al-Atsar (2/83) dengan jalur yang sama namun dengan lafaz:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَعْبَانُ

Artinya: Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa Syakban.

Keterangan:

Beberapa penjelasan ulama tentang hadis ini:

  1. Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) mengatakan, “Sanadnya daif.”(12)
  2. Al-Munawi (w. 1031 H) berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dan dia menganggapnya hadis garib, dan juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi. Keduanya meriwayatkan dari jalur Shadaqah bin Musa dari Tsabit dari Anas. Al-Dzahabi dalam kitab al-Muhadzdzab mengatakan, “Para ulama menyatakan Shadaqah (bin Musa) adalah perawi yang lemah.”(13)
  3. Al-Albani (w. 1420 H) juga telah menyatakan hadis ini sebagai daif karena Shadaqah bin Musa (Abu Muhammad al-Daqiqi) adalah perawi yang tidak kuat menurut para ulama.(14)

Hadis Keempat

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ , قَالَ لِأَصْحَابِهِ: أَتَدْرُونَ لِمَ سُمِّيَ شَعْبَانُ شَعْبَانًا؟، قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: لِأَنَّهُ يَتَشَعَّبُ فِيهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ لِرَمَضَانَ

Artinya: Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepada parasa sahabatnya, “Apakah kalian mengetahui kenapa bulan ini disebut Syakban?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Karena di dalamnya bercabang kebaikan yang banyak menuju Bulan Ramadan.”

Takhrij:

Hadis ini diriwayatkan oleh beberapa ulama dalam kitabnya, di antaranya:

  1. Al-Syajari al-Jurjani dalam Tartib al-Amali al-Khamisiyah (2/141).
  2. Al-Rafi’i dalam al-Tadwain fi Akhbar Qazwin(15) dengan lafaz:

إنما سمي شعبان لأنه يتشعب فيه خير كثير للصائم فيه حتى يدخل الجنة

Artinya: “Bulan ini disebut Syakban karena di dalamnya kebaikan bercabang demikian banyak bagi orang yang berpuasa sunah sehingga dia masuk surga.”

  1. Abu Syekh juga meriwayatkan dalam kitabnya al-‘Azhamah.(16)

Keterangan:

Beberapa pandangan ulama tentang hadis ini:

  1. Ahmad al-Ghumari (w. 1380 H) berkata, “Hadis ini palsu, batil, dan tidak memiliki asal.”(17)
  2. Al-Albani (w. 1420 H) juga menyatakan bahwa hadis ini palsu.(18)

Hadis Kelima

 عن أنس بن مالك رَضِي الله عنه، قال: قال رسول الله صَلى الله عليه وسلم: خِيرَةُ اللهِ مِنَ الشُّهُورِ شَهْرُ رَجَبٍ وَهُوَ شَهْرُ اللهِ، مَنْ عَظَّمَ شَهْرَ اللهِ رَجَبٍ فَقَدْ عَظَّمَ أَمْرَ اللهِ، وَمَنْ عَظَّمَ أَمْرَ اللهِ أَدْخَلَهُ جَنَّاتِ النَّعِيمِ، وَأَوْجَبَ لَهُ رِضْوَانَهُ الْأَكْبَرَ، وَشَعْبَانُ شَهْرِي فَمَنْ عَظَّمَ شَهْرَ شَعْبَانَ فَقَدْ عَظَّمَ أَمْرِي، وَمَنْ عَظَّمَ أَمْرِي كُنْتُ لَهُ فَرَطًا وَذُخْرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَشُهِرُ رَمَضَانَ شَهْرُ أُمَّتِي فَمَنْ عَظَّمَ شَهْرَ رَمَضَانَ، وَعَظَّمَ حُرْمَتُهُ وَلَمْ يَنْتَهِكْهُ، وَصَامَ نَهَارَهُ، وَقَامَ لَيْلَهُ، وَحَفِظَ جَوَارِحَهُ خَرَجَ مِنْ رَمَضَانَ وَلَيْسَ عَلَيْهِ ذَنْبٌ يَطْلُبُهُ اللهُ بِهِ

Artinya: Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu beliau berkata, “Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Di antara bulan yang Allah pilih menjadi bulan terbaik adalah Bulan Rajab karena ia adalah bulan Allah. Barang siapa mengagungkan Bulan Rajab berarti dia telah mengagungkan perkara Allah, dan barang siapa yang mengagungkan perkara Allah maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang penuh kenikmatan dan pasti baginya keridaan Allah yang terbesar. Syakban adalah bulanku, maka barang siapa mengagungkan Bulan Syakban berarti telah mengagungkan perkaraku dan barang siapa mengagungkan perkaraku maka aku menjadi pendahulu dan simpanan pahala baginya pada hari kiamat. Adapun Bulan Ramadan adalah bulan umatku. Barang siapa mengagungkan Bulan Ramadan, memuliakan kehormatannya tanpa melanggarnya, berpuasa di siang harinya, salat (tahajud dan witir) pada malam harinya dan menjaga anggota badannya (dari perbuatan dosa) maka dia keluar dari Bulan Ramadan tanpa memiliki sedikit pun dosa yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.’”

Takhrij:

Hadis ini diriwayatkan oleh beberapa ulama dalam kitabnya, di antaranya:

  1. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman )5/346).
  2. Al-Baihaqi dalam Fadhail al-Awqat (hal. 94).

Keterangan:

Beberapa pandangan ulama tentang hadis ini:

  1. Imam Ahmad (w. 241 H) berkata, “Sanad hadis ini sangat mungkar, telah diriwayatkan darinya dari Anas selain ini, saya telah meninggalkan hadis itu karena hati saya menjauh (tidak nyaman) dari riwayat-riwayat mungkar yang aku duga bahkan aku ketahui sebagai hadis palsu, semoga Allah mengampuni kita dengan rahmat-Nya.”(19)
  2. Al-Baihaqi (w. 458 H) juga berkata, “Hadis ini sangat mungkar.”(20)
  3. Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) berkata, “Bahkan hadis ini palsu, sangat tampak kepalsuannya.”(21)
  4. Al-Albani (w. 1420 H) menuturkan, “Dalam sanad hadis ini terdapat tiga perawi yang lemah, “Yazid ar-Raqqasyi, Zaid al-‘Ammi, dan Nuh bin Abi Maryam, orang yang terakhir ini paling lemah bahkan dia pendusta, pembuat hadis palsu yang terkenal.”(22)

Hadis Keenam:

عَنْ عَائِشَةَ رَضي الله عنها قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، فَرُبَّمَا أَخَّرَ ذَلِكَ حَتَّى يَجْتَمِعَ عَلَيْهِ صَوْمُ السَّنَةِ، وَرُبَّمَا أَخَّرَهُ حَتَّى يَصُومَ شَعْبَانَ

Dari Aisyah radhiyallahu anha beliau berkata, “Adalah Rasulullah shallahu alaihi wasallam berpuasa tiga hari setiap bulan, maka kadang beliau mengakhirkannya sampai terkumpul puasa dalam dalam satu tahun, maka beliau berpuasa pada Bulan Syakban (satu bulan penuh).”

Takhrij:

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Thabrani dalam kitabnya al-Mu’jam al-Ausath (no. 2098) dari jalur Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Laila dari saudaranya Isa dari bapaknya Abdurrahman dari Aisyah radhiyallahu anha.

Keterangan:

Beberapa penjelasan ulama tentang hadis ini:

  1. Thabrani (w. 360 H) mengatakan, “Hadis ini tidak diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abu Laila kecuali dengan sanad ini, Amru bin Abu Qais bersendirian dengannya.”(23)
  2. Al-Haitsami (w. 807 H) berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh al-Thabrani dalamal-Mu’jam al-Awsath, di rangkaian sanadnya terdapat Muhammad bin Abu Laila, ada perbincangan ulama tentangnya.”(24)
  3. Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) berkata, “Di dalam hadis itu ada Ibnu Abi Laila dan dia adalah daif.”(25)

Hadis Ketujuh:

عن عائشة رَضي الله عنها قَالت: كَانَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم يصومُ حَتَّى نقولَ: لا يُفطِرُ، ويُفطِرُ حتى نقولَ: لا يصومُ، وَكَانَ أكثرُ صيامِه فِي شَعبان. فقلتُ: يَا رسولَ الله، مالي أَرَى أكثرَ صيامِكَ فِي شَعبان؟ فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ، إنَّهُ شَهْرٌ يُنْسَخُ لِمَلَكِ المَوْتِ مَنْ يَقْبِضُ؛ فَأُحِبُّ ألاَّ يُنْسَخَ اسْمِي إِلاَّ وَأَنَا صَائِمٌ؟

Artinya: Dari Aisyah radhiyallahu anha, beliau berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpuasa (terus) sampai kami mengira bahwa beliau tidak berbuka, dan berbuka sampai kami berkata bahwa beliau tidak berpuasa lagi. Puasa beliau yang paling banyak itu pada Bulan Syakban, maka aku (Aisyah) berkata, ‘Wahai Rasulullah mengapa aku melihat puasa engkau yang paling banyak di Bulan Syakban?’ Maka beliau bersabda, ‘Wahai Aisyah, sesungguhnya Bulan Syakban adalah bulan di mana dituliskan untuk malaikat maut (pencabut nyawa) nama-nama orang yang akan dicabut nyawanya, dan aku menyukai kalau namaku tidak ditulis kecuali dalam keadaan aku sedang berpuasa.’”

Takhrij:

Hadis ini diriwayatkan oleh beberapa ulama dalam kitab-kitabnya, di antaranya:

  1. Al-Husain bin Ismail al-Mahamili dalam Amalinya (no. 114).
  2. Al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (11/313) dan Muwadhdhih Awham al-Jam’i wa al-Tafriq (2/248).

Keterangan:

Beberapa perkataan ulama tentang hadis ini:

  1. Abu Zur’ah al-Razi (w. 264 H) menyebutkan bahwa hadis ini mungkar.(26)
  2. Abu Hatim al-Razi (w. 277 H) juga berkata, “Hadis ini mungkar.”(27)

Namun redaksi bagian awal dari hadis ini telah disebutkan dengan sanad yang sahih dalam periwayatan berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ 

Dari Aisyah radhiyallahu anha beliau berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedemikian sering melaksanakan saum hingga kami mengatakan seolah-olah beliau tidak pernah, namun beliau juga sering tidak saum sehingga kami mengatakan seolah-olah beliau tidak pernah saum dan aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyempurnakan puasa selama sebulan penuh kecuali puasa Ramadan dan aku tidak pernah melihat beliau paling banyak melaksanakan puasa (sunah) kecuali di Bulan Syakban.” (H.R. Bukhari, no. 1969 dan Muslim, no. 1156)

Hadis Kedelapan:

عن أبي هريرة رَضي الله عنه: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَصُمْ بَعْدَ رَمَضَانَ إِلَّا رَجَبٌ وَشَعْبَانُ

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak berpuasa setelah Ramadan kecuali pada bulan Rajab dan Syakban.

Takhrij:

Hadis ini telah dikeluarkan oleh beberapa ulama dalam kitab mereka, di antaranya:

  1. Al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’ab al-Iman (no. 3522).
  2. Ibnu Asakir dalam Juz fi Fadhli Rajab (hal. 316).

Keterangan:

Beberapa penjelasan ulama tentang hadis ini:

  1. Al-Baihaqi (w. 458 H) berkata, “Isnad hadis ini daif, telah diriwayatkan pada bab ini beberapa hadis yang mungkar, pada sanadnya terdapat kaum (beberapa orang) yang majhul (tidak dikenal) dan lemah.”(28)
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) berkata, “Ini adalah hadis mungkar karena pada sanadnya terdapat Yusuf bin Athiyyah, dia seorang perawi yang sangat lemah.”(29)

Footnote:

(1) Lihat: Maqashid al-Hasanah karya al-Sakhawi (hal. 405)

(2) Lihat juga: Al-Jami’ al-Shaghir (no. 7154).

(3) Faidh al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir (4/162).

(4) Kasyfu al-Khafa’ wa Muzilu al-Ilbas, (2/13, no. 1551).

(5) Silsilah al-Ahadits al-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah (8/222).

(6) Lihat: Kasyfu al-Khafa (1/510, no. 1358).

(7) Mu’jam al-Syuyukh (1/186).

(8) Al-Maudhu’at (2/124).

(9) Lihat: Al-Maudhu’at karya al-Shaghani (no. 129), al-Laali al-Mashnu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah karya al-Suyuthi (2/47), Tanzih al-Syari’ah al-Marfu’ah ‘an al-Akhbar al-Syani’ah al-Maudhu’ah karya Ibnu ‘Iraq (2/90), al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah karya al-Syaukani (hal. 100), dan al-Atsar al-Marfu’ah fi al-Akhbar al-Maudhu’ah karya al-Luknawi (hal. 62).

(10) Lihat: Asna al-Mathalib (no. 702).

(11) Silsilah al-Ahadits al-Dha’ifah (9/390).

(12) Fathu al-Bari (4/129).

(13) Faidh al-Qadir (2/42), perkataan al-Dzahabi yang dinukil ini terdapat dalam kitabnya al-Mughni fi al-Dhu’afa (no. 2784) dan Diwan al-Dhu’afa (no. 1959).

(14) Lihat: Dhaif Sunan al-Tirmidzi (hal. 75), Dhaif al-Jami’ al-Shaghir (no. 1023), dan Dhaif al-Targhib wa al-Tarhib (no. 618).

(15) Lihat: Al-Fathu al-Kabir (1/407) dan al-Jami’ al-Shaghir (no. 4871).

(16) Lihat: Al-Tanwir Syarhu al-Jami’ al-Shaghir karya al-Shan’ani (4/196).

(17) Lihat: Al-Mudawi li ‘ilal al-Jami’ al-Shaghir wa Syarhai al-Munawi (3/9).

(18) Dhaif al-Jami’ al-Shaghir (no. 2061).

(19) Lihat: Syu’ab al-Iman karya al-Baihaqi (5/346).

(20) Fadhail al-Awqat (hal. 94).

(21) Tabyin al-‘Ajab (hal. 45).

(22) Silsilah al-Dha’ifah, (no. 6188).

(23) Al-Mu’jam al-Awsath (2/320).

(24) Majma’ al-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid (3/192).

(25) Fathu al-Bari (2/320).

(26) Lihat: Ilal al-Hadits karya Ibnu Abi Hatim al-Razi (3/167).

(27) Lihat: Ilal al-Hadits karya Ibnu Abi Hatim al-Razi (3/115).

(28) Syu’ab al-Iman (5/337).

(29) Tabyin al-‘Ajab (hal. 40), lihat juga: Al-Atsar al-Marfu’ah fi al-Akhbar al-Maudhu’ah karya al-Luknawi (hal. 59).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments