SUNAN AL-NASĀ’Ī

81
SUNAN AL NASAI
Perkiraan waktu baca: 4 menit

SERIAL MENGENAL KITAB-KITAB HADIS[1]

SUNAN AL-NASĀ’Ī

Biografi Penulis

Nama lengkapnya Abū ‘Abdirraḥmān Aḥmad bin Syu’aib bin ‘Āli bin Bahri al-Nasa’ī, lahir pada tahun 215 H, seorang hafiz, syekh Islam, kritikus hadis, telah banyak melakukan perjalanan menuntut ilmu. Beliau rihlah ke Bagdad, kemudian ke Naisabūr, Hijaz, Jazirah, ke Ṡugur, lalu kemudian domisili dan menetap di Mesir.

Beliau berguru kepada beberapa ulama dunia yang terkenal, di antaranya Isḥāq bin Ibrāhim bin Makhlad bin Rahūyah, Qutaibah bin Sa’īd al-Baghlānī, ‘Uṡmān bin Muḥammad bin Abī Syaibah, ‘Amr bin ‘Ālī bin Bahr al-Fallās al-Baṣrī, dan masih banyak yang lainnya.

Adapun murid-muridnya yang terkenal di antaranya: Abū Bisyr Muḥammad bin Aḥmad al-Dulābī, Abū ‘Awānah Ya’qūb bin Isḥāq al-Isfarāyīnī, Ibnu Hibbān al-Bustī, Abū Bakr al-Sunnī, Abū al-Qāsim al-Ṭabarānī, Abū Aḥmad bin ‘Adī dan selainnya. Ibnu ‘Adī menceritakan bahwa beliau mendengar Manṣūr al-Faqīḥ dan Aḥmad bin Muḥammad bin Salamah Abū Ja’far al-Ṭahāwī mengatakan bahwa Abū ‘Abdirraḥmān al-Nasā’ī merupakan salah seorang imam diantara imam-imam kaum muslimin. Ibnu al-Aṡīr mengatakan bahwa beliau memiliki banyak sekali karya tulis pada hadis dan ‘ilal serta selainnya.

Beliau wafat pada tahun 303 H, raḥimahullāh.[2]

Nama Buku dan Latar Belakang Penulisannya

Buku beliau terkenal dengan banyak penyebutan, di antara nama yang masyhur untuk buku beliau adalah al-Mujtaba’ dan ini yang masyhur karena imam al-Nasā’ī sendiri menyaring dan memilih dari bukunya al-Sunan al-Kubrā sehingga lahir buku ini. Penamaan ini disepakati oleh beberapa ulama,  diantaranya Abū ‘Ali al-Gassānī, Ibnu al-Aṡīr, Imam al-Ẑahabī dan selainnya.

Sebagian yang lain menamakan bukunya sebagai al-Sunan al-Ṣugrā sebagai pembeda dengan bukunya yang lain al-Sunan al-Kubrā. Di antara ulama yang menyetujui penamaan ini adalah al-Suyūṭī, Ibnu al-‘Imād dan selainnya.

Baca juga:  SUNAN AL-TIRMIŻI

Adapun yang melatarbelakangi beliau dalam menulis bukunya ini dikatakan bahwa ketika imam Nasā’ī telah menyelesaikan penulisan bukunya al-Sunan al-Kubrā beliau ditanya oleh sebagian pemimpin pada waktu itu bahwa apakah hadis dalam kitabmu semuanya sahih? Beliau menjawab, “Tidak”. Lalu pemimpin tersebut meminta kepadanya untuk menulis kitab yang khusus memuat hadis sahih saja, sehingga Imam al-Nasā’ī menyaring dari kitabnya itu khusus hadis yang sahih dan lahirlah kitab al-Mujtaba. Akan tetapi imam al-Ẑahabī mengatakan bahwa kisah ini tidak benar karena kitab al-Mujtaba sebenarnya adalah kitab hadis penyeleksian dari murid Imam al-Nasā’ī yaitu Ibnu al-Sunni.[3] Hal demikian juga diungkapkan oleh al-Sakhāwī namun beliau menambahkan kemungkinan lain bahwa al-Mujtaba itu adalah hasil penyeleksian dari Ibnu al-Sunni berdasarkan perintah Imam al-Nasā’ī[4].

Apakah kitab al-Mujtaba merupakan ringkasan yang dituliskan oleh imam an-Nasā’ī sendiri atau bukan?

Ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan bahwa kitab ini diringkas langsung oleh beliau, pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu al-Aṡīr, Ibnu Kaṡīr, al-‘Irāqī, al-Sakhāwī, dan selainnya.[5] Sebagian yang lain mengatakan bahwa kitab ini merupakan ringkasan yang dituliskan oleh muridnya yaitu Abū Bakar Ibnu al-Sunnī (w. 364 H). Demikian diungkapkan oleh imam al-Ẑahabī dan diikuti oleh beberapa ulama[6]

Manhaj dan Metode Penyusunan Kitabnya

  1. Beliau menyusun kitabnya sesuai bab-bab fikih, dimulai dengan kitab al-Ṭahārah dan ditutup dengan kitab al-Asyribah.
  2. Kadang kala beliau menjelaskan makna kalimat-kalimat yang asing pada matan hadis.
  3. Menetapkan siapa perawi yang dimaksud ketika disebutkan secara muhmal (tanpa disebutkan nama atau nasabnya secara lengkap). Seperti ketika beliau meriwayatkan dari jalur Bakr, Nasā’ī mengatakan bahwa dia adalah Ibnu Muḍar.
  4. Beliau juga menjelaskan perawi yang mubham (tidak disebutkan namanya), atau yang hanya disebutkan kuniyah-nya, dan mengisyaratkan perawi yang muttafiq dan muftariq sehingga mengangkat kekeliruan pembaca yang mengira bahwa nama tersebut terdiri dari banyak pera
  5. Imam al-Nasā’ī berusaha untuk menyebutkan dan meriwayatkan hadis-hadis sahih dalam kitabnya namun ketika dia tidak mendapatkan yang sahih maka beliau menyebutkan hadis-hadis daif yang para ulama tidak sepakat keda Kadang kala beliau menyebutkan hadis sahih lalu kemudian diikuti dengan hadis daif dikarenakan adanya tambahan lafaz atau matan yang tidak terdapat di dalam hadis sahih, namun tidak lupa untuk menjelaskan hadis yang paling kuat dalam bab tersebut.
  6. Beliau sering sekali mengulangi hadis di berbagai sub-sub dalam kitab seperti yang dilakukan oleh Imam al-Bukhārī. Hal yang menyebabkan demikian dikarenakan banyaknya rincian-rincian bab atau subbab dalam kitab
  7. Beliau sangat memerhatikan tentang penjelasan ‘illah sebuah hadis, sehingga kitabnya memiliki kelebihan atau penjelasan tentang kekeliruan sebagian huffāẓ pada hadis yang tidak didapatkan di kitab-kitab yang lain.
  8. Memberikan perhatikan khusus dalam menjelaskan dan mengkritik sebagian perawi yang daif.
  9. Kadang kala beliau mencantumkan beberapa hadis dalam bab yang keliatan saling bertentangan namun sahih menurut beliau, mengisyaratkan kepada pembaca bahwa dibolehkannya beramal dengan keduanya.
Baca juga:  ṢAḤĪḤ MUSLIM

Syarat, Kedudukan, dan Jumlah Hadis dalam Kitabnya

Syarat yang beliau pegang dalam menuliskan kitabnya telah beliau jelaskan sendiri dan beliau mengatakan, “Ketika saya berazam untuk menuliskan kitab ini saya beristikharah kepada Allah terhadap beberapa perawi yang ada keraguan dalam hati tentang statusnya, lalu kemudian akhirnya aku memilih untuk meninggalkannya, sehingga saya meninggalkan beberapa hadis darinya yang di mana ada illah di dalamnya.”[7]

Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalānī mengatakan bahwa secara umum kitab imam al-Nasā’ī merupakan kitab yang paling sedikit terdapat hadis dan perawi yang daif di dalamnya setelah kitab Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim[8]

Adapun jumlah hadis di dalam kitabnya kurang lebih 5758 atau 5774 atau 5803 hadis, sesuai dengan perhitungan beberapa tahkik dan percetakan yang meriwayatkannya.

Cetakan dan Syarah Kitab

Kitab ini dicetak di berbagai percetakan dan di antara cetakan yang terkenal adalah:

  1. Dār al-Ma’rifah dengan tahkik: Maktab Tahqīq al-Turāts al-Islāmi.
  2. Dār al-Basyāir al-Islāmī dengan tahkik: Syekh Abdul Fattāḥ Abū Guddah di Beirut, tahun 1409 H.
  3. Dār al-Ta’ṣīl di Kairo, cetakan pertama di tahun 1433 H.
  4. Dār al-Ṣiddīq di Saudi Arabia dengan tahkik: Ishām Musa Hādī yang merujuk pada 13 naskah manuskrip dari Sunan al-Nasā’ī.

Adapun syarah kitab ini yang masyhur di antaranya:

  1. Zahru al-Ruba ala al-Mujtaba, karya al-Ḥāfiẓ al-Suyūṭī.
  2. Hāsyiyatu al-Sindi ala Sunan al-Nasā’ī, karya Abū al-Ḥasan Nūrudddīn bin ‘Abdil Hādī al-Sindī.
  3. Ẑakhirāt al-‘Uqba fī Syarhi al-Mujtaba, karya Muḥammad bin ‘Ālī Adam al-Atsyubī, yang merupakan syarah yang lengkap berjumlah 40 jilid.

 

Baca juga:  APA ITU AL-MUWATHTHA?

 


Footnote:

[1] Diterjemahkan dan disadur dari kitab Tadwīn al-Sunnah al-Nabawiyyah karya Prof. Dr. Muḥammad bin Maṭar al-Zahrānī raḥimahullāh dan kitab al-Mu’īn fī Ma’rifah Manāhij al-Muhaddiṡīn karya Dr. Khālid bin Qāsim al-Raddādī raḥimahullāh.

[2] Lihat: Siyār A’lām al-Nubalā’ (14/125) karya Imam al-Ẑahabī.

[3] Siyār A’lam an-Nubalā’  (14/131).

[4] Al Qaul al-Mu’tabar (hal. 21), akan tetapi al-Sakhawī sudah rujuk dari pernyataannya ini sebagaimana yang disebutkan dalam kitabnya, Bughyah al-Ragib al-Mutamannī, yang beliau nisbatkan kepada Imam Nasā’ī.

[5] Lihat: Jāmi’ al-Uṣūl (1/116).

[6] Siyār A’lam al-Nubalā (14/131).

[7] Lihat: Syurūṭ al-Aimmah al-Sittah (h. 104).  

[8] Al-Nukat alā Ibni al-alāḥ (1/484).

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments