PERMISALAN TENTANG ALIM YANG LUPA DIRI

500
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ. كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah apabila kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. al-Shaff: 2-3)

عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْعَالِمِ الَّذِي يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ ويَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيءُ لِلنَّاسِ ويَحْرِقُ نَفْسَهُ

Dari Jundub bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Permisalan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia sedang dia melupakan dirinya sendiri, ibarat lentera yang menerangi manusia tapi membakar dirinya sendiri.”[1]

⁕⁕⁕

Ilmu adalah harta tak ternilai. Sebelum Allah memerintahkan malaikat-Nya untuk sujud sebagai penghormatan kepada Adam ‘alaihissalam, maka Dia terlebih dahulu mengajarkan kepadanya nama-nama benda seluruhnya. Allah berfirman,

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan Dia Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama benda seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.”[2]

Ilmu adalah bekal dalam mengarungi kehidupan. Allah subhanahu wa ta’ala mengajarkannya melalui firman pertama yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”[3]

Ilmu pula yang menjadi warisan para nabi Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi, dan mereka tidak mewariskan dinar maupun dirham melainkan ilmu, maka barang siapa yang mengambil ilmu itu sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak.”[4]

Islam sebagai ajaran yang sempurna dan paripurna mengajarkan pemeluknya untuk tidak lalai dari esensi sebuah karunia. Karunia apapun itu yang datangnya dari Allah. Ilmu pengetahuan sebagai karunia terbesar tentu saja mendapatkan perhatian yang terbanyak dari agama ini, dan esensi dari ilmu pengetahuan adalah pengamalan ilmu itu sendiri.

Imam Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahih-nya mengangkat sebuah bab khusus yang berjudul, Bab Berilmu Sebelum Berkata dan Berbuat.[5] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan dosa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.”[6]

Al-Junaid Al-Baghdadi rahimahullah berkata, “Ilmu diturunkan untuk diamalkan. Jika tidak, maka kebinasaan adalah tempat kembalinya. Sungguh dunia ini memiliki dua tirani: tirani ilmu dan tirani harta. Maka jalan keselamatan dari tirani ilmu adalah beramal, sedang jalan keselamatan dari tirani harta adalah zuhud.”[7]

Ketahuilah, bahwa lalai dari pengamalan ilmu yang dimiliki adalah pangkal kebinasaan seseorang. Namun, lebih parah dari itu adalah orang yang sibuk mengajarkan ilmunya kepada manusia sedang dia sendiri lalai darinya.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ. كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah apabila kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”[8]

Ibaratnya sebuah lentera atau lilin yang menerangi manusia namun dia telah membakar dirinya sendiri. Dia memberikan manfaat kepada umat manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat, namun dia sendiri menanggung kerugian terbesar dunia dan akhirat sebab telah menyelisihi esensi ilmu yang dia ajarkan, dan inilah sifat orang Yahudi yang dibenci oleh Allah sebagaimana firman-Nya,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu suruh orang lain untuk mengerjakan kebaikan sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”[9]

Olehnya, ulama terbagi menjadi 3 kelompok: Pertama, ulama yang menyelamatkan diri dan umat manusia dari fitnah dunia; Kedua, ulama yang membinasakan diri dan umat manusia ke dalam fitnah dunia; Ketiga, ulama yang menyelamatkan umat manusia dengan kebinasaan dirinya sendiri. Maka berdirilah bersama kelompok yang pertama dengan mengejawantahkan ilmu, amal, dan dakwah fisabilillah.

 


Footnote:

[1] HR. al-Thabrani nomor 1681, disahihkan Syekh al-Albani dalam Shahih Jami’ Shagir nomor 5831.

[2] QS. al-Baqarah ayat 31.

[3] QS. al-‘Alaq ayat 1-5.

[4] HR. al-Tirmidzy nomor 2682, disahihkan Syekh al-Albani dalam Shahih Jami’ Shagir nomor 6297.

[5] Shahih Bukhari 1/24.

[6] QS. Muhammad ayat 19.

[7] Faidhul Qadir 1/405.

[8] QS. al-Shaff ayat 2-3.

[9] QS. Al-Baqarah ayat 44.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments