ARAH KIBLAT KETIKA NAIK TUNGGANGANPerkiraan waktu baca: 1 menit

45
Muharrar

وَعَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ رضي الله عنه قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.  وَفِي رِوَايَةِ البُخَارِيِّ: يُوْمِيءُ بِرَأْسِهِ قِبَلَ أَيِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ، وَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللهِ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي الصَّلَاةِ الـمَكْتُوبَةِ.

Artinya: Dari ‘Amir bin Rabi’ah, dia berkata, “Aku melihat Nabi shalat di atas tunggangannya menghadap kemana saja arah tunggangan menghadap.” Muttafaqun Alaihi.[1] Lafaz riwayat Al-Bukhari, “Beliau melaksanakan dengan isyarat menghadap ke arah mana saja ia menghadap, namun Rasulullah r tidak pernah melakukannya pada shalat fardu.”

Sahabat Perawi Hadis:

‘Amir bin Rabi’ah bin Ka’ab bin Malik; Abu Abdillah Al-‘Anazi. Termasuk sahabat yang paling awal berislam, beliau masuk Islam lebih dahulu dari Umar bin Al-Khatthab. Beliau berhijrah sebanyak dua kali dan ikut perang Badar bersama Nabi r dan wafat tahun 35 hijriah di Madinah.[2]

Faedah dan Istinbat dari Hadis:

  1. Dibolehkan salat nafilah di atas tunggangan atau kendaraan dengan arah kiblat menyesuaikan dengan arah tunggangan atau kendaraan tersebut berjalan. Kaum Muslim berkonsensus (ijmak) tentang kebolehan hal tersebut.

Sebagian ulama mempersyaratkan bahwa perjalanan atau safar yang dilakukan bukan untuk aktivitas maksiat, seperti safarnya para penyamun untuk melaksanakan aksinya, atau safar untuk melakukan peperangan dan pembunuhan yang tidak haq, atau safarnya seseorang dengan tujuan kedurhakaan kepada orang tua, atau safar seorang budak untuk lari dari tuannya, atau safar seorang perempuan yang melakukan nusyuz kepada suaminya.[3]

  1. Hadis tersebut menjadi dalil bahwa shalat fardu tidak dibolehkan menghadap selain kiblat dan tidak pula boleh dilaksanakan di atas tunggangan atau kendaraan, demikian pula ijmak ulama terhadap masalah ini, kecuali dalam kondisi takut yang amat sangat.
  2. Jika seseorang melaksanakan salat fardu di atas kendaraan dengan kondisi dia bisa menghadap kiblat, berdiri, rukuk dan sujud maka hal tersebut sah berdasarkan ijmak ulama.[4] Sebagaimana orang yang salat di atas kapal laut atau mobil yang cukup lapang pada masa sekarang ini.
Baca juga:  HADIS KE-22 AL-ARBA’IN: KADAR TERENDAH ISTIKAMAH

Footnote:

[1] HR. Al-Bukhari (no. 1093) dan Muslim (no. 701).

[2] Adz-Dzahabi. Siyar A’lām An-Nubala (2/333).

[3] An-Nawawi. Al-Minhāj (5/210).

[4] An-Nawawi. Al-Minhāj (5/210).

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted