PEMBERI PERINGATAN

428
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرٌ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ

“Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda mukjizat dari Tuhannya?” Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan, dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” (QS. Ar-Ra’d: 7)

عَنْ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ، كَمَثَلِ رَجُلٍ أَتَى قَوْمًا فَقَالَ: يَا قَوْمِ، إِنِّي رَأَيْتُ الجَيْشَ بِعَيْنَيَّ، وَإِنِّي أَنَا النَّذِيرُ العُرْيَانُ، فَالنَّجَاءَ، فَأَطَاعَهُ طَائِفَةٌ مِنْ قَوْمِهِ، فَأَدْلَجُوا، فَانْطَلَقُوا عَلَى مَهَلِهِمْ فَنَجَوْا، وَكَذَّبَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ، فَأَصْبَحُوا مَكَانَهُمْ، فَصَبَّحَهُمُ الجَيْشُ فَأَهْلَكَهُمْ وَاجْتَاحَهُمْ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ أَطَاعَنِي فَاتَّبَعَ مَا جِئْتُ بِهِ، وَمَثَلُ مَنْ عَصَانِي وَكَذَّبَ بِمَا جِئْتُ بِهِ مِنَ الحَقِّ

Dari Abu Musa Al-Asy’ary Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya perumpamaanku dan apa yang Allah utus denganku ibarat seseorang yang mendatangi kaumnya. Maka ia berkata, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah melihat pasukan musuh dengan kedua mataku. Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang telanjang. Lindungilah diri kalian. Maka sebagian kaumnya ada yang patuh kepadanya, mereka keluar dari kampung itu dan mendapatkan keselamatan. Namun sebagian lainnya ada yang mendustakannya dan tetap bertahan di kampung mereka. Lalu pasukan musuh menyerbu dan merusak kampung mereka di pagi harinya. Itulah perumpamaan orang yang mentaatiku dan mengikuti ajaran yang aku bawa, serta perumpamaan orang yang durhaka dan mendustakan kebenaran yang aku bawa.”[1]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan perumpamaan yang lainnya tentang diutusnya beliau sebagai seorang Nabi dan Rasul, serta kebenaran yang beliau bawa untuk seluruh alam.

Dalam hadis ini sangat nampak kecintaan beliau terhadap keselamatan umatnya dari marabahaya yang telah menunggu mereka. Kemudian beliau misalkan dengan pasukan musuh yang siap memporak-porandakan kampung mereka. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan penegasan yang sangat banyak, di antaranya: pertama, lafaz ‘ainai atau kedua mataku yang menunjukkan kepastian akan datangnya marabahaya sebagaimana seseorang melihat pasukan musuh dengan mata kepalanya sendiri. Tak ada keraguan di sana sama sekali. Kedua, lafaz wa inni ana atau “dan sesungguhnya aku.” Ketiga, lafaz pemberi peringatan yang telanjang. Lafaz ini memiliki kisah tersendiri. Disebutkan bahwa maknanya “aku adalah pemberi peringatan akan datangnya pasukan musuh, mereka telah menemukanku dan melucuti pakaianku. Namun aku berhasil melepaskan diri untuk memberi peringatan kepada kalian.” Makna lainnya bahwa dahulu diyakini jika seseorang hendak memperingatkan kaumnya tentang suatu hal yang penting dan harus diwaspadai, maka ia akan menanggalkan pakaiannya, lalu menjadikan pakaian itu sebagai penanda dengan melambai-lambaikannya kepada kaumnya.[2] Hal ini dapat dipahami dari lafaz hadis yang lainnya namun senada dengan hadis di atas.

عَنْ بُرَيْدَةَ الأَسْلَمِيْ قَالَ: خَرَجَ إِلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَنَادَى ثَلَاثَ مِرَارٍ فَقَالَ: أَيُّهَا النَّاسُ تَدْرُونَ مَا مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ ؟ قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ مَثَلُ قَوْمٍ خَافُوا عَدُوًّا يَأْتِيهِمْ، فَبَعَثُوا رَجُلًا يَتَرَاءَى لَهُمْ، فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ أَبْصَرَ الْعَدُوَّ فَأَقْبَلَ لِيُنْذِرَهُمْ، وَخَشِيَ أَنْ يُدْرِكَهُ الْعَدُوُّ قَبْلَ أَنْ يُنْذِرَ قَوْمَهُ، فَأَهْوَى بِثَوْبِهِ: أَيُّهَا النَّاسُ أُتِيتُمْ. أَيُّهَا النَّاسُ أُتِيتُمْ

Dari Buraidah Al-Aslamy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami sembari memanggil para sahabat sebanyak tiga kali lalu bersabda, “Wahai sekalian manusia, tahukah kalian perumpamaanku dan perumpamaan kalian?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau menjelaskan:

“Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan kalian ibarat sekelompok kaum yang khawatir akan serangan musuh. Maka mereka mengutus seorang utusan untuk mengawasi mereka. Di saat itu sang utusan melihat para musuh maka ia segera kembali untuk memperingatkan kaumnya. Karena takut musuh menggapainya sebelum berhasil memperingatkan kaumnya, ia melambaikan tangan dengan pakaiannya dan berkata, “Wahai sekalian manusia, musuh telah datang, wahai sekalian manusia, musuh telah datang, wahai sekalian manusia, musuh telah datang.”[3]

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “lindungilah diri kalian,” menunjukkan bahwa kaumnya tidak akan sanggup melawan pasukan musuh yang akan datang. Maka menyelamatkan diri adalah jalan yang terbaik. Dan benar saja, ketika musuh telah datang di pagi hari, sebagian kaum yang bersikeras untuk tinggal akhirnya kemudian dibinasakan.

Dari perumpamaan ini, sebagian akan beriman di atas kepercayaan dan keyakinan yang mereka yakini dari berita yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka keimanan itu akan menyelamatkan mereka dari marabahaya dunia dan akhirat. Sedangkan sebagian lainnya mendustakan kebenaran ajaran beliau. Pendustaan yang akan melahirkan penyelisihan dan pembangkangan terhadap Islam dan kaum muslimin. Namun hal itu tidak akan lama karena marabahaya yang mendatangi mereka semakin mendekat dan takkan menyisakan sedikit pun dari mereka selain penyesalan.

Footnote:

[1] HR. Bukhari nomor 7283 dan Muslim nomor 2283.

[2] Fathul Bari 11/316-317.

[3] HR. Ahmad nomor 22984.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments