HADIS KEENAM: LARANGAN SAFAR SENDIRIANPerkiraan waktu baca: 3 menit

146
Markaz Sunnah (Situs Web)

40 HADIS TENTANG SAFAR(1)

REDAKSI HADIS:

عَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي الْوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ. رواه البخاري.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seandainya manusia mengetahui apa yang ada dalam kesendirian (bahaya bepergian sendiri) sebagaimana yang aku ketahui, niscaya tidak ada seorang pun yang berjalan sendirian di malam hari.” (HR. Bukhari)

 TAKHRIJ HADIS:

    Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya al-Shahīh, kitab al-Jihād  wa al-Siyar, Bab Bepergian Sendirian, no. 2998.

MAKNA UMUM:

     Tabiat manusia adalah suka berinteraksi dengan orang lain, dan tidak hidup sendirian kecuali karena suatu sebab. Oleh karena itu, Allah Ta‘ala mensyariatkan berbagai ibadah yang dilakukan bersama manusia, seperti salat berjemaah, haji, umrah, menghadiri majelis ilmu, dan lainnya.

     Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.

SYARAH HADIS

  • ​Sabda beliau: “Seandainya manusia mengetahui apa yang ada dalam kesendirian sebagaimana yang aku ketahui”

     Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan para sahabatnya kebaikan yang diketahuinya dan memperingatkan mereka dari keburukan. Di antara hal itu adalah tidak disukainya seseorang berada sendirian, seperti bepergian sendirian tanpa teman, tinggal sendirian, atau makan sendirian, dan semisalnya.

  • Sabda beliau: “Seseorang tidak akan bepergian sendirian pada malam hari”

     Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan di sini salah satu jenis dari kesendirian, lalu beliau memperingatkan dari bahaya bepergian seorang diri. Hadis ini berlaku bagi orang yang ingin melakukan perjalanan di padang pasir dan tempat-tempat terpencil yang jarang dilalui manusia. Karena seseorang bisa saja tertimpa musibah atau kelelahan dalam mengemudi, atau kendaraannya terperosok di pasir, sementara alat komunikasi tidak berfungsi, dan ia berada sendirian di padang pasir. Maka jika bersamanya ada orang lain, itu akan menjadi penolong dan pembantu baginya.

Baca juga:  Info Kajian Kitab Al-Lu'lu' wal Marjan Pembahasan Bab: “Wajib Bermalam di Mina pada Malam-Malam Tasyrik”

     Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga memperingatkan dari kesendirian dalam hadis lain, beliau bersabda:

الراكبُ شيطانٌ، والراكبان شَيطانانِ، والثلاثةُ رَكبٌ

Artinya: “Satu orang yang berkendara itu setan, dua orang yang berkendara itu dua setan, dan tiga orang itu rombongan (yang baik).”(2)

     Maksudnya, bepergian seorang diri adalah perbuatan yang menyerupai setan, karena setan berjalan sendirian. Kita diperintahkan untuk menyelisihi setan. Sebagaimana setan makan dengan tangan kirinya dan berjalan dengan satu sandal, maka kita diperintahkan untuk menyelisihinya.

     Lebih utama apabila jumlah rombongan itu empat orang atau lebih, berdasarkan sabda beliau shallallahu alaihi wasallam:

خَيْرُ الصَّحَابَةِ أَرْبَعَةٌ

Artinya: “Sebaik-baik sahabat itu empat orang”.(3)

     Hikmahnya, jika jumlah rombongan dalam perjalanan minimal tiga orang atau lebih, maka mereka bisa saling bekerja sama dalam urusan mereka. Berbeda dengan orang yang sendirian; ia bisa saja tertimpa kebosanan atau kesulitan yang membuatnya membutuhkan orang yang menemaninya.

     Aku (Syekh al-‘Arifi, pen) teringat sebuah kejadian yang aku saksikan pada tahun 1440 H / 2020 M, tentang seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun. Dua orang dari anak-anaknya pergi dalam sebuah perjalanan darat bersama sebagian teman mereka. Setelah dua hari, terputuslah komunikasi dengan mereka. Maka sang ayah menaiki mobilnya dan masuk ke padang pasir seorang diri untuk mencari mereka. Ia menghabiskan lima jam di padang pasir, kemudian sepuluh jam lagi, hingga bahan bakar mobilnya habis. Mobilnya berhenti di tengah hamparan pasir. Air yang dibawanya pun habis, dan ponselnya tidak berfungsi di padang pasir. Ia pun menemui malam hari dalam keadaan lapar, haus, dan ketakutan. Ketika fajar terbit, ia salat dan berdoa kepada Allah Ta‘ala serta memohon pertolongan-Nya. Ia kemudian berjalan dengan kedua kakinya, mencari siapa saja yang bisa menyelamatkannya. Ia terus berjalan hingga matahari meninggi, sementara ia hampir binasa karena kelelahan dan kehausan. Akhirnya ia menemukan sebuah kemah milik penggembala kambing. Ia menuju ke sana dan berteriak dengan suara keras, lalu terjatuh ke tanah. Penggembala itu keluar dari kemahnya, lalu menyelamatkannya, memberinya minum dan makan kurma hingga tenang kembali. Kemudian pemilik kambing itu datang di akhir siang, lalu membawanya dengan mobilnya menuju keluarganya.

Baca juga:  HADIS KEEMPAT: MENULIS WASIAT SEBELUM SAFAR

     Apa yang dilakukan lelaki ini bertentangan dengan hadis yang telah kita sebutkan, yaitu larangan seseorang bepergian sendirian. Namun, larangan dalam hadis ini tidak berlaku pada safar masa sekarang di jalan-jalan yang ramai, yang banyak sarana transportasi. Maka jika seseorang sekarang bepergian sendirian dengan kendaraannya di jalan yang ramai dilalui orang, hal tersebut tidak mengapa baginya.


Footnote:

(1) Diterjemahkan dan disadur dari buku Al-Arba’ūn Al-Safariyyah, karya dari Syekh Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-‘Arifi hafizhahullah diterbitkan oleh Dār al-Hadhārah di Riyadh-Saudi Arabia, Cetakan Pertama tahun 1444H/2023M.

(2) H.R. Abu Daud (no. 2607), Tirmidzi (no. 1674) dan Ahmad (no. 6748).

(3) H.R. Abu Daud (no. 4695), Tirmidzi (no. 1555) dan Ahmad (no. 2682).

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted