KAUM MUKMININ BAGAIKAN SATU TUBUH

246
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

REDAKSI HADIS:

عن النُّعْمَان بْن بَشِيرٍ رضي الله عنهما قال: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَرَى الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Dari Nu’mān bin Basyīr raḍiyallāhu ‘anhumā, ia berkata, “Rasulullah ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Kamu melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang mengeluh karena sakit, seluruh tubuhnya akan ikut begadang (tidak bisa tidur) dan demam (turut merasakan sakitnya)’.”

TAKHRIJ HADIS:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhārī dalam kitabnya, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, kitab al-Adab, Bab “Rahmat kepada Manusia dan Hewan,” nomor 6011 dan Imam Muslim dalam kitabnya, Ṣaḥīḥ Muslim, kitab al-Birr wa al-Shilah wa al-Adab, Bab “Kaum Mukminin Saling Mengasihi, Mencintai dan Menguatkan,” nomor 2586.

BIOGRAFI PERAWI HADIS(1):

Nama lengkap beliau adalah Nu’mān bin Basyīr bin Sa’ad bin Tsa’labah al-Khazrajī al-Anṣārī. Kuniyah-nya adalah Abu Abdullah, ada juga yang mengatakan Abu Muhammad. Ayah beliau adalah Basyīr bin Sa’ad raḍiyallāhu ‘anhu, juga salah seorang sahabat mulia. Nu’mān dilahirkan pada tahun kedua hijriah, oleh karenanya beliau termasuk kategori sahabat junior. Nu’mān dikenal sebagai seorang sahabat yang alim, khatib yang piawai dan penyair. Beliau ikut dalam perang Ṣiffīn bersama Muawiyah raḍiyallāhu ‘anhu dan termasuk salah seorang amirnya pada saat itu. Muawiyah raḍiyallāhu ‘anhu pernah menugaskan Nu’mān sebagai pemimpin di Kufah kemudian menjadi kadi di Damaskus lalu menjadi amir di Himṣ (Homs) hingga pemerintahan khilafah Yazid. Ketika Yazid mangkat, Nu’mān mengajak penduduk Himṣ membaiat Abdullāh bin al-Zubair raḍiyallāhu ‘anhumā akan tetapi penduduk Himṣ enggan dan menyelisihi ajakannya bahkan membunuhnya di tahun 64 H, raḍiyallāhu ‘anhu.

FAEDAH DAN KESIMPULAN:

1.  Disyariatkannya membuat permisalan untuk memberikan pandangan yang utuh terhadap sesuatu dan memudahkan pemahaman.

2.  Permisalan yang baik adalah memisalkan sesuatu dengan sesuatu yang diketahui dan dikenal dengan baik terkait sifat dan cirinya oleh manusia secara umum sebagaimana permisalan yang disebutkan dalam hadis ini.

3.   Ciri mukmin yang dimaksud dalam hadis ini adalah mukmin yang sempurna keimanannya.

4.  Sesama orang beriman sejatinya melakukan minimal tiga hal yaitu saling mengasihi, mencintai dan menyayangi.

5.  Perbedaan dari ketiga hal ini adalah orang beriman saling mengasihi di antara mereka yang didasari oleh ukhuwah iman dan bukan yang lainnya, saling mencintai adalah dengan melakukan hal-hal yang bisa mewujudkan mahabah di antara mereka seperti saling menghadiahkan dan berziarah, sedangkan saling menyayangi adalah dengan cara saling membantu dan melindungi di antara mereka.

6.  Orang yang mukmin yang baik adalah yang ikut merasakan kesulitan dan penderitaan yang dirasakan oleh saudara-saudaranya lalu dia berusaha untuk bangkit dan bergerak menyelesaikan persoalan dan kesulitan saudaranya tersebut.

7. Inilah gambaran orang-orang yang beriman yang seharusnya disaksikan di antara mereka sebagaimana sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam, bukan justru sebaliknya, wallāhul musta’ān wa huwa waliyyut tawfīq.

 


Footnote:

(1) Lihat: al-Istī’āb fī Ma’rifah al-Ashāb karya Ibn Abdilbār (4/1496), Usdu al-Gābah karya Ibn al-Atsir (5/310), dan al-Iṣābah fi Tamyīz al-ahābah karya Ibnu Hajar (6/346).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments