MENERIMA HADIAH DAN MENGHADIAHKANNYA KEPADA ORANG LAIN

175
MENERIMA HADIAH DAN MENGHADIAHKANNYA KEPADA ORANG LAIN
Perkiraan waktu baca: 2 menit

REDAKSI HADIS:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه قَالَ: جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبُرْدَةٍ، فَقَالَ سَهْلٌ لِلْقَوْمِ: أَتَدْرُونَ مَا الْبُرْدَةُ؟ فَقَالَ الْقَوْمُ: هِيَ شَمْلَةٌ. فَقَالَ سَهْلٌ: هِيَ شَمْلَةٌ مَنْسُوجَةٌ فِيهَا حَاشِيَتُهَا، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَكْسُوكَ هَذِهِ؟ فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْتَاجًا إِلَيْهَا فَلَبِسَهَا، فَرَآهَا عَلَيْهِ رَجُلٌ مِنْ الصَّحَابَةِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَحْسَنَ هَذِهِ فَاكْسُنِيهَا. فَقَالَ: نَعَمْ. فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَامَهُ أَصْحَابُهُ، قَالُوا: مَا أَحْسَنْتَ حِينَ رَأَيْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَهَا مُحْتَاجًا إِلَيْهَا، ثُمَّ سَأَلْتَهُ إِيَّاهَا، وَقَدْ عَرَفْتَ أَنَّهُ لَا يُسْأَلُ شَيْئًا فَيَمْنَعَهُ. فَقَالَ: رَجَوْتُ بَرَكَتَهَا حِينَ لَبِسَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لَعَلِّي أُكَفَّنُ فِيهَا

Dari Sahl bin Sa’ad raḍiyallāhu ‘anhu, dia berkata, “Seorang wanita datang kepada Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan membawa selimut hitam bersulam.” Sahl bertanya, “Apa kalian tahu selimut apakah itu?” Mereka menjawab, “Ya, ia adalah mantel.” Sahl berkata, “Ia adalah mantel hitam bersulam bagian tepinya (ada semacam rendanya).” Lalu wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, aku membawanya untuk mengenakannya pada Anda.” Lalu Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengambilnya karena beliau sangat memerlukannya. Kemudian beliau mengenakan mantel tersebut. Salah seorang dari sahabat melihat beliau mengenakan mantel itu lalu berkata, “Alangkah bagusnya selimut ini, kenakanlah untukku wahai Rasulullah!” Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya.” Ketika Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam beranjak pergi, orang-orang pun mencela sahabat tersebut sambil berkata, “Demi Allah, kau berlaku kurang ajar. Kamu tahu, Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam diberi selimut itu saat beliau memerlukannya, sementara kau memintanya, padahal kau tahu bahwa beliau tidak pernah menolak seorang peminta pun.” Sahabat itu berkata, “Aku hanya mengharap keberkahannya ketika Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengenakannya, semoga kain itu menjadi kafanku pada saat aku meninggal dunia.”

Baca juga:  BERSIKAP LEMBUT DALAM MELURUSKAN KEBATILAN

TAKHRIJ HADIS:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhārī dalam kitabnya, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, kitab al-Adab, Bab “Akhlak yang Baik dan Kedermawanan”, nomor 6036.

BIOGRAFI SAHABAT PERAWI HADIS(1):

Nama lengkap beliau adalah Sahl bin Sa’ad bin Mālik bin Khālid bin Ṡa’labah bin Hāriṡah al-Anṣārī al-Khazrajī al-Sā’idi. Kuniyah beliau adalah Abu al-Abbās. Sebelumnya, beliau bernama Ḥuzn/Ḥazan (sedih) lalu Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengubah namanya menjadi Sahl (mudah). Ketika Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam wafat, Sahl baru berusia lima belas tahun. Sahl wafat pada tahun 88 H dalam usia 96 tahun. Ada juga yang mengatakan bahwa beliau wafat pada tahun 91 H dalam usia 100 tahun. Sebagian ulama menyebutkan bahwa beliau adalah sahabat Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang terakhir wafat di kota Madinah.

FAEDAH DAN KESIMPULAN:

  1. Keutamaan wanita ini yang telah menghadiahkan Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sesuatu yang beliau perlukan. Ibnu Hajar raḥimahullāh mengatakan bahwa beliau tidak mendapatkan riwayat yang menjelaskan nama dari wanita tersebut(2).
  2. Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mencontohkan dan mengajarkan kepada kita sunah menerima hadiah dan tidak menolaknya, apatah lagi jika hadiah tersebut sesuatu yang kita butuhkan.
  3. Anjuran mengenakan dan memanfaatkan hadiah.
  4. Bolehnya memuji pakaian yang dikenakan oleh saudara kita.
  5. Bolehnya menghadiahkan kepada orang lain hadiah yang kita dapatkan dari saudara kita.
  6. Sifat pemurah dan kedermawanan yang luar biasa dari Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dimana beliau tidak pernah menolak permintaan dari sahabatnya bahkan walaupun sesuatu yang diminta itu juga beliau butuhkan.
  7. Perlunya menasihati saudara kita yang menyampaikan perkataan atau melakukan perbuatan kurang beradab kepada ulama dan orang yang mulia.
  8. Sifat kedermawanan Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sudah menjadi rahasia umum yang dikenal di kalangan sahabat beliau.
  9. Besarnya kecintaan para sahabat kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam di antaranya yang ditunjukkan oleh sahabat ini yang menginginkan untuk memakai pakaian yang telah dikenakan oleh Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Menurut Imam Muhib al-Ṭabarī, sahabat yang meminta ini adalah Abdurraḥmān bin ‘Auf raḍiyallāhu ‘anhu(3), wallāhu a’lam.
  10. Hadis ini juga memberi pelajaran kepada kita untuk selalu mengingat kematian di antaranya dengan menyiapkan kain kafan semasa hidup kita(4).
Baca juga:  HADIS ZIKIR PENGUSIR AMARAH

 

 


Footnote:

(1) Lihat: al-Istī’āb karya Ibn ‘Abdilbarr (2/664), Usdu al-Gābah karya Ibn al-Aṡīr (2/575), dan al-Iṣābah karya Ibnu Hajar (3/ 167).

(2) Lihat: Fatḥu al-Bāri (3/143).

(3) Lihat: Irsyād al-Sāri karya al-Qasṭalānī (9/33).

(4) Lihat: Syarḥu Ṣaḥīḥ al-Bukhā karya Ibn Baṭṭāl (3/267).

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments