RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM DAN PARA NABI

210
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui.” Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (Surah Ali-‘Imran: 81)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي، كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ، إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ، وَيَعْجَبُونَ لَهُ، وَيَقُولُونَ هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ ؟ قَالَ: فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Permisalan Aku dan para nabi sebelumku, ibarat seseorang yang membangun sebuah rumah yang baik dan indah namun menyisakan satu bata dari sebuah sisinya. Manusia mengelilinginya dengan perasaan takjub kepadanya dan berkata, ‘Seandainya satu bata ini diletakkan pada tempatnya’.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Akulah bata tersebut, dan aku adalah penutup para Nabi Allah Subhanahu wa Ta’ala’.”1

⁕⁕⁕ 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ

“Manusia itu adalah umat yang satu. Setelah timbul perselisihan maka Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” 2

Hadis di atas mengandung gambaran tentang kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antara para nabi Allah terdahulu. Perumpamaan yang beliau berikan tersebut dipahami oleh para ulama melalui berbagai macam pandangan yang berbeda.

Ibnul Jauzy rahimahullah menjelaskan bahwa permulaan syariat yang dibawa oleh para nabi Allah terdahulu lebih mengedepankan kemudahan dan keringanan atas umat manusia. Tidak akan didapati pembebanan yang berat dalam syariat Nabi Nuh, Hud, Shalih, dan Ibrahim ‘alaihimussalam. Sedangkan syariat Musa dan ‘Isa ‘alaihimassalam yang datang setelah mereka, turun dengan pembebanan atas Bani Israil, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus dengan membawa syariat Islam yang seimbang dengan berbagai keutamaan yang belum pernah diperoleh oleh umat sebelumnya.3

Ibnu Hubairah rahimahullah juga menyebutkan bahwa diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertujuan untuk menyempurnakan syariat-syariat yang telah Allah turunkan kepada umat manusia. Namun, perumpamaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara lahir (zhahir) sebagai sebuah batu ini tidak menunjukan rendahnya kedudukan beliau dibandingkan nabi-nabi yang sebelumnya, tetapi hendaknya dipahami secara maknawi bahwa bangunan itu tidak akan sempurna kecuali sebuah bata melengkapi kekurangan yang ada.4

Berbeda halnya dengan al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah yang mengambil sudut pandang lainnya dalam mengomentari ‘perendahan’ kedudukan yang dapat dipahami oleh seseorang dari hadis di atas. Beliau menjelaskan bahwa para nabi terdahulu bukanlah ibarat sebuah bangunan, melainkan mereka ibarat orang yang membangun bangunan tersebut. 

Langkah demi langkah dimulai dengan fondasi, tiang, dinding, bahkan perabotan serta kebutuhan rumah tanggapun telah diletakkan pada tempatnya melalui syariat yang Allah turunkan kepada masing-masing nabi, di mana setiap syariat untuk umatnya adalah manhaj dan pedoman hidup yang sempurna dan paripurna. Di dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

…فَجَعَلَ النَّاسُ يَدْخُلُونَهَا وَيَتَعَجَّبُونَ…

“…maka manusia memasuki rumah tersebut dan merasa takjub kepadanya…” 5

Ibnu Hajar melanjutkan bahwa jika dilihat secara keseluruhan maka rumah tersebut belum sempurna dengan terdapatnya lubang pada dindingnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi orang yang menutup kekurangan tersebut melalui syariat yang beliau bawa untuk semesta alam secara keseluruhan sekaligus sebagai penutup para nabi dan rasul Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.”   

Dari permisalan ini, dapat diambil pelajaran berharga bahwa sebuah lubah kecil pada dinding seiring bergantinya musim dan zaman, sudah cukup untuk menghancurkan bangunan itu secara keseluruhan. Demikian halnya setiap amalan, maka jangan pernah meninggalkan ‘lubang’ sekecil apapun untuk dimasuki oleh setan guna menggerogoti dan menghancurkan bangunan amal dan pundi-pundi kebajikan yang telah kita kumpulkan selama ini, karena setiap amalan tergantung pada bagian akhirnya, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

image_pdfUnduh PDF

Footnote:

  1. HR. Bukhari nomor 3535 dan Muslim nomor 2286.
  2. QS. Al-Baqarah ayat 213.
  3. Kasyful Musykil 3/46.
  4. Al-Ifshah 6/407.
  5. HR. Bukhari nomor 3534.
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments