SERIGALAPUN KALAH DARINYA

155
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya’. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Q.S. al-Taubah: 24)

عَنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ، وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

Dari Ka’ab bin Mālik al-Anṣārī raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Dua ekor serigala yang lapar kemudian dilepas kepada kawanan kambing, tidak lebih besar kerusakan yang dibuatnya dibandingkan dengan kerusakan pada agama seseorang akibat ambisi terhadap harta dan kehormatan’.”[1]

⁕⁕⁕

Allah subḥānahu wa ta’ālā dengan hikmah-Nya yang agung dan mulia menganjurkan setiap hamba-Nya untuk mengedepankan apa yang kekal dibanding sesuatu yang sementara dan fana. Allah berfirman,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?[2]

Benar, dunia adalah tempat Allah menguji para hamba-Nya, akankah mereka lebih mencintai dunia yang fana atau akhirat yang kekal selamanya.

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Tetapi kamu orang-orang kafir memilih kehidupan dunia, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”[3]

Meskipun demikian, apakah orang yang telah beriman dan memilih akhirat akan selamat begitu saja dalam perjalanannya menuju Allah? Tentu saja tidak. Ada begitu banyak rintangan dan aral yang menghadang jalan setiap mukmin. Rasulullah ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam sebagai imam dan qudwah kita telah memberikan arahan perihal rintangan terberat yang akan kita lalui, yaitu berupa ambisi terhadap harta dan kehormatan.

Rasulullah ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda bahwa dua ekor serigala lapar yang dilepas kepada kawanan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan ambisi akan harta dan kehormatan terhadap agama dan iman kita. Permisalan yang digambarkan ini begitu indah dan istimewa. Al-Thibi rahimaḥullāh menjelaskan bahwa kata “dilepas” memberikan penekanan yang kuat terhadap kerusakan yang akan ditimbulkan oleh dua ekor serigala itu yang sebelumnya ditahan namun telah mengintai kawanan kambing itu. Akan tetapi, ketika dibandingkan dengan ambisi terhadap harta dan kehormatan, kerusakan yang diakibatkannya ternyata lebih dahsyat.[4]

Al-Hafizh Ibnu Rajab raḥimahullāh dalam Majmu’ Rasail 1/64 menyebutkan bahwa ambisi terhadap harta terbagi ke dalam dua macam. Pertama, sangat cinta terhadap harta kekayaan yang diperoleh dengan cara yang mubah. Meskipun dengan cara yang diperbolehkan, namun cinta yang berlebihan terhadap harta akan menghabiskan usia yang telah karuniakan oleh Allah, yang kemudian disia-siakan pada sesuatu yang telah dijamin oleh Allah dan ditentukan kadarnya berupa rezeki yang tidak akan sampai di tangannya kecuali sesuai dengan takdir-Nya. Lantas harta yang telah dikumpulkan akan ditinggalkan pula untuk ahli waris, sedang hisab atas harta yang dimiliki tetap dimintai pertanggungjawabannya padahal manfaat harta itu tak ia rasakan. Tentu hal ini telah cukup menjadi celaan bagi orang yang berambisi terhadap harta. Kedua, sangat cinta terhadap harta kekayaan hingga ia mencarinya melalui jalan yang diharamkan dan menahan hak yang wajib ia berikan kepada orang lain. Allah berfirman,

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”[5]

Adapun ambisi terhadap kehormatan, ia jauh lebih merusak agama seseorang dibanding ambisi terhadap harta. Bukankah seseorang rela mengorbankan hartanya untuk memperoleh kehormatan di dunia dan penghargaan manusia terhadap dirinya? Ambisi terhadap kehormatan dunia juga terbagi menjadi dua jenis. Pertama, mencari kehormatan melalui jabatan, kekuasaan dan harta. Hal ini sangat berbahaya karena dapat menghalangi kebaikan akhirat, kehormatan dan kemuliaannya. Allah Ta’ala berfirman,

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi, dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”[6]

Sangat sedikit yang mendapatkan taufik Allah tatkala seseorang berambisi untuk mendapatkan kekuasaan dan jabatan, melainkan Allah serahkan urusannya kepada dirinya sendiri. Rasulullah ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada ‘Abdurrahman bin Samurah,

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

“Wahai ‘Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kekuasaan, karena jika engkau diberi kekuasaan sebab keinginanmu, kekuasaan itu akan dilimpahkan kepadamu. Namun jika engkau diberi kekuasaan tanpa keinginanmu, engkau akan dibantu oleh Allah dalam kekuasaanmu.”[7]

Kedua, mencari kehormatan dan penghargaan manusia melalui agama, seperti ilmu, amal dan sikap zuhud. Jenis ini tentu jauh lebih buruk dan berbahaya, karena ilmu, amal, zuhud dan semacamnya dari urusan agama hendaknya dilakukan untuk mendapatkan kenikmatan akhirat dan bukan untuk kehormatan dunia. Rasulullah ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ، لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa mencari ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari keridaan Allah, akan tetapi dia mempelajarinya semata-mata untuk mendapatkan bagian di dunia, dia tidak akan mendapatkan bau surga di hari kiamat.”[8]

مَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ العُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

“Barang siapa yang menuntut ilmu untuk mendebat orang yang bodoh atau menandingi para ulama atau mencari perhatian manusia, Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka.”[9]

 


Footnote:

[1] H.R. Ahmad nomor 15794 dan al-Tirmizi nomor 2376, disahihkan oleh Syekh al-Albānī dalam Ṣaḥīhul Jāmi’ Ṣagīr nomor 5620.

[2] Q.S. al-An’ām ayat 32.

[3] Q.S. al-A’lā ayat 16-17.

[4] Syarḥul Misykat 10/3287.

[5] Q.S. al-Tagābun ayat 16.

[6] Q.S. al-Qaṣaṣ ayat 83.

[7] H.R. Bukhari nomor 6622 dan Muslim nomor 1652.

[8] H.R. Ahmad nomor 8457 dan Ibnu Hibban nomor 78, disahihkan oleh Syekh al-Albanī dalam Ta’līqāt Hisān nomor 78.

[9] H.R. al-Tirmizī nomor 2654, dihasankan oleh Syekh al-Albanī dalam Ṣaḥīhul Jāmi’ Ṣagīr nomor 6382.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments