IMAN TAK AKAN SEMPURNA HINGGA…

245
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

Nabi mengajarkan kepada umat ini sebuah prinsip dalam kehidupan bermasyarakat dalam sebuah hadis yang begitu populer. Mungkin sudah banyak di antara kita yang menghapalkan redaksinya, namun mungkin hanya sedikit yang mampu mengamalkannya.

عَنْ أَبِيْ حَمْزَة أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ عَن النبي ﷺ قَالَ: لاَ يُؤمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ. رواه البخاري ومسلم

“Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu (pelayan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam) dari Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, ‘Tidak beriman seseorang di antara kamu hingga dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai bagi dirinya sendiri.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dengan lafaz sebagai berikut:

لَا يَبْلُغُ عَبْدٌ حَقِيقَةَ الْإِيمَانِ حَتَّى يُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ

“Seorang hamba tidak akan sampai pada hakikat iman hingga dia menyukai kebaikan bagi semua orang seperti yang dia sukai bagi dirinya sendiri.”[1]

Lafaz ini menunjukkan bahwa maksud dari lafaz ‘tidak beriman’ dalam hadis Anas bin Malik di atas adalah tidak sempurna imannya.

Hadis ini menganjurkan kaum muslimin untuk mencintai sesamanya. Kecintaan itu terbagi menjadi dua macam:

  1. Mencintai kaum muslimin tanpa disertai keinginan agar mereka mendapatkan kebaikan sebagaimana diri sendiri mendapatkan kebaikan. Hal ini direalisasikan dalam bentuk loyalitas dan cinta kepada umat Islam, memiliki keberpihakan kepada umat. Perasaan itu adalah sebuah ibadah yang diganjar pahala oleh Allah karena ia adalah amalan hati.
  2. Mencintai kaum muslimin disertai keinginan agar mereka mendapatkan kebaikan sebagaimana diri sendiri mendapatkan kebaikan. Dengan inilah seorang muslim mencapai derajat iman yang sempurna. Ini ditandai dengan hati yang senantiasa bersih terhadap umat Islam. Tidak ada noda dengki, hasad, dendam, makar, dan penyakit keburukan lain kepada seorang pun dari kaum muslimin di dalam hatinya. Orang yang sudah mencapai derajat ini akan senang jika kaum muslimin mendapat kemudahan dan kemenangan sebagaimana dia bahagia jika dia dimudahkan. Derajat ini bukan derajat yang mudah untuk dicapai. Sudah menjadi tabiat seorang manusia menyukai dirinya menjadi yang terbaik atau lebih baik dari orang lain. Ketika dia menyukai sesuatu untuk saudaranya sebagaimana dia menyukainya untuk diri sendiri maka ini akan berkonsekuensi dia harus menyukai saudaranya menjadi yang terbaik atau lebih baik dari pada dirinya sendiri.[2] Ini bukanlah sesuatu yang mudah namun bukan pula hal yang mustahil. Buktinya sang baginda shallallāhu ‘alaihi wa sallam menganjurkannya.

Berdasarkan konteks hadis ini dipahami bahwa muslim yang sempurna imannya adalah seorang muslim yang membenci bagi saudaranya apa yang dia tidak sukai bagi dirinya sendiri. Jika kaum muslimin di manapun ditimpa musibah atau kesulitan, maka dia bersedih dan mencari cara untuk berkontribusi meringankan kesulitan itu tanpa dibatasi wilayah teritorial. Dalam praktik kehidupan bermasyarakat kita dapati banyak elemen muslimin yang secara suka rela turun ke lokasi bencana untuk menyalurkan bantuan harta dan tenaga. Ini adalah bukti kecintaan mereka kepada kaum muslimin dikarenakan ikatan persaudaraan yang disatukan oleh Allah dalam lingkar keimanan. Allah berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara….” (Al-Hujurat/49: 10)

Al-Nu’mān bin Basyīr radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya), “Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).”[3]

Salah satu bentuk rasa cinta yang disebutkan dalam hadis ini adalah mencintai kesalehan bagi seluruh kaum muslimin. Apabila seorang muslim mendapati saudaranya terjatuh dalam kemaksiatan dan kemungkaran maka hendaknya dia berusaha mengubahnya, baik dengan nasihat yang bijak, teguran yang santun, atau hanya sekedar harapan baik yang dipanjatkan di sepertiga malam terakhir.

Diriwayatkan bahwa Fudhail berkata, “Jika kamu menyukai orang-orang sama denganmu maka kamu belum menunaikan nasihat bagi saudaramu. Bagaimana lagi jika kamu menyukai mereka berada di bawahmu?”[4]

Ibnu Rajab menjelaskan maksud riwayat dari Fudhail di atas. Fudhail mengisyaratkan bahwa menunaikan nasihat bagi saudara seiman adalah dengan cara menyukai mereka menjadi berada di atas diri sendiri. Namun ini bukan kadar wajib. Yang wajib adalah menyukai kebaikan untuk mereka sebagaimana dia menyukai kebaikan untuk dirinya sendiri.[5]

 


Footnote:

[1] HR. Ibnu Hibbān (235).

[2] Lihat perkataan Abu Zinad dalam Syarh al-Arba’īn Al-Nawawiyah yang dinisbatkan kepada Ibnu Daqīq al-Īd hal. 77.

[3] HR. Bukhari (5552) dan Muslim (2586)

[4] Jāmi al-Ūlūm wa al-Hikam hal. 275.

[5] Lihat: Jāmi al-Ūlūm wa al-Hikam hal. 275-276

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments