HADIS PERTAMA: NIAT YANG BAIK DALAM SAFARPerkiraan waktu baca: 2 menit

110
40 hadis safar

40 HADIS TENTANG SAFAR(1)

REDAKSI HADIS

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إِنَّمَا ‌الْأَعْمَالُ ‌بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلّ ِامْرِئٍ مَا نَوَى. رواه البخاري ومسلم.

Artinya: Dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Imam Muslim)

TAKHRIJ HADIS:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya al-Shahih; Bab: Bagaimana Permulaan Turunnya Wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, no. 1 dan Imam Muslim dalam kitabnya al-Shahih; Kitab al-Imārah, Bab Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Innamā al-A’mālu bin Niyyāt”, no. 1907.

MAKNA UMUM:

Niat adalah maksud hati dan tujuan dari suatu amal. Seseorang kadang bersedekah, namun tujuannya untuk mencari pujian manusia, bukan mencari ridha Allah dan pahala-Nya.

Demikian pula dalam safar (perjalanan). Seseorang yang bepergian kadang dengan berbagai niat yang berbeda:

  • untuk berdakwah kepada Allah,
  • membantu orang-orang yang fakir dan tertimpa bencana,
  • berdagang dan mencari rezeki yang halal,
  • atau berwisata dan bertafakur terhadap ciptaan Allah,
  • atau menyegarkan diri dengan hal-hal yang halal agar lebih semangat dalam ketaatan

Semua niatan ini baik dan semuanya menjadi amal yang berpahala.

SYARAH HADIS

● Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niat”

yaitu bahwa baik atau buruknya suatu amal, diterima atau tidaknya, serta manfaatnya bagi pelakunya, semuanya bergantung pada kejujuran niatnya dan ketulusan maksud perbuatannya, maka apabila ia jujur dalam niatnya dan ikhlas karena Allah, maka perjalanan itu menjadi ibadah, meskipun perjalanan tersebut untuk rekreasi dan bersenang-senang. Karena sesungguhnya tertawa, bercengkerama, dan menyegarkan jiwa bisa menjadi bentuk pendekatan diri kepada Allah.

Baca juga:  HADIS KEEMPAT: MENULIS WASIAT SEBELUM SAFAR

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِن لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

Artinya: “Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dan dirimu memiliki hak atasmu.”(2)

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda kepada Sa‘ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّكَ ‌لَنْ ‌تُنْفِقَ ‌نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا

Artinya: “Sesungguhnya tidaklah engkau menafkahkan suatu nafkah yang dengannya engkau mengharap wajah Allah kecuali engkau akan diberi pahala atasnya”(3)

Sabda beliau: “Sesungguhnya setiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan”

Maksudnya: ia akan memperoleh pahala sesuai dengan kadar niatnya.

Barang siapa bepergian untuk berdagang dan berniat agar perjalanannya menjadi sebab memperoleh harta yang halal, mencari rezeki untuk anak-anaknya, berbuat baik kepada orang miskin dengan hartanya, serta melakukan perjalanan di bumi untuk memperhatikan ciptaan Allah dan selain itu dari niat-niat yang baik, maka orang ini akan diberi pahala lebih besar daripada orang yang hanya berniat mencari harta semata. Karena itu, setiap orang akan mendapatkan pahala sesuai dengan kadar niat yang ia miliki.

Ketika seorang hamba memperbaiki niatnya dalam perjalanannya, maka Allah akan menuliskan baginya dalam perjalanannya pahala amal-amal saleh yang biasa ia lakukan ketika ia menetap (di tempat tinggalnya). Amal-amal yang terluput darinya karena perjalanannya, tetap dituliskan baginya meskipun ia tidak melakukannya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِذَا ‌مَرِضَ ‌الْعَبْدُ، ‌أَوْ ‌سَافَرَ، ‌كُتِبَ ‌لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Artinya: “Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka dituliskan baginya (pahala) seperti apa yang biasa ia lakukan ketika ia dalam keadaan menetap dan sehat.”(4)

Maka siapa yang memiliki amal saleh yang biasa ia lakukan di negerinya—misalnya ia duduk bercengkerama bersama ibunya setiap pagi, sebagai bentuk bakti kepadanya dan mencari pahala, atau ia biasa menjenguk orang-orang sakit di rumah sakit setiap hari, dan semisal itu—kemudian ia bepergian hingga amal saleh tersebut terhenti, maka Allah tetap menuliskan baginya pahala seakan-akan ia tetap melakukan amal-amal tersebut yang terhalang oleh perjalanan safar itu.

Baca juga:  HADIS KEDUA: ISTIKHARAH SEBELUM SAFAR

Top of Form


Footnote:

(1) Diterjemahkan dan disadur dari buku Al-Arba’ūn Al-Safariyyah, karya dari Syekh Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-‘Arifi hafizhahullah diterbitkan oleh Dār al-Hadhārah di Riyadh-Saudi Arabia, Cetakan Pertama tahun 1444H/2023M.

(2) H.R. Bukhari (no. 1968).

(3) H.R. Bukhari (no. 56) dan Muslim (no. 1628).

(4) H.R. Bukhari (no. 2996).

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted