BAB 1: PENGHANCURAN BERHALA-BERHALA DI SEKITAR KA’BAH OLEH NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAMPerkiraan waktu baca: 3 menit

71
Salinan dari Proposal Tabligh Akbar & IYG

40 HADIS TENTANG KOREKSI KEKELIRUAN AKIDAH(1)

Hadis Pertama:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: دَخَلَ النَّبِيُّ ﷺ مَكَّةَ، وَحَوْلَ الْكَعْبَةِ ثَلَاثُمِائَةٍ وَسِتُّونَ نُصُبًا، فَجَعَلَ يَطْعَنُهَا بِعُودٍ فِي يَدِهِ، وَيَقُولُ: جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ البَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi ﷺ memasuki Kota Makkah, sementara di sekitar Ka‘bah terdapat tiga ratus enam puluh berhala. Beliau pun menusuk-nusuk berhala-berhala itu dengan tongkat yang ada di tangan beliau seraya membaca: Kebenaran telah datang dan kebatilan pun lenyap. Sesungguhnya kebatilan pasti lenyap.” (Q.S. Al-Isra: 81)

Takhrij Hadis

H.R. Bukhari, Kitab al-Mazhalim, Bab “Apakah bejana yang mengandung khamar dihancurkan?” nomor 2478.

H.R. Muslim, Kitab al-Jihad, Bab “Melenyapkan berhala di sekeliling Ka’bah” nomor 1781.

Masalah Akidah

Di sekitar Ka‘bah terdapat tiga ratus enam puluh berhala yang disembah selain Allah.

Koreks Nabi ﷺ:

Beliau ﷺ menusuk-nusuk berhala tersebut dengan tongkat di tangannya sambil membaca:

جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ

Kebenaran telah datang dan kebatilan pun lenyap. Sesungguhnya kebatilan pasti lenyap. (Q.S. Al-Isra: 81)

Kemudian beliau memerintahkan penghancurannya hingga semuanya disingkirkan. Beliau juga mengutus para sahabat untuk menghancurkan sisa-sisa berhala dan sesembahan yang berada di luar Makkah. Beliau ﷺ pernah berkata kepada Jarir:

أَلَا تُرِيحُنِي مِنْ ذِي الْخَلَصَةِ

“Maukah engkau menenangkan hatiku dari (gangguan) Dzul Khalashah?”

Sebab tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi hati Nabi ﷺ daripada tetap adanya sesuatu yang dipersekutukan dengan Allah. Peristiwa ini terjadi setelah hijrah, yaitu ketika Nabi ﷺ telah memiliki kekuasaan dan kemampuan. Hal ini berbeda dengan sikap beliau terhadap berhala pada periode Makkah.

Baca juga:  BAB 3: MEMBANGUN MASJID DAN MEMASANG GAMBAR DI ATAS KUBURAN

Karena itu, wajib bagi pemimpin kaum muslimin untuk menghilangkan kemungkaran dengan tangannya atau melalui orang yang ia tugaskan, terlebih lagi perkara-perkara syirik dan simbol-simbolnya, seperti berhala dan kuburan yang disembah selain Allah; yang dipanjatkan doa, dimintai pertolongan, dipersembahkan sembelihan dan nazar kepadanya, serta diharapkan syafaat darinya.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ سُبْحَـٰنَهُۥ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat maupun manfaat kepada mereka, dan mereka berkata: ‘Mereka itulah para pemberi syafaat kami di sisi Allah.’ Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (Q.S. Yunus: 18)

Allah Ta‘ala juga berfirman:

أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلْخَالِصُ ۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِى مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى مَنْ هُوَ كَـٰذِبٌۭ كَفَّارٌۭ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (Q.S. Al-Zumar: 3)

Dan Allah Ta‘ala berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْقِيَـٰمَةِ وَهُمْ عَن دُعَآئِهِمْ غَـٰفِلُونَ

Baca juga:  BAB 2 SABDA NABI ﷺ: “ISTIRAHATKAN KAMI DARI DZU AL-KHALASHAH!”

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?

Oleh sebab itu, Nabi ﷺ menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka‘bah dengan tangan beliau sendiri pada hari Fathu Makkah. Beliau juga mengutus Abu Sufyan bin Harb dan Al-Mughirah bin Syu‘bah radhiyallahu ‘anhuma untuk menghancurkan Al-Lata, mengutus Khalid bin Al-Walid untuk menghancurkan Al-‘Uzza, mengutus Jarir Al-Bajali untuk merobohkan Dzu al-Khalashah, dan mengutus Ali bin Abi Thalib untuk menghancurkan Fals.

Maka termasuk ajaran yang disyariatkan adalah menempuh manhaj Nabi ﷺ dalam menangani bentuk-bentuk kesyirikan semisal ini. Nabi ﷺ tidak membiarkan berhala-berhala tersebut tetap ada setelah beliau mampu menghancurkannya. Beliau juga tidak mengizinkan penundaan penghancurannya ketika penduduk Thaif meminta agar penghancuran berhala mereka ditunda selama tiga tahun. Beliau tidak memenuhi permintaan itu dan tetap memerintahkan penghancurannya, karena keberadaannya membahayakan akidah manusia.

Ibn al-Qayyim rahimahullah berkata saat mengomentari tindakan Nabi ﷺ yang memerintahkan penghancuran berhala, “Pasal tentang tidak bolehnya membiarkan tempat-tempat kesyirikan tetap ada setelah mampu menghancurkannya.”

Di antaranya: tidak boleh membiarkan tempat-tempat syirik dan thaghut tetap berdiri setelah ada kemampuan untuk merobohkan dan membatalkannya, walaupun hanya satu hari. Sebab tempat-tempat tersebut merupakan syiar kekufuran dan kesyirikan, bahkan termasuk kemungkaran terbesar. Tidak boleh sama sekali meridhainya ketika mampu menghilangkannya.

Demikian pula hukum bangunan-bangunan yang dibangun di atas kuburan yang dijadikan berhala dan sesembahan selain Allah, serta batu-batu yang dijadikan tempat mencari berkah, bernazar, dan dicium untuk pengagungan. Tidak boleh membiarkan sedikit pun dari itu tetap ada di muka bumi ketika mampu menghilangkannya. Banyak di antara tempat-tempat tersebut kedudukannya seperti Al-Lata, Al-‘Uzza, dan Manat, bahkan terkadang lebih besar kesyirikannya -hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan-.

Baca juga:  BAB 2 SABDA NABI ﷺ: “ISTIRAHATKAN KAMI DARI DZU AL-KHALASHAH!”

Tidak ada seorang pun dari para penyembah berhala itu yang meyakini bahwa sesembahan mereka menciptakan, memberi rezeki, mematikan, dan menghidupkan. Akan tetapi mereka melakukan pada sesembahan-sesembahan itu apa yang dilakukan oleh saudara-saudara mereka dari kalangan musyrikin pada zaman ini terhadap thaghut-thaghut mereka. Mereka mengikuti jalan orang-orang sebelum mereka secara persis; sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Kesyirikan pun menguasai kebanyakan jiwa karena tersebarnya kebodohan dan hilangnya ilmu.

Akhirnya perkara yang ma‘ruf dianggap mungkar, kemungkaran dianggap ma‘ruf, sunnah dianggap bid‘ah, dan bid‘ah dianggap sunnah. Anak kecil tumbuh di atas keadaan itu dan orang tua pun menua di atasnya. Syiar-syiar agama pun memudar, Islam menjadi asing, para ulama menjadi sedikit, orang-orang bodoh mendominasi, kerusakan meluas di daratan dan lautan akibat ulah manusia.

Namun demikian, akan selalu ada sekelompok dari umat Muhammad ﷺ yang tegak di atas kebenaran dan berjihad melawan ahli syirik dan ahli bid‘ah hingga Allah mewarisi bumi dan seluruh isinya. Dan Dia adalah sebaik-baik pewaris.


Footnote:

(1) Diterjemahkan dan disadur dari kitab al-Arba’ūn al-Nabawiyyah fi Tashwib al-Akhtha’ al-Aqadiyyah  karya Syekh Zaid bin Falih asy-Syamari hafiẓahullāh.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted